"Dalam pikiran lelaki, hubungan seks adalah bentuk cinta. Makin perkasa dia, membuktikan ia makin mencintai. Jelas itu omong kosong ..."
(Arswendo Atmowiloto)
Hai...hai.. dan hai lagi... (kebanyakan ya "hai"-nya?? udah dihapus satu kok), ketemu lagi di forum KoKi, mudah-mudahan pembaca enggak bosan ya. Ah, hari ini Pak Wes di Sydney ngajak-ngajak bicara seks nih, "secara" saya agak-agak jengah gitu kalau membahas topik yang satu ini. Kolom ini benar-benar dinamis, dari topik cinta tanah air, penyakit "gila", homoseksual, operasi plastik, militer, besok apalagi, apalagi .... aaahh benar-benar crazee ..
Pembaca yth, cinta dan hubungan seksual merupakan dua faktor utama yang menyatukan manusia, pria dan wanita. Sayangnya, keindahan cinta, kemenarikan seksual, seringkali tak bisa berlangsung selama-lamanya. Akan ada waktunya nanti, ketika daya seksual melemah atau habis, entah dimakan usia, persoalan hidup atau rasa jenuh.
Pada awal perkawinan, kadar cinta, dan ketertarikan seksual begitu kuatnya (apalagi bila belum pernah melakukan hubungan seks sebelumnya), akan tetapi, pada masa selanjutya, hubungan suami istri bisa saja berganti sangat realistik dan mekanik, sehingga sisi-sisi romantisme menjadi hilang.
Ah, masa-masa itu akan semakin berat bila ditimbuni macam-macam persoalan lain, seperti ketemu pacar lama, tak ada (lagi) kebersamaan ide dan minat, kecewa pada pasangan, stres karena pekerjaan, merasa tidak dihargai, komunikasi seks tak berjalan, duit kurang (hehe), didera penyakit, atau munculnya cinta lain. Kalau sudah begini, seseorang bisa saja mengeluh, "Terasa sakit walau hanya disentuh ..." Ouh!
Hubungan seks mengenal batas etika, ketepatan waktu, dan tempat. Yang dapat memberi kenikmatan ketika sama-sama diinginkan, dan menjadi siksaan jika dilakukan di luar keinginan, apalagi dengan tata cara tidak etis atau dilakukan pada waktu dan tempat tidak tepat.
Kalau rajin menyimak berbagai penelitian tentang kepuasan seksual, ketidakpuasan ternyata lebih banyak dialami wanita. Para istri untuk urusan seks sering bersikap pasif, sekadar melayani, tanpa memikirkan dirinya orgasme atau tidak. Sayangnya, ketika nafsu seksual begitu menggebu, pria sering tak peduli perasaan pasangannya.
Di beberapa negara, sejumlah wanita melakukan seks demi kewajiban bukan kenikmatan, dan dapat dipaksa suaminya bila menolak. Kalau toh ada yang cukup kuat menolak, kadang-kadang mereka membayar mahal. Sekitar 13 persen wanita Filipina mengatakan pernah dipukuli suaminya, seringkali malah diperkosa, atau kalau di Jawa dicap kualat!
Lalu, dimanakah keindahannya, ketika seks dilakukan dengan menggerutu??
"Yang utama adalah ....KESETARAAN," begitu pesan pak Wes.
Dr. Goldstein pernah bilang, hubungan seks sebenarnya bukanlah masalah utama ketidakbahagiaan suami isteri. Faktor seks, urainya, hanya 10 persen perannya membuat keluarga sejahtera. Yang lebih dominan adalah cinta, kesetiaan, saling memperhatikan dan terus menerus menjaga kedekatan emosional dengan komunikasi penuh kasih sayang.
Nafsu seks bisa mati dan berhenti, tapi cinta bisa terus jalan sendiri, begitu kata Arswendo, ketika itu cinta tak perlu dibuktikan dengan hubungan seksual. Kalau setelah daya seks melemah, tapi masih bisa betah bersama-sama, itu artinya masih cinta.
Saat seperti itu, akan datang dengan sendirinya, tak perlu dipaksa. Sebagaimana usia, tanpa kecuali, semua bertambah tua, juga dunia.
Selamat membaca ...
