"Cause you had a bad day/ you’re taking one down/ You sing a sad song just to turn it around/ You say you don’t know, you tell me don’t lie/ You work on a smile and you go for a ride/ You had a bad day .....
Hai KOKIERS, banyak senyum hari ini ya, ’kan sudah akhir pekan, hehe. Sayangnya, dalam perjalanan pulang dari kantor semalam lagu "Bad Day" Daniel Powter, terpaksa diputar, karena kemarin betul-betul hari buruk. Anda bisa ikut mendengar lagunya di http://www.artistdirect.com/nad/store/artist/album/0,,3429183,00.html
klik: listen/watch, kemudian klik: Bad Day pada pilihan featured songs. Mudah-mudahan koneksi internet Anda oke ya.
Maaf, kemarin Koki enggak muncul. Hah, rapat seharian memang melelahkan, mungkin lebih baik "dihukum" menulis 10 edisi Koki sekaligus ketimbang duduk berjam-jam di ruangan rapat itu, hehe, enggak ding, cuma bercanda, soriii ya Boss! Belum lagi hal-hal lain yang mengganjal di kepala, antara lain masalah plagiarisme di KoKi!! dan keberadaan weblog http://www.kolomkita.com yang diluncurkan oleh "KokiMan".
Kemarin, saya terpaksa mencabut satu artikel berjudul "Poliandri" (sempat ditayangkan beberapa jam) yang ditulis oleh DM-Yogyakarta, yang ternyata mengutip mentah-mentah tulisan Vida di Singapura.
Plagiarisme di KoKi!! (Poliandri)
(Vida-Singapura)
Halo Zev, ini pertama kalinya saya menulis surat ke KoKi walaupun bisa dibilang saya membaca dan mengikuti Koki dari "hari pertama kelahirannya". Sayangnya saat saya membaca rubrik KoKi tertanggal 1 November kemarin ini, saya kaget luar biasa karena ada orang yang tega-teganya melakukan plagiarisme terhadap tulisan saya. Surat yang ditulis oleh DM di Jogja jelas-jelas merupakan jiplakan dari tulisan saya yang aslinya diposting di milis apakabar tertanggal 14 September 2006. Karena postingan tersebut mendapat tanggapan yang cukup banyak, saya posting ulang di blog saya pada tanggal 16 September 2006 dengan judul "Perkenalkan, Ini Suami..-Suami Saya". (Artikel ini sampai sekarang masih bisa diakses di alamat http://www.bebekrewel.com/polyandri/)
Saya juga pernah memposting artikel tersebut di milis mediacare tertanggal 2 Oktober 2006 dengan judul (Selingan ringan) Perkenalkan, Ini Suami…-Suami saya… Terus terang saya sangat marah karena jelas-jelas Sdr DM menjiplak habis-habisan dan mengakui bahwa tulisan tersebut adalah hasil pemikirannya sendiri. Sdr DM bukan lagi mengutip pemikiran saya dan mengakuinya sebagai hasil pemikiran dia sendiri, tapi jelas-jelas MENCURI tulisan saya! Entah apa maksud dari Sdr DM untuk melakukan hal ini. Kalau memang berniat untuk membuka diskusi tentang poligami/poliandri, hendaklah Sdr DM menulis buah pemikirannya sendiri dan dengan argumennya sendiri.Bukan MENCURI pemikiran orang lain!! Mungkin hal ini adalah hal yang sangat sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Saya harap Sdr DM mau mengaku dan mengklarifikasi tindakan plagiarisme yang tidak terpuji ini. (Sorry Zev kalau saya mungkin agak meledak-ledak, tapi saya asli marah banget!! )
(Mudah-mudahan kasus seperti itu tidak terulang lagi di Kolom KITA, dan pesan dari Vida saya rasa cukup jelas untuk dipahami, dan dilaksanakan oleh para penulis KoKi --zev )
Yeap, berikutnya, tentang keberadaan http://www.kolomkita.com/ yang cukup ramai diperbincangkan KOKIERS beberapa hari ini. Apakah sebagai penggagas, sekaligus pengasuh KoKi, saya berkeberatan dengan keberadaan weblog tersebut? Hmm, agaknya saya didesak-desak untuk memberikan jawaban ya, tersirat dari tulisan Kokiman di weblog tersebut, "Mengapa engkau diam seribu bahasa Zev?". "Zev, berbicaralah, spy para pembaca KoKi tidak sibuk sendiri menerka-nerka arti diammu itu," lanjut salah seorang pembaca Koki yang terlibat dalam diskusi di forum itu.
Seandainya berhadapan langsung, ingin rasanya kembali bertanya, "Bagaimana aku bisa menjawab jika seribu pertanyaan muncul di kepalaku?" Pernahkan, pada saat bersamaan, Anda merasakan, tersanjung sekaligus terhempas! Tersanjung dengan "kado" weblog yang mengejutkan, dan terhempas kenyataan bahwa saya tak mengenalnya. Benarkah dia benar-benar tulus memberi? Akankah kita merangkulnya atau melupakannya? Mengapa ketika merangkulnya ada perasaan tidak nyaman, namun di sisi lain sulit menafikan usaha kerasnya? Yakinkah di kemudian hari weblog itu tidak disalahgunakan, dan merugikan Kompas Cyber Media -- institusi tempat saya bernaung? Sejujurnya, saya tak bisa menjangkau Kokiman, juga KOKIERS di seluruh dunia untuk berdiskusi lebih mendalam, sehingga bisa memberikan jawaban yang tidak memojokkan seseorang, atau seolah tak peduli keinginan KOKIERS yang terhibur dengan kehadiran weblog itu (84 persen peserta angket mendukung dengan alasan membaca KoKi jadi lebih nyaman, dan bisa dengan mudah mencari arsip Koki).
Penuh dilema memang, dan saya yakin kalimat-kalimat saya tak cukup jelas dipahami kemana arahnya. Kokiman mengatakan, "Suara Anda sangat berharga di sini, karena bisa dibilang mewakili 50% dari seluruh pembaca KoKi" Yakinlah, kali ini saya tidak punya jawaban pasti! Akankah weblog itu diteruskan atau ditutup? Apakah ketika saya mengatakan "Tutup saja!", itu akan dilakukan? Saya hanya berharap, kita jujur pada hati nurani, dan silakan mengambil keputusan sendiri. Satu hal, saya sedikit menyesal, dan bertanya, mengapa bukan saya atau KCM yang memberikan "kado" itu untuk pembaca? Tentu, tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, mudah-mudahan keinginan itu segera terwujud ... God Bless KOLOM KITA! God Bless KOMPAS COMMUNITY! God Bless Indonesia!
Ok, selanjutnya kita akhiri kontroversi weblog, dan cerita hari ini tentang romantika kehidupan masyarakat perkotaan, tanah harapan, dan urbanisasi, serta sejumlah harapan indah yang digantungkan. Yeah, harapan, seperti Mohamad Sobary bilang, harapan biasanya ditaruh di depan, di tempat paling muluk dalam ruang psikologi pribadi maupun sosial, dan mudah-mudahan tak ada kekecewaan menyusul sesudahnya, ketika, pada akhirnya, anyaman bagus-bagus tentang apa yang dibayangkan, dan semua impian indah ternyata tercampak di batu karang yang gersang, getir, sumpek, dan gelap. Selamat membaca ....
******************
Tanggapan Kokiman
(Arie Kamili)
Saya ingin menanggapi mengenai KolomKita.com. Saya menghargai keikhlasan dan kerja keras Kokiman dalam membuat KolomKita.com. Tapi saya rasa hak dan tanggung jawab pengelolaan website tersebut lebih baik diserahkan kepada Kompas sebagai pemilik Kolom Kita. Tanpa merendahkan usaha Zev, tanpa Kompas.com tidak akan ada Kolom Kita, karena saya rasa kebanyakan pengunjung (traffic) yang masuk ke Kolom Kita melalui adalah pengunjung Kompas.com.
Saya bukan maksud berpikir negative terhadap bung Kokiman. Kokiman dapat berkata bahwa ia tak akan mengkomersialkan website tersebut sekarang, tapi nanti kalau traffic pengunjung sudah banyak dan ada tawaran pemasang iklan (yang tentu senang dengan traffic yg tinggi) siapa yang mampu menolak rejeki kayak gitu? Mungkin juga pembaca Kolom Kita nantinya langsung masuk ke website kolomkita.com tanpa melalui kompas.com, tentu ini merugikan Kompas yang kehilangan traffic pengunjung di websitenya. Dan kalau sudah begini, pasti akan timbul masalah antara kokiman dan kompas, saling tuntut dan segala macamnya, yang sulit tentu anda sendiri bung Kokiman. Jadi sebelum masalah tersebut muncul, lebih baik website tersebut diserakan kepada
kompas. Mungkin saudara kokiman dapat tetap ikut serta dalam mengelola website tersebut, tapi saya rasa hak utama pemegang website tersebut tetaplah kompas. Bung Kokiman, kalau anda memang benar2 tulus dan gentleman, saya rasa anda dapat berinisiatif tanpa diminta oleh Zev atau kompas untuk menyerahkan website tersebut. Bagaimana Zev? Saya rasa hal ini perlu didiskusikan dengan pimpinan redaksi anda.
