Suzuki Swift, hatchback subkompak yang memulai debut dengan tampilan dua pintu (coupe) pada tahun 1986 bermesin 1.0 Liter, terus menyempurnakan diri. Dua puluh tahun berlalu, kini Swift muncul dengan mesin yang kapasitasnya lebih besar, 1.5 Liter.
Seperti juga versi built up-nya, tenaga yang memadai dan kabin yang senyap (hening) itu kesan utama yang didapat saat menjajal Swift ST dan GT versi rakitan lokal, 26-27 September lalu, dalam perjalanan dari Jakarta-Garut pergi pulang.
Saat berangkat, Kompas yang mendapat varian Swift ST matic menempuh kemacetan dengan santai karena tidak harus mengoper gigi persneling di Tol Jakarta-Cikampek hingga Kilometer 30 di sekitar Cikarang.
Selepas kemacetan, barulah Swift ST yang berpersneling otomatik itu dibesut. Kecepatan 80 kilometer per jam dapat dicapai dengan mudah. Demikian pula ketika kecepatan ditingkatkan lagi menjadi 120 kilometer per jam.
Swift ST matic dilengkapi dengan posisi (angka) 2 yang difungsikan untuk membantu mengurangi laju kendaraan pada melaju di lereng yang menurun tajam.
Namun, pada saat melaju dengan kecepatan di atas 140 kilometer per jam, mobil terasa agak berguncang. Suspensi sedikit lebih keras daripada Swift versi built up. Pihak Suzuki Indonesia mengungkapkan, memang ada penyesuaian rangka rakitan lokal yang didesain para ahli Jepang untuk mengantisipasi kondisi jalan di Indonesia yang belum mulus.
Saat mengendarai Swift yang menggunakan persneling manual, pengendaraan menjadi lebih dinamis karena akselerasi bisa disesuaikan dengan keinginan pengendara. Saat melintasi tanjakan Ciloto, Kabupaten Cianjur, hingga Puncak Pass, kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam dengan gigi persneling berada pada posisi gigi tiga. Lagi-lagi meski putaran mesin tinggi, suara di dalam kabin tetap senyap.
Konsumsi bahan bakar pun relatif hemat. Setelah menempuh jarak Garut-Bogor, konsumsi bahan bakar tidak mencapai setengah tangki yang berkapasitas 43 liter.
Untuk memiliki sedan ini diperlukan kesabaran karena meski sudah dirakit lokal sejak Oktober 2007, daftar inden di Jabodetabek sudah mencapai satu bulan. Sedangkan kapasitas produksi Swift lokal diperkirakan mencapai 500-1.000 unit per bulan.
Swift memasuki segmen hatchback subkompak yang juga ditempati oleh Honda Jazz, Toyota Yaris, dan KIA Pride. Swift mengusung citra Suzuki yang mampu dijadikan sebagai mobil rakyat, seperti dilakukan di India melalui merek Maruti.
Yang jelas, karena dirakit di dalam negeri, harga jual Suzuki Swift turun dari angka di atas Rp 150 juta menjadi Rp 126,5 juta (yang menggunakan persneling manual) dan Rp 137,5 (yang menggunakan persneling otomatik). Jauh lebih rendah dibandingkan dengan kedua pesaing yang mematok harga di atas Rp 150 juta.
Swift varian lokal juga memiliki pelbagai varian yang dapat dikembangkan sebagai kendaraan kompetisi.
Mendobrak pasar Eropa
Tak hanya menerobos pasar Indonesia, keberadaan Swift sudah lebih dahulu kukuh di pasar Eropa yang sangat kritis soal emisi dan keselamatan penumpang atas sebuah produk otomotif baru.
Swift termasuk salah satu mobil Jepang yang peluncuran perdananya dilakukan di Eropa. Suzuki Swift baru menggebrak pasar Eropa lewat Cristiano Ronaldo yang menjadi bintang promosi pada tahun 2005. Di Indonesia, Swift juga dijual dalam varian dua pintu.
Sejumlah merek, seperti Peugeot 206, Opel Corsa, dan Fiat Punto, adalah pesaing Swift di Eropa. Swift di Eropa dirakit di Hongaria yang baru saja memasuki Uni Eropa.
Hatchback subkompak dari Suzuki itu memiliki sosok klasik, seperti New Mini Cooper produksi Inggris. Yang menarik, varian sport Suzuki Swift berdapur pacu 1.600 cc memiliki kemampuan di atas New Mini Cooper dan mampu mencapai kecepatan 200 kilometer per jam!
Suzuki Swift dirancang sebagai sedan serba bisa. Medan rally junior World Rally Championship (WRC) hingga kendaraan anak muda atau pun ibu rumah tangga di Indonesia dirambah Suzuki Swift. (Iwan Santosa)