**********************
KOLOM KOMENTAR: http://www.kompas.com/kesehatan/news/0606/26/211457.htm
***************************************
Bagian I: SURAT-SURAT ANDA
MEMBINA KELUARGA, MEMBINA MASA DEPAN ....bagian Kesatu : SEX
(WES-Australia)
Dear Zeverina & pembaca KoKi
Oleh karena sedang musim dingin walau tidak sehebat di Eropa atau lainnya, hawa lumayan dingin khususnya buat yang berasal dari daerah Tropis. Angin bertiup agak kencang dan sering diiringi hujan. Suasana malam hari jadi terasa panjang karena langit cepat menjadi gelap. Maka dalam beberapa minggu y.l. kami bertamasya kedaerah lain yang lebih hangat iklimnya - bagusnya itu masih didalam negeri Australia, itulah ’lucky country’ !
Baru kembali lagi kekota tempat tinggal, masih dingin karena musim dingin baru akan berakhir kira-kira sebulan lagi. Mau keluar rumah bila tak ada acara yang pasti rasanya malas........ jadi ya menulis untuk KoKi saja.
Saya hendak menegaskan pentingnya KEHIDUPAN KELUARGA yang mencakup masalah SEX, UANG, PENDIDIKAN BUDI PEKERTI, PERENCANAAN, LOGIKA DAN COMMONSENSE. Cuplikan-cuplikan Logika & Commonsense telah diuraikan dalam tulisan-tulisan y.l., tentu masih banyak aspeknya yang belum diungkapkan. KEBERHASILAN HIDUP SESEORANG UMUMNYA BANYAK TERGANTUNG DARI KEHIDUPAN KELUARGA, meski ada pula yang terjadi bukan karena usaha kita dan TENTUNYA BERKAT ANUGRAH TUHAN. Para orang bijak sejak jaman dulu beranggapan Peranan Keluarga itulah yang membentuk Mentalitas dan Watak seseorang, melebihi sekolah dan masyarakat.
KEBERHASILAN KELUARGA akan membuat KEBERHASILAN MASYARAKAT SEKITARNYA dan selanjutnya akan mendorong KEBERHASILAN SUATU NEGARA.
KALAU SESEORANG TIDAK MAMPU MENOLONG DIRINYA SENDIRI, BAGAIMANA PULA DIA DAPAT MENOLONG KELUARGANYA, APALAGI MENOLONG MASYARAKAT DAN TERLEBIH LAGI MEMBANTU NEGARA !
BAGIAN KESATU : S E X
Mudah-mudahan tidak terkena sensor Zeverina.
Memang pada mulanya Membina Keluarga diawali dengan Cinta, Kasih Sayang dan Kecocokan Pribadi. Tentang masalah ini saya tidak akan membahasnya, karena itu masalah yang sangat pribadi. Coba kita baca cuplikan dari 2 sumber, yaitu Harian Pos Kota yang menyangkut berbagai Kasus Sexual masyarakat Golongan Menengah ke Bawah dan KCM Kolom Kesehatan Bagian Seksologi yang membahas problem sexual Golongan Menengah ke Atas.
Ritual memburu Kaya : Penjara tak membuat Darjan (45 th) kapok berbuat durjana ......berusaha menodai 4 gadis dengan bantuan isterinya dengan alasan untuk ritual mencari kekayaan.
Pengakuan diujung Maut : Lelaki mau menang sendiri. Janda Ny. Lasmi (47 th) diselingkuhi Kamijo (67 th). Begitu hamil tak mau bertanggung jawab malah membunuhnya.
Dendam guru kasmaran : Daldiri (40 th) yang guru SD mungkin dihukum mati gara-gara tak bisa mengendalikan nafsu perkelaminannya. Dia membunuh isteri keduanya Nisah (32 th) hanya karena tak mau diajak rujuk kembali.
Semua diajak masuk sarung : Ditinggal isteri jadi pembantu di Jakarta, Rojak (40 th) dari Batang tak memandang anak kandung dan anak tiri, keduanya diajak ’masuk sarung’ sampai hamil.
Yang tua yang selingkuh : Ny. Yanti (54 th) yang sudah beranak cucu digerebek masyarakat dalam keadaan telanjang bulat seusai berselingkuh dengan Yanto (24 th) yang muda belia dengan alasan suaminya impotent.
Cuma pasokan onderdil : Cinta Warni (24 th) semula setinggi gunung cintanya pada suaminya Kasto (30 th). Tetapi sejak jadi kepala keluarga bisanya memasok onderdil tanpa materil, Warni jadi nekad mau bunuh diri.
Hilang rumah hilang cinta : Apapun gantengnya suami, kalau malas bekerja dan cuma doyan ’ngerjain’. sang isteri pastilah terkena erosi cinta. Celakanya ketika Ny. Nazilah (27 th) menuntut cerai maka Wartak (32 th) kalap membakar rumah isterinya. Kasihan si Nazilah habis semua hartanya.