***********************
Tanggapan buat blog kolomkita
(Freddy)
Hai Zev, terus terang aku merasa keberadaan www.kolomkita.com cukup mengganggu, terutama untuk jangka panjang. Kalo diliat emang lebih enak ada database online, display menarik, termasuk forum, dsb. Tapi konsekuensinya orang2 akan lebih senang browsing dan baca KoKi di www.kolomkita.com daripada di Kompas Online. Bukankah keberadaan KoKi di Kompas membantu meningkatkan hit count buat website Kompas dan ini membantu dari segi iklan. Yang sudah sepantasnya, karena Kompas menyediakan space dan Zev meluangkan waktu untuk mengelolanya. One day kalo www.kolomkita.com mempunyai hit count per hari yang tinggi, rasanya bakalan ada iklan deh di sana. Sedangkan contentnya ngambil dari KoKi, walaupun sih istilah halusnya "kado" but ultah KoKi. Anda tebak, uang iklannya yang dapat siapa, hayo? Well, that’s what I can say. It’s up to you to decide. Take care ...
******************
WebSite Koki
(Isabelle-NanJing)
Hi Zev, Pa’ kabarnya ? Aku lagi trip jadi baca Koki cuma sekilas, cuma ada satu yang menganjal dihati.... Kemarin baca Koki, ternyata ada kejutan baru mengenai WebSite. Pasti kamu terima banyak comment yang nano2 yha......termasuk aku.... aku sich simple aja, menurut aku Koki kan kolomnya kompas, dan yang ngasuh hanya Zev seorang, kalau mau nulis uneg2, mau dimuat or ngak kan tetap aja hanya Zev yang tahu, alamat email juga hanya Zev yang tahu, lha sekarang kalau tiap org harus register diwebsite itu, berarti alamat emailnya jadi ngak RHS lagi....dan yang ngutak ngatik and ngolah website tuch si KokiMan atau Zev? Aku sich ngak bilang website tsb ngak bagus yha, pasti ada plus minusnya. Kalau mau nyari artikel yang lalu kan gampang kalau ada website..cuma aku lebih senang kalau kokinya di Kompas aja.....mungkin aku kali yang bodoh ya.....udah dibuatin Website malah kgk terima kasih....
**********************************
KOLOM KOMENTAR: http://www.kompas.com/kesehatan/news/0606/26/211457.htm
***************************************
BAGIAN I: SURAT-SURAT ANDA
LAND OF OPPORTUNITIES, NEGARA MAJU: LAND OF HOPE
(WES-Australia)
Dear Zeverina & Pembaca KoKi
Saya pakai istilah ’opportunities’ dalam bentuk jamak, karena memang peluang atau kesempatan nya untuk bisa sukses adalah banyak sekali. Kalau MOTIFNYA EKONOMI, mengejar keberhasilan materi apalagi yang punya nyali, banyak komplotannya dan menghalalkan segala cara maka NEGARA BERKEMBANG (Ceylon, Pakistan, Afghanistan, banyak negara di Eropa Timur, Afrika, Amerika Latin, Korut, Iran, Irak, Timur Tengah, Filipina, Kamboja dll termasuk Indonesia) adalah tempat yang tepat. Mau kerja apa saja, mau bisnis apa saja dari makanan sampai senjata dan uranium pasti memberi hasil melimpah. Ingin yang lebih aman, cari negara yang sedang berkembang maju, boleh pilih India dan China (RRT) - masih bisa untung besar. Terbukti meski sering jadi mangsa kekerasan, toh daya tarik uang mengalahkan segala rasa takut.
Ah, aku sih kaga mau kerja dan bisnis haram, amit-amit deh. Aku maunya kerja atau bisnis jujur dan halal bebas KKN, apa masih ada cukup peluang di negara-negara tersebut ? Itupun masih berjibun, jangan kuatir tidak kebagian peluang. Ah, masa iya ? Betul saudara, asal Anda ’sedikit’ lebih cerdik, ulet dan jeli saja maka sukses ada ditangan Anda. Bisa memasak, tidak perlu jagoan - jualan dekat perkantoran, makanannya yang simple saja. Dibilangan Jl. Jend. Sudirman, Jakarta banyak Warteg yang luar biasa larisnya padahal jualannya cuma nasi goreng thok atau yang konyol cuma mie istant ditambah telur dan sayur caysim doang. Ditempat lain ada pedagang kaki lima pisang goreng kipas, otak-otak, empek-empek, martabak, nasi uduk, es cendol, es teler, es teh, dsb. Ada yang bikin catering, masakannya ada yang dikontrak perusahaan untuk makan siang karyawannya, ada yang dijajakan ke sekolah atau kantor. Jangan meremehkan pedagang beginian, banyak yang jadi kaya. Kasih les ini itu, bimbingan test, antar jemput anak sekolah, dll. Uruskan bikin KTP, ijin usaha, SIM dan lain-lain.
Bermodalkan sebuah telepon terima reparasi rumah kecil-kecilan dengan mem-pool tukang batu, ledeng, listrik, kayu, dsb. Bisa juga jadi agen PRT, pengasuh anak atau merawat orang jompo. Bekerja di kantor/pabrik bisa ngompreng jualan berbagai barang direct selling atau kulakan sendiri ke daerah atau ke Mangga Besar. Punya mobil boleh sekalian bawa teman-teman sekantor atau tetangga kantor, dapat uang bensin, bebas Three in One, lebih aman dijalan karena banyakan menakutkan pencoleng jalanan, masih dapat uang lebih sebagai tambahan. Singkat kata, asal Anda kreatif semua yang Anda lihat, pegang, dengar bisa dijadikan duit. Bahkan bukan rahasia lagi banyak orang Indonesia (terutama wanita) yang kerjanya mondar-mandir keluar negeri bawa berbagai barang tentengan untuk dijual di Indonesia. Sudah piknik, dapat fulus lagi.Kalau yang besar-besaran, berkelompok dan profesional sih itu namanya inang-inang.
Mengapa ? Karena di negara-negara tsb. penduduknya banyak, umumnya kurang pengetahuan, kurang inisiatif, inflasi tinggi, daya beli terbatas, pemerintahnya belum mampu memberikan berbagai fasilitas umum, maka Anda hanya perlu sedikit kelebihan saja untuk mendapat nafkah lebih besar. Sebaliknya, DI NEGARA MAJU/BARAT jumlah penduduknya relatif lebih sedikit, berpengetahuan lebih baik, inflasi terkendali, daya beli lebih tinggi (sehingga bisa memilih), pemerintah sudah menyediakan keperluan vital dengan baik (air minum gratis tersedia dimana-mana, ya mana laku jualan air minum asongan). Semua ada aturan main, para tukang harus punya sertifikat, mau jadi penjual rumah pun harus lulus kursus dulu, tidak bisa sembarangan bikin catering. Mau antar anak sekolah, musti ada insurance-nya. Buka toko/restoran, semua pegawai harus diasuransikan, ada working compensation bahkan pengunjung/ pembelanja pun harus diasuransikan (public liability). Gedungnya pun harus diasuransikan - jadi tidak seperti kejadian warung bakmi ayam di Jakarta terbakar akhirnya meludeskan seluruh kompleks pertokoan ternyata tidak asuransi. Entah bagaimana urusannya. Tetapi susahnya kalau diasuransikan pun, sering waktu claim dipersulit atau disunat. Disini segala ada dan teratur, bingung mau bikin apa ya yang hasilkan duit ?
ITULAH SEBABNYA BILA BELUM MENETAP DI NEGARA MAJU, TERBAYANG ADA 1001 LOWONGAN KERJA DAN PELUANG BISNIS. SUDAH BERMUKIM SETAHUN MAU CARI 10 SAJA SUSAH. TINGGAL LEBIH LAMA LAGI, MAU CARI KERJA ATAU BISNIS YANG SESUAI SATUPUN TIDAK JUGA KETEMU. BUAT YANG ’BENAR-BENAR’ BERDUIT ITU TIDAK MASALAH, BIAR UANGNYA SAJA YANG BEKERJA - TETAPI TERNYATA MENGANGGUR SAJA BIAR CUKUP SANDANG PANGAN.......YA STRESS DAN KEHILANGAN SELF-ESTEEM. GELISAH DAN TIDAK BETAH, APALAGI BILA ANAK-ANAK ANDALANNYA KEMUDIAN TERNYATA GAGAL SEKOLAH MAUPUN KERJANYA.
NEGARA MAJU/BARAT ADALAH LAND OF HOPE, TANAH HARAPAN ITU MEMANG BENAR ! TERUTAMA UNTUK ORANG SEPERTI AKU YANG MULAI MASUK MASA PENSIUN. Bayangkan segalanya serba teratur dan tertib, relatif aman dan nyaman, udara bersih, berbagai fasilitas tersedia gratis......ada Quality of Life, ada Lifestyles, ada Security. Khususnya Australia dijuluki ’Lucky Country’, iklimnya hanya 3 bulan agak dingin dalam setahun, jarang dilanda bencana alam dan punya sistim jaminan sosial yang lumayan bagus. Ada beberapa Kokiers yang bercita-cita kembali ke Indonesia menghabiskan masa tuanya dikampungnya - ah, itu sangat sangat keliru. Justru dimasa tua Anda bisa lebih menikmati hidup di negara Maju/Barat. Ingin ditemani dan dirawat famili di Indonesia ? Begitu uang Anda menipis, Anda bakal ditelantarkan, dilecehkan bahkan mungkin dianiaya. Siapa sih yang mau sabar mengurusi orang jompo ? Kalau berumur panjang sampai jompo dan pikun, dinegara Barat dimasukkan ke Nursing Home juga tak apa, kan sudah tak bisa mengenali orang atau suasana, hanya tunggu mati saja kok repot. Tahukah Anda bahwasanya banyak orang tua berduit dari Eropa Barat, Jepang, Hongkong, dsb justru pindah ke Australia untuk sekedar ’numpang mati’, ’tunggu panggilan’?
Namun didunia ini tidak ada yang abadi. Beberapa fasilitas kesehatan dibatasi, Anda harus punya Private Insurance. Uang pensiun pun nampaknya kelak dihapus atau dikurangi, generasi baru ’dipaksa’ ikut Superannuation, artinya uang pensiunnya diambil dari uang tabungan Anda sendiri. Jadi kalau pindah ke negara Maju/Barat jangan lagi berpikir muluk-muluk (ini itu gratis, dapat uang santunan, dsb). Kalian yang Muda jangan sekali-kali mengharapkan uang beginian. Saya yang sebetulnya sudah berhak pun, masih lebih suka terus bekerja (walau santai, tidak ngoyo seperti dulu). ADA RASA BANGGA, BERMARTABAT DAN BEBAS BILA MASIH PUNYA CUKUP PENGHASILAN TANPA TERGANTUNG SIAPAPUN, BIAR DARI PEMERINTAH SEKALIPUN (YANG DARI PEMERINTAH SEBAGAI CADANGAN SAJA).
Saya prihatin ada Kokiers yang begitu berputus asa sampai mau jual ginjalnya atau dijadikan isteri keberapa asal buat dapatkan uang Rp. 100 juta saja untuk menghidupi ibu dan kakak-kakaknya. Kok murah amat Anda menghargai diri Anda. Sampai pula berkorban belum menikah dan melepaskan pekerjaannya demi untuk dekat dengan ibu dan saudaranya. Jangan berkorban sia-sia. Bekerjalah lagi untuk menghidupi diri Anda sendiri, ada lebih ya dikasih. Tidak punya lebih, ya sudah biarkan saja mereka, nanti juga mereka akan survive sendiri. Setiap manusia dikaruniai kemampuan dan naluri bertahan kok ! Ada pula Kokiers lain yang sudah bekerja keras dan rajin, penghasilannya tetap saja tidak mencukupi. Cenderung menyalahkan Pemerintah, Koruptor, keadaan dan sebagainya. Yang perlu kerja cerdik dan ulet, bukan keras. Jangan menyalahkan siapa-siapa. Jangan pula sok mau mengubah dunia. Ubahlah diri Anda sendiri saja, nanti pasti segalanya membaik. Anda punya pancaindera, tubuh dan kemampuan, mengapa jadi cengeng ?
Buat yang masih MUDA, SEHAT dan belum pernah bermukim dinegara Maju/Barat adalah lebih punya prospek bekerja dan berusaha di Indonesia. Yang bekerja biar awalnya tingkatannya rendah akan cepat naik jenjang karirnya sebab masih banyak pos-pos yang kosong. Yang berbisnis, bisa mulai dengan kecil-kecilan ataupun dari rumah. Ini untuk yang ber Motif Ekonomi. Namun apabila ber Motif Quality of Life, Lifestyles dan Security, apalagi yang teraniaya...... ya ber Emigrasilah. Negara-negara berkembang bukan tempat yang cocok untuk Anda. Persiapkan diri dengan bekal ilmu dan keterampilan yang banyak diminta dinegara Maju/Barat dan jangan terlalu berharap dari segi ekonomi.
Sejujurnya saya sama sekali tidak berkepentingan, jadi apa yang saya paparkan adalah sekedar mengingatkan kalian. Semoga jadi bahan pertimbangan saja. Keputusan ada ditangan Anda. Andalah yang paling tahu mengenai situasi dan kondisi Anda. Buat saya, lebih banyak orang Indonesia yang datang bertamasya, bersekolah maupun menetap lebih menyenangkan dan Welcome. Regards,
WES, Australia
*************************
Masalah urbanisasi di Jakarta
(Gunawan- California)
Dear Zeverina dan pembaca Koki yang diberkati Tuhan. Membaca Koki dalam beberapa Minggu terakhir masalah immigrant di Amrik, saya salut dan angkat topi untuk Zeverina yang dengan tegas dan sangat baiknya mengakhiri perdebatan soal immigrant di Amrik ini. Bravo !!!
Permasalahan immigrant di Amrik dan Negara lain adalah sangat rumit dan kompleks. Saat ini juga pemerintah Amerika masih dalam perdebatan pro dan kontra. Presiden Amerika baru baru ini menandatangani biaya untuk membangun tembok sepanjang perbatasan Mexico, sedangkan di California berteriak perlu orang-orang yang mau bekerja untuk panen anggur, buah-buahan, sayuran dll. Walaupun tidak seluruhnya setuju hal ini. Masalah ingin berusaha di negeri orang adalah hak pribadi masing-masing, hanya sebaiknya mengikuti jalan yang benar. Ini sih ide saya, kalau pemerintah atau swasta yang bisa membentuk wadah untuk TKI di Amerika sebagai pekerja kontrak musiman untuk panen anggur, peach, nectarine atau sayuran, jadi tak perlu jadi immigrant tapi tetap berpenghasilan yang lumayanlah. Belum lama ini saya baca di business news, kalau masa depan angkutan jarak jauh ( inter state) dengan truk besar akan kekurangan supir. Disebutkan penghasilan pertahun sekitar 50 ribu USD, perlu license A, kesehatan baik. Kalau ada yang bisa merealisir ide ini menyediakan supir yang terampil dan bekerja atas dasar kontrak kerja, jangan lupa yah royaltynya --- ugh dasar mata duitan eh ehe . it’s free.
Sejajar dengan masalah immigrant ,saya ingin mengajak pembaca untuk berpikir tentang masalah dalam negeri kita sendiri, khususnya ibukota yang tercinta Jakarta. Kalau tidak salah seminggu lalu bapak gubernur DKI dalam hubungan dengan mudik, memberi peringatan bahwa jangan coba-coba untuk masuk Jakarta sebagai pendatang. Sebelum saya pindah ke Amrik, sudah lama Jakarta menyatakan diri tertutup dari pendatang. Sekarang Jakarta sudah menjadi kota megapolitan yang jumlah penduduknya sudah lebih dari 10 juta orang. Tetapi benarkah tidak ada lagi pendatang yang masuk Jakarta ???
Jakarta adalah ibukota yang mempunyai daya tarik sendiri, sehingga berbondong bondong pendatang dari Sabang sampai Merauke merantau ke Jakarta, dengan suatu “Indonesian dreams “ baik impian dalam kesuksesan materi, kedudukan atau pekerjaan. Sewaktu saya masih kecil, ada keinginan / impian untuk melihat kota Jakarta, yang pada waktu itu, Hotel Indonesia dan Sarinah adalah menjadi suatu impian untuk bisa dikunjungi. Bahkan ada suatu lelucon tentang elevator, bapak dari kampung berdiri didepan elevator, terheran-heran, yang naik seorang ibu yang sudah berumur, tetapi ketika terbuka lagi yang keluar seorang gadis muda, kelanjutannya silahkan pembaca tebak, habis saya ngeri diomeli para ibu2. Walaupun sampai saat ini menyedihkan impian untuk minap di HI tidak pernah kesampain, ooh sedih banget. Kalau Sarinah sih sudah pernah pergi. Hiburan di Pekan raya Jakarta di tugu monas selalu menjadi acara keluarga kami untuk berkunjung melihat segala pameran, promosi dan makanan yang sangat menarik. Walaupun sekarang sudah pindah lokasinya.
Seperti halnya imigrant di Amrik atau Negara lain, urbanisasi di negeri kita juga tak kalah rumitnya terutama ibukota kita Jakarta. Mengapa begitu banyak penduduk dari seluruh tanah air ingin merantau dan memimpikan “Indonesian dreams “ ?? dari kalangan yang punya sampai yang tidak punya berbondong bondong datang ke Jakarta, well Zeverina sendiri mengatakan lebaran ini mau ngebut, karena jalanan di Jakarta yang biasanya macet akan lengang. Pemerintah sendiri dari H10 sudah mempersiapkan angkutan yang keluar dariJakarta, baik jalan darat, kereta, laut atau udara.