Nasihat diujung maut : Ajar (29 th) mau menang sendiri, dinasehati jangan selingkuh, malah tersinggung. Lupa Artanti (25 th) adalah ibu dari anaknya, dicekik sampai tewas. Padahal sebelum maut menjemput Artanti sebagai isteri yang berbakti kepada suami, masih mau melayani urusan ranjangnya Ajar yang benar-benar kurang ajar.
KCM edisi 08/08/2006 judul topiknya : SEKSOLOGI : ENAKNYA YA SAMA-SAMA ! oleh DR. Naek L. Tobing. Silahkan membacanya sendiri. Lalu ada pula rubrik Konsultasi yang diasuh Prof. DR. Wimpie Pangkahila yang membahas masalah sexual.
KENIKMATAN SEXUAL ternyata tidak gampang dinikmati kedua belah pihak (suami & isteri). Saya terkejut kok ya begitu rumit dan susahnya memecahkan problem yang satu ini. Dulu tak pernah terpikirkan olehku, masakan soal alamiah seperti itu (yang ’ayam dan kucing’ saja bisa) kok sampai di Seminarkan, dibikin Artikel, Buku, Film dan ada ahli & dokter spesialisnya. Dulu kita bakal sepakat menyeletuk : "Ah, gitu aja kok repot ?"
Ternyata sebetulnya problem sexual ini sudah ada sejak jaman purba, hanya tidak pernah mencuat kepermukaan karena ditutup-tutupi dengan berbagai akal bulus. Boro-boro bakal diajarkan cara mengatasinya yang memuaskan kedua belah pihak - yang terjadi adalah cari ’kambing hitam’. Jaman dulu yang hampir selalu disalahkan adalah kaum perempuan. Perempuan ditakdirkan untuk melayani laki-laki dan berfungsi meneruskan keturunan serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dibangsa dan negara manapun wanita dilarang lebih pintar dari pria (tak boleh bersekolah tinggi), dipingit tak boleh ketemu dan dilihat laki-laki, dibuang ’clitoris’nya agar tak bisa merasakan kenikmatan sexual, dipakaikan celana besi yang digembok agar tidak bisa menyeleweng, dikecilkan kakinya agar tak bisa kabur, dipasangi berbagai perhiasan berat (besi) agar tak dapat lari dan berbagai penyiksaan yang dikemas dalam bentuk tabu, kepercayaan, adat dan agama. Jika suaminya banyak ’jajan’ diluaran atau piara gundik, yang disalahkan adalah bininya yang dianggap tak becus melayani suaminya. Bila mandul atau tidak mampu beranak laki atau perempuan itu adalah salah perempuan.
Padahal sekarang berdasarkan ilmu pengetahuan telah terbukti masalah sexual adalah masalah perempuan dan juga masalahnya laki-laki. Dipihak perempuan : Mandul, Vaginismus, sukar orgasm, dingin tak romantis serta tak paham merangsang akibat pendidikan sex yang keliru, ’konstruksi’ alat genitalnya ada yang kurang beres. Dipihak laki-laki : Mandul, Impotent, Ejakulasi Dini, dingin tak romantis serta tak paham merangsang akibat pendidikan sex yang keliru, ’konstruksi’ alat kelaminnya kurang beres. Sejujurnya, problem sexual justru lebih banyak dialami oleh pria ketimbang wanita.
Buat pria mengidap impotensi dan ED jelas tidak mampu melakukan aktifitas sexual sebelum diobati dan sembuh, sedangkan bagi wanita meski tidak pernah orgasm (asal jangan vaginismus) masih bisa melayani suaminya. Ternyata banyak pasangan suami isteri bahkan yang sudah menikah puluhan tahun, isterinya tidak pernah mengalami kenikmatan sexual namun isterinya tidak pernah complaint - tetap rukun dan setia, tentu dengan catatan tidak ketemu pria lain yang ’menggodanya’ dan ’memberi pengalaman sexual yang menyenangkannya’.
Saya berharap janganlah tulisan saya ini dianggap mengangkat kaum perempuan dengan menekan kaum pria. Yang saya maksudkan adalah KESETARAAN sebagai wujud Emansipasi (tetapi saya kurang setuju dengan istilah ’Women Lib’ yang saya lihat kebablasan). Jadi cuplikan "Yang tua yang selingkuh" dimana seorang nenek main sex dengan pria muda - itu sih bukan kesetaraan atau emansipasi, itu sih kebablasan cari pembenaran diri. Kayaknya jaman sekarang tidak ada gunanya untuk ’saling membodohi’ dan ’saling menakut-nakuti’ - untuk golongan menengah keatas semuanya sudah serba terbuka. Cepat atau lambat akan terkuak kebenarannya.