Bagaikan Negara Amrik yang diimpikan banyak penduduk Negara lain, Jakartapun tidak kalah banyaknya diimpikan oleh banyak orang. Pertama, impian untuk mencari pendidikan yang baik, Jakarta adalah menjadi pusat perhatian para pelajar setelah lulus dari SMA, karena berbagai perguruan tinggi baik negeri atau swasta menawarkan pendidikan yang baik untuk masa depan. Bayangkan setiap tahun berapa banyak yang mengikuti test masuk perguruan tinggi. Banyak para orang tua rela menyediakan jutaan rupiah untuk bayar biaya masuk ,uang kuliah dan biaya hidup di Jakarta yang tidak murah. Pengorbanan orang tua dengan harapan setelah mereka lulus mendapat kedudukan dan pekerjaan yang baik. Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung dengan masalah keuangan, tetap ada jalan keluarnya, dulu waktu saya mahasiswa di Universitas swasta , kenal dengan seorang siswa dari Batak, yang saya salut dengan keuletannya dalam mencapai “Indonesian dreams” pagi kuliah, sorenya jualan beras dipinggir kali dekat RS Sumber Waras. Berkat keuletannya akhirnya berhasil mencapai gelar dibidang teknik dan bekerja di salah satu departemen pemerintahan.
Kedua, daya tarik kehidupan yang waaah, ingin hidup mewah tapi maunya dengan jalan singkat. Akhirnya banyak pemuda / i yang terjebak ketempat-tempat hiburan malam, seperti Night club, karaoke, panti pijat bahkan pelacuran. Makin banyaknya tempat-tempat hiburan diatas menyebabkan kekurangan pekerja, yang menjadikan business bagi agent untuk menipu. Dengan dijanjikan pekerjaan yang enak di ibukota, banyak pemudi dari kampung yang ditipu oleh agent yang berakhir pemudi diikat dengan berbagai cara sehingga berakhir seperti menjadi budak mereka.
Ketiga, kebanyakan pemuda dan pemudi dari kampung mempunyai alasan ekonomi. Bayangkan kalau seorang pemuda/i tinggal didaerah yang terpencil di Jawa Tengah atau Timur, dengan pendidikan yang sangat minim, mungkin juga tidak lulus SD. Apa yang bisa diharapkan masa depan mereka di kampung ?? Cerita dari teman atau tetangga yang kalau lebaran pulang dari Jakarta dengan membawa oleh oleh serta uang, serta cerita tentang keindahan dan keramain kota Jakarta. Memberikan daya tarik tersendiri untuk mencapai “Indonesian dreams”. Cerita kalau jadi buruh bangunan dengan mudah mendapat uang yang cukup lumayan, atau bekerja di pabrik sepatu, pakaian atau electronics. Demikian juga dengan pemudi, berbondong bondong untuk bisa bekerja di pabrik.
Keempat, banyaknya permintaan untuk pembantu rumah tangga, juga menjadi suatu business yang maju di Jakarta, dulu saya dan isteri sering datang ke agent pembantu rumah tangga untuk cari pembantu. Wah milihnya juga harus cepat, kalau tidak bisa diambil oleh orang lain, harganya juga tidak ada tawar menawar take it or leave it. Rumah yang kecil dihuni banyak gadis muda, ada yang dari 13 tahun sampai 30 tahun. Setelah memilih satu atau dua, kami bayar harga pembantu ke agent yang kalau tidak salah setara dengan tiga bulan gajih pembantu saat itu. Jahatnya sang agent yaitu biasanya setelah tiga bulan dengan segala alasan untuk bisa tarik kembali pembantu rumah tangga kami, seperti alasan ibunya sakit, neneknya meninggal dll. Sesungguhnya adalah mereka akan dijual lagi, sehingga si agent dapat uang lagi. Banyak pembantu yang baik dan sangat cerdas kalau diajarin untuk mensetrika atau masak dan mengurus anak, sangat cepat mengerti dan melakukannya dengan baik. Pada umumnya sebulan pertama, mereka makannya banyak, maklumlah mungkin waktu dikampungnya sehari sekali ketemu nasi. Tetapi setelah itu yah mereka makan secukupnya. Terus terang saja, pembantu kami sangat senang, karena setiap malam menonton TV, bahkan waktu itu karena kebanyakan nonton film seri CHIP’s, mereka mengerti sedikit dikit bahasa Inggris seperti Help, eat and drive. Berita terakhir dengan kemajuan teknologi, banyak pembantu yang punya HP, wooow.
Kelima, Wira swasta atau usahawan. Dari usaha kecil-kecilan sampai besar, banyak mereka datang ke Jakarta. Tetapi beberapa banyak dari pendatang yang ada di Jakarta bisa mencapai “Indonesian dreams” ??, melalui usaha ini, sayang tidak ada statistic yang mengukur hal ini. Usaha dari abang sayur pikulan yang dengan setianya berkeliling dari rumah kerumah, apakah itu rumah dikampung atau rumah mewah di Menteng, abang sate ayam dari sore sampai malam dengan teriakan yang khas sate …. Sate, atau bakso tok – tok. Kalau ada sedikit modal usahawan ini berjualan dengan tenda, seperti soto Jakarta, kikil kambing yang terkenal dengan trade merk Pak Kumis, wah sedapnya masakan bapak ini.Tenda atau gubuk dipinggir RS Sumber Waras jualan nasi serta lauk pauknya, yang harganya murah dan meriah. Atau mbok jamu yang berkeliling tiap hari, dan mendapat berkat kalau mudik lebaran disediakan bus gratis. Memori waktu masih kuliah kalau pergi jalan-jalan di pasar baru, berjejer pedagang kaki lima menjajakan segala barang dagangan mereka dari mainan, baju, celana dalam dll.
Keenam, pekerja apa saja ( handy man, labor ready). Tanpa ada nya pendidikan dan training banyak yang berakhir menjadi tukang parkir, pengamen. Bahkan ada yang jadi tukang pungut putung rokok atau mengumpulkan kertas koran dsb. Jadi calo karcis bus/kereta atau nongkrong di kantor polisi mengurusi Driver License. Jual beli motor diPecenongan. Bagi yang berpendidikan lumayan atau sedikit modal bisa jadi supir angkot, supir taxi yang terang atau gelap, atau supir bus kota atau kerneknya.
Ketujuh, mereka yang ingin mewujudkan “Indonesian dreams” dengan mengambil jalan singkat. Melakukan tindak kejahatan, seperti pencurian, pencopetan,perampokan bahkan melakukan jual beli(drugs dealer) ectacy, morphin dll. Pemerasan, berita tentang TKI yang baru pulang dari kerja keras diluar negeri dengan cucuran keringat dan jauh dari keluarga, tetapi betapa malangnya sesampainya di Bandar udara dikerjain oleh para pemeras ini, sehingga uang hilang dsb, atau pungutan liar petugas bea cukai, dimanakah rasa perikemanusiaan orang-orang ini ??? Perampokan dengan lagu lama, pasang paku dijalanan, ban kempes, lalu ditodong dan dirampok, ini terjadi dengan teman yang berkunjung ke Jakarta, mobilnya kempes. Supir dan dia turun dari mobil untuk periksa ban, didatangi beberapa orang yang sepertinya mau membantu, tapi buntut-buntutnya laptopnya yang ada dimobil melayang. Pencopetan, bayangkan saja, anak saya berkunjung ke Jakarta dan belanja di Mangga Dua, walaupun sudah diperingati agar hati –hati, tetap saja tasnya bisa dikerjain dan dompetnya melayang alias dicopet, selain uang, juga ID dan surat yang lain. Puji Tuhan passport dan kartu hijaunya selamat karena ditinggal dirumah. Kalau tidak bisa dibayangkan, betapa reportnya kalau kembali ke Amrik
Kehidupan kota Jakarta yang kontras, disatu sisi dipenuhi dengan kehidupan yang waah, mobil mewah, mall yang mentereng, restaurant yang mahal, hotel yang berbintang lima dan tidak ketinggalan tempat-tempat hiburan malamnya. Tetapi melangkah disatu sisi lain kehidupan yang sangat berbeda, tinggal dirumah gubuk, dari karton, mandi dikali yang kotor, tanpa ansuransi kesehatan. Kurang gisi dan tanpa adanya pendidikan bagi anak mereka, anak kecil merokok tanpa adanya larangan atau peringatan bahayanya merokok.
Kesimpulan, Jakarta seperti Amrik, tetap merupakan daya tarik untuk urbanisasi dari daerah, tetapi sampai berapa persent yang berhasil dalam mewujudkan “Indonesian dreams” entahlah karena tidak ada hasil survey atau statistic. Atau kecenderungan tinggal di Jakarta merasakan kehidupan yang lebih baik dari pada hidup didesa, walupun bekerja sebagai pemungut kertas koran. Tak ada yang tahu jawabannya, masing-masing individu mempunyai pemikiran masing –masing. Apakah mereka merasa bahagia entahlah, karena banyak mereka yang hidup mewah tidak pernah merasakan kebahagiaan, bahkan banyak terjadi perselingkuhan dan kecanduan drugs. Hanya berserah pada Tuhan dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Pasti kita mendapatkan kebahagiaan. Adakah jalan keluar bagi kota yang tercinta Jakarta ???? Agar lalu lintas teratur,terhindar dari kebanjiran, masalah kesehatan penduduk diperbaiki, perumahan yang layak, pelayanan public yang memadai dan lebih dari itu pengamanan masalah kejahatan
Yang saya dapat lakukan saat ini adalah berdoa agar bapak-bapak dipemerintahan pusat atau daerah memikirkan kesejahteraan warganya dengan bijaksana serta bersandar pada Tuhan Yang Maha Esa, bukan atas kepentingan pribadi. Bagaimana meningkatkan kesehatan dengan menambahkan lebih banyak pusat-pusat kesehatan serta dokter, penyediaan air bersih, penyuluhan soal AIDS/HIV, bahayanya soal kecanduan morpin dll. Sebagai penutup, saya mengucapkan selamat berlebaran bagi umat Muslim dan berhati hati bagi yang melakukan perjalanan, karena lalu lintas akan padat dan kebut-kebutan. Semoga Tuhan selalu melindungi semuanya.
***********************
Kenapa Amerika bisa makmur?
(Pieter Ginting-Amerika)
Zev yang baik, saat ini saya tinggal di Amerika Serikat tepatnya di Pennsylvania State di sebuah kota kecil bernama Sayre.
Pertama kali saya datang ke Amerika dalam pikiran saya terbayang sebuah negara yang kaya dan makmur para pemudanya rajin bekerja keras dan pitar-pintar paling tidak lulusan diploma III minimal. Tapi yang saya temukan sangat jauh berbeda dari yang saya bayangkan karena saya banyak menemukan citizen Amerika yang hanya lulusan high school atau college yang hanya 1 Tahun saja.banyak juga para pemudanya yang tidak memiliki apa tujuan hidupnya dan lain sebagainya. dan yang paling tragis adalah dampaknya kepada meliter Amerika karena saat ini tidak banyak anak muda Amerika yang mau jadi tentara dan akhirnya posisi itu diisi oleh orang- orang muda dari negara lain yang belum menjadi warga negara Amerika. mereka akan mendapatkan kewarganegaraan secara otomatis apabila mereka telah selesai kontrak dengan meliter. Harap para KOKI tahu untuk menjadi militer Amerika saat ini umur minimal adalah 18 Tahun dan maksimal 45 Tahun. Coba bayangkan kalau di Indonesia aturan itu sama apa jadinya? Jadi kalau ada pemuda Indonesia yang mau jadi meliter di Indonesia dan gagal terus cobalah keberuntungan anda di meliter Amerika siapa tau anda berhasil.
Kenapa saya cerita pertama mengenai meliter Amerika karena saat ini yang menjamin saya untuk tetap bisa tinggal disini adalah seorang pensiunan kolonel ARMY yang selalu mendesak saya untuk mendaftartkan diri entah itu ke ARMY,NAVY atau SEAL. selain itu juga dia memberikan jalan supaya tetap bisa tinggal di Amerika dengan menikahi citizen Amerika.
Saya banyak bertukar pikiran dengan bapak ini. setiap akhir minggu saya pergi kerumahnya untuk sekedar mendengar cerita atau apa saja yang dapat didiskusikan. pada akhir minggu lalu saya mendapat bahan yang sangat bagus didiskusikan bersama bapak ini. Kami berbicara tentang Kenapa Negara Amerika bisa menjadi negara super power dan ekonominya maju. Beliau mengatakan karena Tuhan memberkati negara Amerika. Dari awal berdirinya Amerika mereka sudah merencanakan supaya negara ini diberkati Tuhan. Pertama kali saya tidak mengerti apa maksud dari pembicaraannya tapi sewaktu ada sebuah bis lewat di depan rumahnya dia berkata kepada saya coba lihat tulisan di depan bis itu dan baca. Setelah saya membaca dia berkata karena itu negara Amerika bisa maju karena setiap orang membacanya beberapa kali sehari entah itu di bis atau ditempat kerja atau dimana saja. tau tidak apa yang saya baca GOD BLESS AMERIKA .
Kemudia dia berkata lagi kepada saya coba kamu baca apa yang tertulis di setiap uang dolar maupun logam sen tulisanya adalah IN GOD WE TRUST jadi intinya mereka percaya bahwa dasar negara mereka adalah karena Tuhan dan setiap kali orang membaca mereka percaya bahwa orang tersebut sedang memohon kepada Tuhan untuk memberkati Amerika. Beliau berkata kepada saya lagu kebangsaannya juga menyiratkan karena Tuhan-lah maka negara mereka bisa maju dan dia berkata kepada coba kamu ucapkan janji setia warga negara Amerika. Dan saya ucapkan dengan lancar I pledge allegiance to the flag of the United States of Amerika and to the republic for which it stands. One Nation under God,with liberty and justice for all. saya bisa hafal ini karena saya bergabung dengan satu organisasi Royal Ranger dan setiap minggu sebelum pertemuan di mulai kami pasti mengucapkan janji setia ini. Jadi saya hafal, dan dia bilang intinya adalah One Nation Under GOD. Setelah saya pulang ke apertemen saya, saya merenungkan dan mencoba membandingkan dengan negara kita. Kita tidak punya janji setia warga negara seperti Amerika tidak ada tulisan baik ditempat umum maupun di kantor-kantor yang berkata Tuhan Berkati Indonesia. dan setelah saya mencoba menyanyikan lagu Indonesia saya cukup tertegun karena lagu kabangsaan kita menyiratkan bahwa Indonesia bisa ada karena manusia bukan Tuhan.
Coba baca sebagian teks lagu Indonesia raya ini: Indonesia tanah airku/tanah tumpah darah ku/ di sanalah aku berdiri/ jadi pandu ibuku/ Indonesia kebangsaan ku/ bangsa dan tanah air ku / marilah kita berseru / Indonesia bersatu.
Mungkin itu pulalah yang menyebabkan kenapa tidak henti-hentinya darah terus tertumpah di bumi pertiwi kita. dari sebelum merdeka sampai hari ini masih selalu ada darah yang tertumpah di negara kita. Bukan tidak ada citizen Amerika yang mengutuk pimpinan negaranya tapi mereka tetap memberkati Amerika karena dimana saja di setiap tempat keramain maupun tempat umum selalu ada tulisan God Bless America. Mungkin kita coba mulai menuliskan dari ruang KOKI ini setiap kali kita mengirim email dan membuat artikel kita mulai dengan kata pembuka Tuhan Berkati Indonesia atau Allah Berkati Indonesia sehingga ada dampak untuk Indonesia. Karena apa yang kita baca dan kita ucapkan itu akan terjadi seperti yang dikatan pensiunan kolonel ARMY Amerika itu kepada saya. GOD BLESS INDONESIA.
**************************
JAKARTA is … (The Best Among The Worst).
(QQ - Gambir)
Hi……Vez, seperti para penikmat Koki yang kontra dengan hidup di Jakarta, pada awalnya saya juga tidak bisa hidup di Jakarta. Sekedar cerita yang melatarbelakangi kekontraan saya, saya akan menceritakan sedikit latar belakang saya. Saya lahir dan besar di kota-kota kecil di Jawa Timur (nomaden) dan tidak pernah sekalipun saya hidup di kota besar seperti Surabaya apalagi Jakarta. Saya menginjak ibukota pertama kali pada tahun 1990. Pada saat itu yang terbayang di benak saya adalah ”pasti enak hidup di Jakarta”. Gak enak gimana? Lha wong pada saat itu saya cuma pelesiran di Jakarta selama 10 hari! Saya mulai ”hidup” di Jakarta sejak tahun 1992, semenjak saya kuliah di Perguruan Tinggi Kedinasan terkenal milik salah satu Departemen penting republik ini. Di sini saya mulai tidak betah. Kemana-mana kemacetan (walau tidak separah sekarang) adalah menjadi hal yang lumrah selain living cost-nya yang mahal (versi kantong saya saat itu). Akhirnya tahun 1995 pasca lulus kuliah saya bekerja danditempatkan di Kota Padang.
Selama 5 tahun di Ranah Minang anehnya saya seringkali merasa kangen ama macet dan semrawutnya Jakarta (bukan hanya lalu lintasnya aja tapi everythings!). Sehingga kalau ada waktu ke Jakarta saya selalu menikmati macet dan bisingnya Jakarta. Aji mumpung nih ye...padahal yo gak enak pollllll. Pada tahun 2000 saya dimutasi Ke Jakarta... Di sini ketidakbetahan saya Part II dimulai. Saya merasakan Jakarta sangat menakutkan pasca reformasi tahun 1997 (selain macet dan semrawut yang semakin menjadi-jadi!!!!). Bom meledak dimana-mana, kapak merah beraksi hampir di setiap lampu merah, begal dan rampok merajalela, bahkan suara letusan peluru baik dari aparat maupun preman sering kali mendesing di telingaku...iiiihhhh seereeem. (sedikit hiperbolic ya?)