Oleh karena kehidupan sexual memainkan peranan penting yang mula-mula dalam membina kehidupan keluarga yang serasi dan bahagia, maka sebelum menikah seyogyanya kedua belah pihak harus menyadari kekurangan sexual masing-masing. JIka punya problem sexual misalkan berkecenderungan untuk menjadi Gay/Homo atau Lesbian, lebih baik tunda pernikahan dan bila tidak bisa diperbaiki ya lebih baik putuskan untuk tidak menikah dengan lain jenis. Jangan menikah hanya untuk menyenangkan agama/budaya, famili dan masyarakat sekitar atau menutupi identitas Anda. Yang memaksakan diri untuk menikah bakal repot, ruwet dan menderita sepanjang masa perkawinannya.
Kalau yang perempuan menderita Vaginismus atau pria menderita Impotensi atau ED lebih baik berobat dulu sampai tuntas. Seandainya tidak juga bisa disembuhkan, bahkan lebih bijak dan lebih baik untuk tidak menikah saja.Toh dipaksakan, hasilnya bakal bikin menderita kedua-duanya.
Dimasa muda saya nyaris tak ada buku pendidikan dan pengetahuan sex, sedangkan orang tua dan masyarakat tabu membicarakannya. Adalah suatu berkah dan keberuntungan kami bisa menikmati sexual, keharmonisan dan kebahagiaan secara alamiah saja. Begitu pula barangkali buat Anda para pembaca yang sudah berusia setengah abad keatas. Bagi generasi yang lebih muda, kalian sekarang bisa dengan mudah mempelajarinya dari buku-buku, TV, DVD maupun Seminar. Kenikmatan sexual harus bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, suami maupun isteri. Tak usah malu-malu atau risih membicarakan dan merundingkannya. Itu adalah hak dan kewajiban berdua..........KESETARAAN. Semoga kalian bisa membina keluarga yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kami-kami. Regards, WES, Australia
************
Penampilan Luar dan Dalam
(Ad- Ireland)
Hi Zev apa kabar, semoga baik dan sehat selalu demikian juga dengan seluruh staff redaksi Kompas ini.
Summer in Ireland last month is very... very hot, sticky and heavy weather, ngga kaya biasanya sampai aku harus beli kipas angin karena sudah tidak tahan sama udaranya. Tapi masuk bulan Agustus cuacanya sudah mulai kembali seperti biasa ... hujannnn ... hampir tiap hari.
Beberapa hari yang lalu aku iseng2 buka bagian kontak jodoh di salah satu media massa Indonesia untuk cari2 cowo yg barangkali aja ada yang cocok untuk temanku yang di Jakarta. Ternyata banyak juga cowo2 yang masih bujang di Indonesia ini yah... tapi... setelah aku telusuri kriteria2 yang mereka cari dari seorang wanita untuk dijadikan pendamping hidup... ajigile.... kaya kriteria lowongan kerja...dan tinggi sekali.
Kebanyakan dari mereka mencari wanita yang cantik ( ini yang paling dominan), kulitnya putih, tinggi, langsing, pintar, pengertian, keibuan, satu agama , dan sabar. Jadi seperti iklan untuk model.
Ini membuatku jadi berpikir ternyata hampir semua cowo mencari istri yang sangat... sangatlah ideal, lalu bagaimana dengan diri mereka sendiri apakah mereka juga sudah memenuhi standar seperti yang mereka ajukan ke ’calon2 istri’ mereka? dan bagaimana dengan para perempuan yang tidak memenuhi " standar" yang mereka terapkan? apakah itu artinya mereka tidak berhak untuk mendapatkan pendamping hidup?
Walaupun aku sudah menikah dan bersyukur sekali ternyata suamiku tidak mencari standar yang seperti itu, tetap saja kriteria yang cowok2 itu inginkan membuatku sedikit kesal dan sebal... emang sih sebenarnya itu hak-hak mereka dalam menentukan pasangan hidup. Yang membuat kesal dan sebal adalah mereka sendiri juga kalau aku lihat dari beberapa tampang mereka tidak ganteng, tidak putih dan juga ada pula yang tidak begitu tinggi. Lalu kenapa mereka hanya melihat penampilan seseorang dari segi luarnya saja? Menurut pendapatku .. aku sebagai perempuan seperti jadi barang komoditi yang bisa dipilih-pilih... apalagi kalo sudah masuk dalam hitungan umur kepala 3...membuatku jadi berpikir bakalan sulit sekali untuk bersaing dengan yang lebih muda. Seperti surat yang ditulis oleh pretty countess di Koki sebelumnya yang broken berkali2 dan pacaran yang terakhir putus setelah berlangsung 1 tahun karena cowoknya masih mencari yang cocok??? ... koq perempuan malah dijadikan seperti sepatu, baju . atau ada juga istilah lamanya habis manis sepah dibuang....