Pada tahun 2003 Ketidakkerasananku mulai menyeruak. Saya mulai berpikir untuk pindah kantor ke daerah Jawa Timur di mana ada beberapa kantor-kantor daerah yangbaru dibuka. Apalagi orang tua sangat mendukung rencana saya ini dengan menyediakan fasilitas untuk perumahan. Tapi sebelum saya mengajukan permintaan pindah, saya masih berpikir panjang mengingat ”history” temen2 di kantor tempat saya bekerja yang minta pindah ke daerah tapi masih di Pulau Jawa. Permintaan pindah disetujui tetapi kota tujuannya seringkali meleset bahkan jauh sekali jaraknya (ibaratnya minta di bagian barat dikasihnya bagian timur atau sebaliknya). Atapun kalau disetujui, 2 tahun kemudian dilempar ke kota yang mungkin tidak ada di peta!! Setelah melalui pemikiran matang akhirnya saya putuskan untuk tetap di Kantor Pusat di Jakarta. Saya yakin pasti ada hikmahnya kalau saya bekerja di Jakarta. Titik terang saya dapatkan. Selain berada di ring I sehingga saya banyak kenal dengan atasan yang sangat mungkin tidak kenal saya jika saya ada di daerah, saya juga mendapat info-info yang terbaru dan beberapa manfaat lainnya seperti bisa meneruskan pendidikan master saya atau mungkin doktor saya nanti (tentunya dengan beasiswa alias gratis). Semoga.
Oleh sebab itu, sejak tahun 2004 mau tidak mau saya harus mulai menyenangi kehidupan Jakarta dan berusaha agar tetap di kota ini sampai pensiun. Mencoba mengikuti slogan Pemda DKI yaitu Enjoy Jakarta. Sesudah itu baru berkelana mengikuti ke mana angin berhembus. Rencana untuk tinggal permanen di Jakarta mulai saya susun. Baik membeli rumah maupun menetapkan di mana saya akan menyekolahkan 2 jagoan saya. Memang bagi penikmat Koki yang berani dan punya kesempatan pindah atau hidup di luar negeri, kehidupan di Jakarta adalah menakutkan dan sangat tidak mengenakkan tapi bagi saya yang tidak mempunyai pilihan ya apa boleh buat selain Jakarta. JAKARTA is …(The Best Among The Worst).
Untuk Vez terima kasih telah memoderatori Koki, untuk para penikmat Koki yang telah membaca tulisan ini. Apabila ada tulisan dan bahasa saya yang kurang berkenan, please forgive me. Keep reading, Keep writing, Keep Koki! Salam dari Jantung Jakarta
**************************
Fenomena "Ruang Kosong" dalam bis
(AS-Singapura)
Hallo Zev, waduh...! lama saya pengin tahu gimana bisa ikutan KOKI, klik sana klik sini nggak nemu-nemu cara posting ke KOKI. Eeh... taunya cukup kirim email ke anda ya?! Mau dimuat atau nggak, itu soal nomor 2, yang penting bisa ikutan curhat di KOKI...
Beberapa waktu lalu dalam perjalanan menuju kantor, ada yang menarik untuk ditilik sepanjang perjalanan dalam bis siang itu.lumayan.... daripada lumanyun. Pernahkah anda naik bis kota (bis umum)? Saya pernah, malah sering. Tiap hari pergi/pulang kerja saya naik bis kota. Sesekali naik taxi, kalau lagi ’urgent’ atau lagi males nunggu bis atau....pas hari gajian...hehe... Naik bajaj? nggak ada tuh disini...?!
Kenapa bis kota? Mudah saja jawabnya, karena saya belum bisa beli mobil disini. Jangankan beli, sewa mobil saja dompet saya teriak-teriak, "tuluung...tuluuung".....begitu teriaknya, seperti teriakan si dawala dalam cerita wayang golek Asep Sunandar Sunarya, dahulu, +/- 12 th y.l. Bayangkan saja, disini untuk sewa mobil sekelas Corolla, sebulan mesti siapkan minimal S$1200,- belum termasuk petrol (bensin) dan biaya parkir yang S$1/jamnya. Sementara.... untuk sewa rumah+bayar listrik sebulan, saya keluarkan kocek cuman +/- S$900, jauh lebih murah dari harga sewa si Corolla. Selain itu, Corolla banyak kelemahannya juga, nggak bisa buat tidur, nggak bisa buat mandi, nggak bisa buat e-e...hehe.
Naik bis kota...... cuman S$0.60 sekali naik, bisnya ber-AC, ditambah ada TV yang selalu mutar Channel News, lumayan buat mengurangi Be-Te, dan...nggak kaya bis kota AC di Jkt (maap ye?!) yg penumpangnya males pada pake parfume, disini bau badan hampir nggak jadi masalah deh terutama klo pagi hari...hehehe. So,pake bis kota disini sangat ’worth’ lah...! Untuk anda yang seperti saya (yang sering naik bis kota), kalau anda perhatikan dengan seksama, ada ’fenomena alam’ yang unik untuk disimak saat kita berada di dalam bis kota. Mungkin tidak semua mengalami, tapi setidaknya yang saya alami disini gitu loh..! Sebelumnya, agar mudah membayangkan, saya kasih ilustrasi singkat bis kota disini sbb: Biasanya bis memiliki 2 pintu utama, 1 di depan mainly untuk pintu masuk (kadang dipakai juga untuk keluar) dan 1 pintu di belakang khusus pintu keluar. Ada juga pintu emergencynya, letaknya kalau nggak di tengah, ada di sudut bagian belakang. Oya, selain itu, setiap bis dilengkapi fire extinguisher dan First Aids Kit. Dan... tidak ada kondekturnya....hehe..
Nah, fenomena alam yang menarik yang saya maksud adalah..Pada saat bis fully loaded alias penuh sesak, kebanyakan penumpang yang berdiri di tengah dan di dekat pintu ’exit’ sampai bagian belakang bis enggan bergeser untuk memberikan ruang kosong disekitar mereka ketika beberapa penumpang disekitarnya turun. Kalaupun mereka bergeser, saya perhatikan alasan utamanya hanya untuk ’memposisikan diri agar lebih nyaman’, kebanyakan bukan karena memang ingin memberikan ’ruang kosong’ tersebut untuk penumpang lain. Alhasil, suatu ketika saya lihat seorang mba-mba yang sepertinya lagi buru-buru dan hendak on board, cuman bisa mencak-mencak sambil gondok lantaran bagian pintu depan bis sudah penuh sesak dengan penumpang yang berdiri. Padahal, kalaulah yang ditengah atau dekat pintu exit mau bergeser dikiiit ajah...tuh si mba-mba masih bisa masuk.
Kalau dianalogikan dalam aktifitas kita, hal pekerjaan sajalah biar spesifik, yang demikian sering menjadi pemandangan yang menemani sehari-hari. Ketakutan akan ’tergeser’ dari posisi nyaman membuat sisi egois kita jadi lebih berkuasa. Tidak sejengkalpun ruang kosong di sekitar kita diberikan kepada orang lain. Akibatnya semua pekerjaan maunya diborong, dikerjakan sendiri. Kalaulah ada ’level’ yang ada di bawahnya, tidak lebih diposisikan sebagai ’executor’ belaka. Ide-ide yang masuk diterima, namun hanya ditampung saja, tidak lebih. Intinya, orang lain tidak diijinkan berkembang. Ada tahu yang begitu? Ada, mungkin jumlahnya banyak, mungkin kita salah satunya?!
Diakui, bahwa manusia, sekecil apapun punya sifat egois. Sederhana, coba perhatikan tatkala kita menggaruk bagian yang gatal...bukankah arah 4 jari tertuju pada jantung kita..? Iya... ini cuman simbolik saja. Tapi kalau ego sudah lewat limit dan sampai seperti di atas, ini udah kelewatan. Jahat. Nggak cuma jahat buat ’orang disekitarnya’ yang terhambat kreatifitas dan kariernya, tapi jahat buat organisasi, karena bikin organisasi nggak berkembang.
Terus mau diapain individu seperti ini? Diusir dari komunitas? Bisa saja, Tapi mungkin itu option terakhir. Option pertamanya, menurut saya, adalah disadarkan. Namanya orang, kan katanya tempatnya keliru..... Cuman, gimana caranya menyadarkan orang yang macam gini, itu yang bakal jadi tantangan. So friend... Sudahkah kita berikan ’ruang kosong’ di sekitar kita untuk orang lain agar bisa sama-sama ’on board’....? Lebih jauh lagi agar ’yang pantas’ bisa ’duduk’ di kursi yang pas?? Silahkan menterjemahkan makna yang tersirat dari yang tersurat....:)
**********************
Komuter
(Aya, Jakarta)
Hallo Zev dan rekan Koki-ers lainnya,
Ini surat saya yang ke dua untuk Koki, terima kasih sudah memuat surat yang pertama. Sebelumnya, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri untuk Zevi dan rekan Koki-ers yang merayakan. Saya sendiri tidak merayakan Lebaran tapi karena tinggal di tempat yang mayoritas umat Muslim, jadi ikut merasakan sedikit suasananya. Apalagi tetangga dekat rumah memberikan hantaran berupa kue-kue lebaran. Jadi jangan heran, jika Zev berkunjung ke rumah saya saat Lebaran, toples-toples kue di meja tamu penuh oleh hantaran dari tetangga.