Nah kebetulan temen akrabku ini sudah kepala 3 dan adik perempuannya sebentar lagi akan menikah yang artinya dia akan dilangkahi. Dia ini sudah pacaran beberapa kali tapi selalu aja dibohongi. Yang pertama serius ... tapi keluarga cowo ngga setuju ... dan malahan akhirnya eks cowonya menikah dengan bekas pacarnya yang dulu, pacar yang ke-2 ... eh... udah punya bini... tapi ngga ngaku terus terang... sampai2 temenku ini frustasi.. dia juga sudah mencoba kontak jodoh di internet .. tapi hampir semuanya mental...dan kebetulan temenku ini kriteria fisiknya tidak seperti yang diajukan oleh para cowo pencari istri itu.
Yang namanya penampilan luar itu kan hanya penampilan semu, ada yang cantik karena dioperasi plastik berkali2, ada yang berkulit putih karena memakai obat krem pemutih, yang kesemuaannya itu akan hilang dengan berjalannya waktu maksudnya bila kita menjadi tua.. wajah kita akan peyot, gigi juga mungkin sudah ompong dan pakai gigi palsu, kulit pun jadi keriput... dan bagi yang mempunyai uang bukan masalah karena bisa operasi plastik lagi seperti bintang2 film. Mengapa tidak banyak orang yang mencari pasangan dari segi penampilan luar dalam ( fisik dan kepribadian ) tidak hanya dari penampilan luar saja. aku umpamakan jadi seperti kentang yang kulitnya putih kuning dan begitu dikupas ngga taunya didalamnya banyak yang busuk.
Aku malah pernah baca di koran harian lokal Irlandia ini ada seorang pria yang berwajah seperti werewolf karena dia mempunya penyakit kelainan gen yang menyebabkan seluruh badannya mempunyai banyak bulu melampaui manusia normal, dia pikir tidak akan ada seorang wanitapun yang akan pernah mencintai dia dengan sungguh2 karena kondisi dirinya tapi yang nasib memang berkata lain ternyata ada seorang wanita yang benar2 jatuh cinta kepadanya dan malahan mereka menikah, ketika ditanya oleh wartawan apa yang menyebabkan si wanita ini jatuh cinta ? dia bilang bahwa dia jatuh cinta dengan kepribadian yang dimiliki oleh cowo werewolf ini bukan karena penampilannya.
Dulu sebelum aku menikah aku mempunyai seorang temen dekat pria yang kalau kemana2 kita selalu berdua, dia selalu bilang sama aku kalau dia suka sama cewe yang putih dan langsing juga cantik...saking sebelnya ... aku bilang lalu bagaimana kalau kamu sudah menemukan apa yang kamu cari ternyata tidak sayang, tidak setia, egois, hanya mau uang kamu saja, tidak bisa diajak susah dalam hidup, apa kamu masih mementingkan kriteria yang kamu cari itu?
Wah... pokoknya Zev banyak sekali unek2 ku setelah aku membaca iklan jodoh itu dan kalau aku terusin bisa berlembar2 , tapi aku cukup senang sudah bisa melampiaskannya setengah di dalam rubrik Koki ini , mudah2 an para pembaca terutama pembaca pria tidak salah tanggap yah... karena aku tahu tidak semua pembaca pria seperti yang aku ceritakan diatas, lagian ini hanyalah sebuah unek2 koq...
Oke deh sampai disini dulu surat ku , salam manis untuk pembaca semuanya. Take care Zev.
****************
Soal Penampilan dan Cantik
(Alex-Bangkok)
Dear Zev, selamat pagi, apakabar semoga baik-baik saja. Saya terus terang sempat tersenyum-senyum membaca tulisan saudara DiPe dari Italy dan saudara/i Flores dari Manila. Ini mengingatkan saya pada masa-masa lampau sewaktu masih di Jakarta dan ketika awal-awal kerja di luar negeri. Kalau dulu saya pernah menulis soal inner beauty, sekarang saya ingin berbagi pengalaman dan pemikiran soal kecantikan fisik dan penampilan.
Zev, kalau dipikir-pikir sebenarnya penampilan itu bukanlah hal yang mutlak, akan tetapi di era modern seperti sekarang nampaknya jadi semacam standard de facto yang sulit untuk di abaikan. Ini saya rasakan sekali di awal-awal lulus kuliah. Dulu beberapa kali saya tidak diterima bekerja karena masalah "cacat" kecil yakni mata yang tidak fokus 100% alias agak-agak juling. Awalnya saya tidak percaya, karena yang interview juga tidak pernah bilang, bayangkan dari segepok lamaran, bisa sampai kepada tahap interview adalah suatu perjuangan, dan tersisih di tahap interview, padahal saya sudah berusaha tampil meyakinkan, presentasi diri secara elegan, tokh terakhir ke lempar hanya karena wajah yang kurang tampan dan mata yang agak juling. Tadinya saya tidak tahu, tapi akhirnya seorang teman memberitahu, karena dia bingung sebab saya bukan murid yang bodoh, dan IPK juga lumayan (kalo enggak lumayan masa bisa merantau ke luar hehehe). Ini lantaran salah seorang bekas vice president di salah satu perusahaan yang mempekerjakan saya menyarankan untuk operasi mata. Ketika saya bertanya soal itu ke seorang sahabat, dia bilang memang nampaknya cacat fisik merupakan kekurangan saya pada saat interview. Terus terang saya agak sedikit shock, padahal kebanyakan pekerjaan yang saya lamar hanya sedikit berhubungan dengan dunia marketing. Malah pekerjaan pertama saya di bursa valas dan futures justru saya adalah salah satu top konsultan bisnis dan harapan perusahaan, karena yang lain-lain belum pernah menciptakan track record penjualan dan menggaet klien seperti saya. Lalu perlahan-lahan saya review diri saya, what’s wrong with me, ternyata kebanyakan para interview melihat dari penampilan fisik saya, ini kan lucu, padahal posisi yang saya lamar belum tentu ada hubungannya dengan dunia penjualan. Ok lah kalau marketing mungkin harus tampan dan necis, itu saya tidak membantah, walaupun saya sekarang kalau jadi consumer tidak selalu memilih sales yang ganteng atau cantik untuk membeli suatu produk. Tapi lucunya ada posisi-posisi yang seharusnya lebih brain minded malah ada orang yang menilai penampilan.
Kemudian pada masa-masa awal saya bekerja di luar negeri, ini ada fenomena yang cukup menggelikan juga. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Thai sangat mementingkan penampilan, sampai rumah sakit operasi bedah plastiknya sangat terkenal di seantero jagat karena menjadi referensi operasi kelamin dan bedah plastik para pemuja kecantikan maupun yang kepingin sekedar ganti wujud (pria jadi wanita yang wanita kepingin jadi pria). Maka karena penampilan saya yang agak sembrono itu, saya pernah agak di pandang remeh ketika mengajak lunch seorang gadis Thai di salah satu restoran Italy terkemuka. Pelayannya terkesan agak asal-asalan meladeni ketimbang meladeni meja lainnya yang kebetulan di isi oleh rombongan keluarga Thai HiSo (High Society - kelas elit). Saya terus terang sebal, tapi diam saja, pasalnya gadis yang mendampingi saya juga tidak mempermasalahkan mungkin dia tahu tapi tidak mau ribut seperti umumnya orang Thai yang lebih suka menghindar keributan. Maka sejak saat itu saya ganti penampilan, agak lebih rapih dan kelimis kalo keluar masuk mall atau restoran, malah kadang keterlaluan karena pakai sepatu kulit segala, padahal saya lebih doyan pakai sandal dan sepatu kets ke mana-mana. Dan ini juga di rasakan oleh beberapa teman orang Indonesia, yang sempat sebal juga karena ada customer service yang meladeni tapi matanya menilai jam tangan yang dia pakai. Makanya ketika saya suatu saat, karena ada kepentingan mendesak untuk menghadiri undangan pernikahan salah seorang rekan kerja orang Thai dari kalangan hiso, terpaksa harus pontang panting keluar masuk toko pakaian untuk cari satu stel jas dan dasi yang bagus. Padahal saya paling ogah pakai dasi, meskipun pernah lama kerja di bank. Boleh percaya atau tidak, orang Thai itu saking beauty minded, sampai buruhnya pun jarang ada yang bau ketiak, anak buah saya saja semuanya wangi-wangi biarpun seharian keringatan bongkar muat puluhan kontainer. Saya bingung itu modal beli deodorant nya sebulan habis berapa ya hehehe.