Kita tinggalkan dulu soal Lebaran, saat ini saya ingin bercerita soal kaum komuter yang ramai-ramai menuh-menuhin Jakarta saat siang hari dan kembali ke rumah pada sore harinya. Waktu masih kecil, saya tidak pernah bermimpi lulus kuliah saya akan menjadi salah satu anggota kaum komuter, tapi ternyata itulah yang terjadi. Rumah orangtua di Bekasi dan kantor di Thamrin membuat saya harus rela berangkat kerja lebih pagi dari teman-teman yang tinggal di Jakarta.
Saat mulai masuk kerja di sebuah Kantor Akuntan Publik, saya memilih naik kereta api, yang sekarang ganti nama jadi Kereta Rel Listrik (KRL). Waktu awal-awal kerja sih saya memilih naik KRL expres yang ber-AC dan lebih cepat sampai kantor, tapi karena harga tiket yang makin lama makin mahal akhirnya saya beralih ke KRL Ekonomi.
Ternyata saya tidak menyesal untuk turun kelas ke KRL Ekonomi lho. Saya bahkan punya teman-teman yang saya temui setiap pagi karena seringnya bertemu mereka di gerbong yang sama. Dulu waktu saya naik KRL Expres, jarang sekali saya lihat orang ngobrol dan bercanda-canda, suasanya dingin sedingin AC yang bertiup dalam kereta itu. Saya juga sering menemui lelaki dengan tubuh sehat duduk santai padahal ada ibu hamil yang sedang berdiri di depannya. Jadi miris saya melihatnya.
Perjalanan dari Bekasi ke Jakarta kalau naik KRL AC hanya butuh waktu sekitar ½ jam tetapi kalau kereta lagi terlambat (seingat saya kereta lebih sering terlambat daripada tepatnya), perjalanan bisa jadi 1 jam lebih. Nah, selama 1 jam itu, penumpang yang duduk sama sekali tidak mau gantian duduk dengan penumpang yang sudah lelah berdiri. Padahal duduk kelamaan juga pegal kan Zev? Keegoisan macam itu jarang saya temui di KRL Ekonomi, perjalanan normal KRL Ekonomi yang 1 jam membuat orang yang duduk seringkali gantian berdiri dengan penumpang yang sudah berdiri dari Bekasi. Apalagi kalau ada ibu hamil atau ibu yang bawa anak kecil, buru-buru penumpang lain, terutama bapak-bapaknya, yang memberikan kursinya. Kalau tidak ada yang bangun, biasanya ada seorang teman saya yang memang galak, mencela-cela penumpang yang duduk sambil pura-pura tidur dan tidak melihat si ibu hamil. Biasanya teman saya itu akan bilang, kalau kita itu lahir dari perut ibu, masa ada ibu hamil, tidak mau mengalah memberikan tempat duduk. Biasanya ada orang yang malu dan cepat-cepat berdiri memberikan duduknya.
Kembali ke soal teman-teman kereta, karena seringnya bertemu setiap pagi, akhirnya kita saling menyapa, malah bikin satu kelompok. Ternyata memang di kereta itu ada yang namanya komunitas gerbong. Komunitas saya terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah menikah dan punya anak dan anak-anak muda yang masih single yang belum lama lulus kuliah dan bekerja.
Lucunya komunitas ini bukan hanya bertemu di kereta. Kadang-kadang kita janjian kumpul makan di suatu tempat. Terus makan-makan bisa juga di kereta pagi karena ada beberapa orang sering sekali membawakan kita sarapan. Dibanding KRL Express, KRL Ekonomi memang lebih padat penumpangnya. Yah, jika mau dihitung, 1 meter persegi bisa diisi dengan 9 orang penumpang. Dan itu bisa lebih penuh lagi. Kalau kereta sedang penuh dan padat, udara jadi panas bangat dan jangan khawatir pingsan, karena kalau kita pingsan kita tidak akan jatuh ke bawah, pasti tertahan badan penumpang lain.
Zev, kondisi kereta yang penuh itu, mendorong sebagian orang untuk naik kereta di atas atap. Ngeri sekali melihatnya yah, tapi kalau mereka beralasan di dalam kereta sudah penuh. Yah, kita pun jadi susah melarangnya karena memang begitulah kondisinya. Sekian dulu Zev surat dari saya.
********************************
KRL
(Ayu-Thailand)
Hai Zeverina, katanya lagi merasa "hatinya terganggu", ini aku nulis sesuatu yg moga bisa dikit menghibur Zeverina. Ini tentang romantika kehidupan para pengguna KRL Jakarta- Bogor. Tahu kan kereta itu selalu puadettt di jam2 orang pergi dan pulang kerja. Tapi meskipun sebegitu padetnya banyak orang akan mikir lagi untuk milih ganti moda transportasi lain. Mereka lebih rela dijadiin kayak bandeng presto daripada harus stress kena macet. Kalo lagi di Jakarta aku juga ke kantor memilih dg cara ini untuk alasan yang sama, walopun utk kasusku biasanya agak mendingan karena aku melawan arus orang. Di puncak padetnya arus penumpang KRL, bisa kejadian orang2 di dalemnya yg ndak kebagian duduk bisa berdiri dg amannya tanpa pegangan apapun karena udah ndak ada lagi celah tempat yg memungkinkan orang bisa jatuh. Gemana mo jatuh...depan belakang, kanan kiri udah dempet ke badan orang lain...
Dalam keadaan padet gitu, utk perjalanan jarak jauh kalo sampe dapet duduk bisa berasa seperti minum es waktu kehausan di hari panas terik. Makanya buat orang yg udah dapet tempat duduk, dia akan berjuang agar bisa tetap di singgasananya sampe waktunya dia akan turun. Mungkin dengan ringan hati ato agak susah payah (buat yg nuraninya masih termasuk sehat) berlagak sok cuek pada orang lain yg harusnya lebih butuh diprioritaskan seperti orang2 sepuh, perempuan hamil, perempuan yg gendong anak, ato ibu - ibu. Dan cara yg paling mudah dan ampuh dilakukan banyak orang utk "melupakan orang lain" yah...pura2 tidur...
Tentang kepedulian pada orang lain di KRL ini, dengan budaya ketimuran kita yg katanya meninggikan unggah-ungguh, sering itu udah susah lagi ditemuin. Aku pernah gak habis pikir nemuin kejadian, kereta waktu itu agak padat (tapi ndak padattt). Aku ndak kebagian duduk, bersama dengan banyak orang lain dan diantaranya seorang Ibu sepuh. Di dekat si ibu sepuh = (nyaris di depannya persis), tiga ABG perempuan dan laki2 duduk santai kayak di rumah sendiri, lepas sendal dan kakinya naik ke kursi, enak banget ngobrol ketawa-ketiwi...mereka cuekin sang nenek di depannya...
Yang lain, ini pengalaman temanku. Waktu itu dia lagi hamil besar, naik kereta yg ndak terlalu padat juga, tapi juga udah gak ada tempat duduk kosong. Begitu dia naik dan berdiri di depan orang yg duduk, rupanya orang ini masih punya nurani. Jadi bangunlah dia mo ngasih tempat duduknya utk temanku. Temanku baru lagi geser mundur dikit ngasih jalan ke orang itu bangun dari kursinya, ehhhh...dari sisi lain ibu2 nyerobot aja ambil tempat duduk itu...sambil duduk dia bilang "ahh...gua juga capek dari tadi diri terus..." temanku bengong & bingung... ya begitulah romantika hidup di KRL macem2.
****************************
BAGIAN II: TANGGAPAN TERHADAP ARTIKEL SEBELUMNYA & SURAT-SURAT PENDEK
Materialistis - Tanggapan untuk M di Medan
(Eka Hudson Wongkar- Singapura)
Dear Zeverina dan Pembaca KOKI,
Sudah cukup lama saya tidak menulis di KOKI karena pekerjaan yang cukup menyita waktu. Walau begitu saya tetap berusaha untuk mengikuti cerita-cerita di KOKI yang selalu menarik. Selamat Idul Fitri juga buat seluruh pembaca yang merayakan. Minggu kemarin saya sempat pulang ke Jakarta selama kurang lebih seminggu dan saya melihat sudah banyak perubahan di kota Jakarta, entah itu perubahan ke arah yang lebih bagus atau malah sebaliknya, saya tidak bisa mengatakan. Satu hal yang saya lihat, perubahan tersebut terkesan dipaksakan dan tanpa perencanaan yang matang karena jelas sekali terlihat pada waktu liburan panjang kemarin, pembangunan jalan yang terlantar begitu saja karena ditinggalkan pekerjanya yang pulang kampung. Sangat terlihat sekali sisa-sisa pekerjan yang ditelantarkan dan hal tersebut sangat membahayakan pengguna jalan.