Padahal di mana-mana yang namanya penampilan dan kecantikan itu semu. Banyak orang yang bela-belain punya mobil padahal rumahnya cuman sepetak kamar ukuran studio di apartement murahan. Atau ada yang bela-belain nyicil BMW bekas padahal gajinya cuman setingkat officer biasa. Tapi mungkin memang dunia sudah begitu ya, motto-motto seperti "you are what you drive" atau "you are what you wear" sudah menglobal dan meracuni hidup dan semua bentuk tatanan sosial. Saya sendiri pernah beberapa kali dipaksa untuk membeli mobil berukuran besar (harganya juga besar) hanya karena pemikiran tidak rasional, padahal saya lebih suka naik city car yang murah meriah dan irit. Lucunya pemikiran orang sudah sedemikian teracuni nya oleh gaya hidup sehingga apa yang orang lain kenakan atau gunakan jika tidak sesuai dengan apa yang mereka nilai akan di cibir atau malah di kritik kalau tidak di jauhi. Bahkan ada yang beranggapan kalau orang ganteng dan cantik itu pasti jujur, baik dan bisa dipercaya. Ini kan sudah membalikan segala nilai-nilai dasar dalam tatanan hidup bermasyarakat dan lucunya tidak ada yang mempermasalahkan, sehingga timbul para penipu dan penjahat berwajah tampan, cantik, manis dan berpenampilan elegan.
Mungkin sudah saatnya kita menilai ulang nilai-nilai yang selama ini kita anut, dan paham-paham dalam masyarakat mana saja yang perlu diikuti dan mana yang tidak perlu diikuti. Saya fikir kalau semua orang mau sedikit berfikir kritis tentu tidak akan menjadi korban mode ataupun korban iklan yang semakin hari semakin menentukan trend dalam masyarakat. Tampil keren boleh saja, tapi sesuaikan dengan isi kantong dan tujuan berpenampilan, jangan kalau cuman pergi isi bensin lantas pakai kemeja dan celana bahan serta sepatu kulit, itu namanya sudah korban mode hehehe. Salam, ALEX.
*****************
Relawan Jihad vs. pengabdian pada sesama bangsa
(Sandy T. di Houston, Texas)
Hi Zev, terima kasih sudah memuat surat tanggapanku beberapa bulan yl. Sekarang aku ingin nimbrung lagi nih, mengutarakan sedikit uneg2 yang mengganjal. Tolong alamat e-mail ku jangan dimuat ’ya? Terima kasih!
Akhir2 ini aku banyak baca tentang banyaknya orang Indonesia yang ingin menjadi relawan jihad, ikut pergi ke Libanon untuk membantu rakyat Libanon dan Palestina yang sedang digempur oleh pasukan Israel. Malah kemarin aku juga baca bahwa ada seruan agar pemerintah RI ikut membantu mempermudah relawan2 ini pergi ke medang "juang" di TimTeng. Bukannya aku nggak iba dan tergerak lho dengan penderitaan rakyat di Libanon dan Palestina, tapi Zev, terus terang aja aku nggak ngerti nih: Kenapa sih orang Indonesia koq sepertinya latah mau ikut2 campur dengan urusan2 yang sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dengan bangsa dan negara kita sedangkan di dalam negeri sendiri masih banyak problem2 yang belum terselesaikan yang sebetulnya masih sangat memerlukan bantuan kita semua? Kenapa banyak orang merasa terdorong untuk ikut angkat senjata di Libanon tetapi tidak terdorong untuk ikut angkat cangkul membantu membersihkan puing2 bekas tsunami di Pangandaran? Kenapa banyak yang merasa harus unjuk rasa untuk rakyat Libanon/Palestinia/Siria, tapi tidak merasa perlu unjuk rasa untuk kesenjangan sosial di tanah air yang berakibatkan ratusan balita busung lapar, kurang pendidikan, dan terkena berbagai penyakit?
Aku menduga bahwa kebanyakan orang2 yang ingin jadi relawan jihad ini tidak bisa berbahasa arab dan belum mengenal medan pertempuran di Libanon, jadi seberapa efektifnya mereka nanti di sana? Apakah akan betul2 membantu? Atau nanti malah nyusahin pemerintah kita (KBRI setempat) karena harus dimomong pulang kalau terluka atau tersesat? Tidakkah mereka ini semua akan jauh lebih berguna (dengan bahasa Indonesianya yang lancar, tenaga yang kuat, dan hasrat membantu yang menggebu2) sebagai relawan di Aceh (membantu membangun kampung2 dan infrastruktur yang rusak kena tsunami tahun 2004), di Yogya (membersihkan puing2 dan membangun perkampungan2 yang rusak kena gempa), di Pangandaran (membersihkan puing2 bekas tsunami, membantu mencari korban2 yang masih hilang), dll, dll. Di luar daerah2 bekas bencana ini pun masih banyak pelosok Indonesia yang memerlukan bantuan untuk memperbaiki infrastruktur, tingkat pendidikan, pelayanan kesehatan, dll, dsb.