Untuk Bandara Soekarno Hatta, meja tempat petugas imigrasi sudah dibuat sejajar dengan penumpang, tidak seperti dulu yang tingginya minta ampun. Namun untuk antrian loket bebas fiskal masih tetap sama, dari 2 loket yang ada, hanya 1 loket yang dibuka dan pelayanan petugas terkesan lambat. Untuk bisa mendapatkan bebas fiskal, saya harus menunggu kurang lebih 30 menit. Ketika mendarat di Soekarno Hatta, saya harus menunggu kurang lebih 30 menit (biasanya 1 jam) untuk bisa melewati petugas imigrasi, padahal saya adalah warganegara Indonesia yang semestinya mendapatkan prioritas di negara sendiri. Saya tidak sampai hati membandingkan pelayanan petugas imigrasi yang saya terima setiap kali saya mendarat di Changi Airport dengan petugas imigirasi di Soekarno Hatta. Untuk mereka yang tinggal di Singapura, walaupun bukan warganegara, tapi mereka disediakan antrian khusus yang jauh lebih cepat. Oke, itu sekedar pembuka dari saya mengenai kota Jakarta dan Changi Airport.
Saya tertarik untuk menanggapi tulisan Sdri. M di Medan mengenai Materialistis. Sebenarnya ini adalah hal yang sangat tipis perbedaannya. Menurut saya, tidak salah kalau salah satu pilihan Anda didasarkan materi karena pada dasarnya orang tidak bisa hidup hanya mengandalkan cinta. Seseorang bisa dikatakan materialistis kalau pertimbangannya hanya didasarkan pada materi semata-mata. Kalau materi dijadikan salah satu pertimbangan, itu sah-sah saja, there’s nothing wrong with it. Teman-teman saya, khususnya yang wanita, sering berdiskusi dengan saya mengenai hal ini dan saya pun memberikan pandangan yang sama. Mereka ingin tahu, apa sih definisi kaum lelaki tentang materialistis.
Tentunya batasan materi itu sekali lagi berbeda-beda bagi tiap orang. Ukuran kaya, miskin itu relatif sekali buat tiap orang. Saya yakin, orang tua Anda mengharapkan kehidupan yang lebih baik bagi Anda nantinya dan kalau Anda main asal pilih dalam menentukan calon pasangan Anda, bukan tidak mungkin Anda harus mengalami kejadian tersebut sekali lagi. Saya tidak mengatakan Anda harus mencari konglomerat atau pengusaha muda yang kaya raya, tapi paling tidak dia punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk anak-anak Anda nantinya dan ini tidak bisa dipenuhi dengan unsur cinta semata, tapi perlu ada usaha dan kerja. Mungkin istilah yang tepat adalah "Bibit, Bebet, Bobot".
Sebagai ujian awal untuk mengetahui apakah seseorang itu materialistis atau tidak saya seringkali tanya sama teman-teman wanita saya seperti ini "What if your spouse makes less money than you do?" Dizaman emansipasi ini, hal ini bukan suatu yang langka lagi. Dari jawaban inilah kita bisa melihat apakah seseorang materialistis atau tidak. Jawaban yang saya terima umumnya mengatakan mereka bisa menerima asalkan ada alasan yang kuat untuk membenarkan hal tersebut.
Sekali lagi, cinta juga harus dibarengi dengan logika karena hidup bukan seperti sinetron di televisi yang selalu memperlihatkan indahnya kisah cinta. Tapi yang menjadi masalah bagi kita semua, termasuk saya sendiri adalah ketika cinta datang mengetuk, logika kita usir keluar. Sama halnya dengan kutipan lagu dibawah ini:
I don’t care who you are/ Where you’re from/ What you did/ As long as you love me
Ketika cinta sudah menipis seiring berlalunya waktu, ketika anak menangis karena sudah seminggu tidak minum susu, ketika perut terasa sakit karena menahan lapar, masih bisakah kita berkata, "Saya tidak perduli siapa kamu, dari mana kamu berasal, apa pun yang kamu lakukan, selama kamu mencintai saya". Silahkan masing-masing menjawab menurut hati nurani masing-masing. Salam dari Singapura yang sudah siap menyambut datangnya Natal.
*********************
Materialistis atau Realistis? (Tanggapan buat M di Medan)
(Bugz-Jakarta)
Hai hai… Pagi Zeve dan semua pembaca KoKi . Kalo melihat gaya hidup seperti sekarang ini, terutama dikota besar, yang bisa dibilang tidak ada yang gratis, lah wong pipis saja bayar… iya toh… saya kira wajar, jika sisi financial merupakan pertimbangan dalam memulai hubungan apalagi jika hubungan itu mengarah ke jenjang yang lebih serius, menikah misalnya. Yang perlu ditekankan disini adalah sisi financial adalah faktor yang harus dipertimbangkan ketika akan memulai hubungan yang serius, bukan alasan untuk mencintai seseorang. Kenapa? Diantara keduanya ada perbedaan mendasar. Saya ambil contoh gini :
Si Tono dan Si Tini saling mencintai, mereka sudah berpacaran 1 tahun dan akan menikah. Tetapi sampai saat ini si Tono masih belum mendapat pekerjaan tetap sehingga pendapatannya juga belum menentu. Akhirnya mereka memutuskan untuk menunda pernikahan dan si Tini pun setuju. Sampai disini si Tini dapat dibilang masih wajar. Cinta tidak sampai mengalahkan logika, lah iya menikah kan gak hanya mengandalkan cinta? Emang bayar listrik bisa pake kartu kredit cinta? Tentu tidak! Memang beli beras bisa pake lima rindu rupiah? Kan gak toh? Jadi saya rasa wajar saja kalo Mbak M di Medan berpandangan demikian.
Banyak alasan untuk tetap melajang, dan mungkin salah satunya ya, buat apa menikah kalo jadi lebih susah (secara financial)? Atau kasarnya, buat apa keluar dari rumah orang tua, dan tinggal bersama kamu trus hidupku jadi lebih susah? Makan susah, apalagi buat beli pakaian… Lebih baik tinggal sama orang tua…. Lalu bagaimana bila si pria yang menjadi (satu-satunya) pencari nafkah tiba-tiba bangkrut atau dipecat? Kalau ada uang abang sayang, gak ada uang abang ditendang ini cewe matre namanya… Tetapi kalau cinta masih bisa membuat bertahan dan melanjutkan hubungan kenapa tidak? Menurut saya inilah saatnya ketika financial planning atau perencanaan keuangan dibutuhkan semenjak dini. Minimal ketika akan mulai menikah, seorang penasihat keuangan pernah berkata dalam suatu acara talk show bahwa, sedapat mungkin 10% dari penghasilan bersih disisihkan untuk keperluan tak terduga dimasa yang akan datang. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah financial security hanya menjadi tanggung jawab pihak pria?
Satu lagi fenomena yang ada sekarang adalah, wanita cenderung menjadi lebih independent (terutama dari pria). Sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak melulu mengandalkan suami. Jadi banyak keluarga yang suami-istri bekerja dan mempunyai penghasilan, bahkan ada beberapa keluarga yang justru wanita yang lebih mengambil tanggung jawab ini dan menjadi tulang punggung keluarga (saya kenal dengan beberapa dari mereka…). Nah, financial merupakan salah satu faktor penting dalam suatu hubungan yang serius, tapi yang harus diingat cinta adalah yang membuat hubungan itu ada. Keuangan adalah faktor yang menguatkan dan mendukung hubungan cinta itu.
************************
Toilet mana tahan.........
(Isabelle-NanJing)
Thank you for Tammy dari Shanghai atas Infonya. Cina sebenarnya ngak jelek2 amat. Banyak plusnya juga. Yang ngak tahan cuma satu aja, TOILET UMUM......aduh Zev, ini uneg2 aku yha....dari State, aku sempat mampir dulu di Jakarta, nach sejelek2nya Toilet di Jakarta tuch masih ada closetnya, mau jongkok mau duduk tetap aja ada. Nach toilet disini dari luar sich masih ok, ada ceramic segala, pas masuk yach ampun...ngak ada closetnya...yang ada hanya sebuah got ditengah tengah, jadi jongkoklah ditengah tengah got itu , bisa ngeliat tetangga kiri kanan lagi Pup atau Pipis ( sorry ya ), yang lebih sadis lagi, ngak ada air untuk flush. Air digelontor dari pusat tiap 1 or 2 menit, jadi kebayang kan kalau pas ada yang buang hajat, dan air belum ngeglontor, kita yang masuk tuch bisa ngeliat apa yang ditinggalkan, mending kalau cuma buang air kecil.....Aku kapok dech ke Toilet Umum, belum lagi hawanya itu Zev, aduhaiiiiii dech..... kalau memang kepepet, aku nyari Mcd atau KFC.....kalau ngak nyari Hotel...aku ngak mau minum banyak2 kalau pas jjl, kalau mau pipis kan berabe....Ngak tahu apa yang kebayang dibenak org yang menciptakan Toilet model ini...... Aku mesti log off dulu, lain kali sambung lagi, take care yha....and thank you buat kamu yang setia baca uneg2 ini......
*******************************
Silakan berbagi cerita via email: zeverina@kompas.com
Penulis: Zeverina