Murnikah itikad relawan2 jihad ini ingin betul2 membantu ataukah sebetulnya terdorong oleh keinginan dilihat sebagai "pahlawan" (atau malah "jagoan")? Apakah mengangkat senjata dan menghancurkan sesuatu di negeri orang itu lebih mulia dari pada membenahi dan membangun sesuatu di negeri sendiri? Masakah tiap kali ada bencana di Indonesia kita cepat2 mengulurkan tangan meminta bantuan dari luar negeri sementara banyak kalangan dari masyarakat kita sendiri kelihatannya lebih tertarik untuk membenahi negara orang lain? Kapan negara kita akan maju dan jaya kalau kita lebih tertarik perang2an di negeri orang dari pada membangun tanah air?
Gimana nih, Zev, apakah aku ini menginginkan yang terlalu muluk untuk bangsa dan negara kita? Marilah kita introspeksi diri, di manakah kita masing2 bisa mengabdi sebaik mungkin? Haruskan selalu di medan perang? Salam.
*************
Apa yg dapat kuharapkan dari negriku??
(Alma-Singapura)
Sebelumnya makasih ama zev.....Dan juga sama Ocha di prancis yg ceritanya membuat saya bener2 tersentuh, ternyata masih ADA orang yg baik yg mau memperhatikan n peduli sama TKI.
Zev sesak dada ini memendam segala keluh kesah yg mengganjal dihati. dr pada jadi penyakit yg ndongkol dihati lebih baik kutuangkan lewat sini....( penyakitnya yg kutuangkan...kelegaan yg kudapatkan...makasih zev). Kemana kuharus pergi? negaraku sendiri tak dapat memberikanku harapan yg pasti.......apalagi dng bekal pendidikan yg hanya lulusan slta spt aku ini....ingin ku sekolah tinggi spt yg lain tp apalah daya aku hanyalah anak yg terlahir dr keluarga yg bapakku bekerja sbg tukang tambal ban dan ibuku adalah penjual sayur. Perjuangan orangtuaku tuk menyekolahkan aku dan ke2 saudaraku walaupun akhirnya harus terlilit hutang memang tak sia2. tp zev coba kau bayangkan di indonesia dengan lulusan slta apa yg bisa diharapkan? ini semua membuatku berfikiran untuk memutuskan kerja keluar negri sbg PRT....tuk meringankan beban hutang keluargaku.
Menangis hatiku.......... / Siapa yg mau bekerja sbg PRT!/ ini bukan keinginanku BUKAN pula cita2ku...... yg membuat aku down waktu nonton sebuah film yg mengatakan "sekali guru tetap guru" dalam hatiku bertanya "terus klo aku ini pembantu apakah aku akan terus jd pembantu? "NGGAK!!!!" itu yg kumau.
Zev aku cuma ingin curhat krn aku nggak tau kemana lagi harus kutuangkan keluh kesah ini. kali ini bukan orang2 yg WAH seperti yg selalu kau terima tp ini aku seorang yg bekerja sebagai pembantu rumah tangga.... Yang kami harap adalah perlindungan ketika kami semua (TKI) berada dlm kesulitan yg kami bener2 tak tau kemana dan pada siapa orang yg mau dengan tulus menolong kami. Ancaman terbesar ketika sudah dapat majikan adl "dipulangkan",,,,udh dipulangkan masih dapet mark yg menandakan bahwa mrk yg dipulangkan pekerjaanya nggak beres, sebenernya yg nggak beres itu majikanya yg nggak mau ngerti sikon, maunya cuma memanfaatkan yg lemah.
Masih banyak lagi penderitaan yg TKI tanggung yg apabila kuutarakan disini mungkin terlalu panjang dan pada umumnya semua orng tau seperti apa kehidupan jd PRT. Sebenarnya zev aku berpikir bermilyar kali, apa nggak malu curhat ama zev yg tiap kali dapat e_mail dr orng2 yg WAH tadi.......yg cerita mereka juga WAH buatku. terus klo kupikir lagi "buat apa malu" ada yg bilang pejabat tinggi yg korup berberapa bilyun itu nggak malu trus aku yg kerja sbg pembantu yg ber jg penghasilan dr jirih payahku sendiri...malahan kadang aku merasa bangga jd pembantu rumah tangga dr pada jadi pejabat kuaya roaya yg hasilnya dr ngorupsi duit negara.....
Ini pantunku buat temen2 seprofesi hehehe
Indonesia adalah negara kita
Apa yg kau dapat darinya?
cari uang disingapura
jd pembantu rumah tangga
Aku tanya!
Masih banggakah kau jd orng indonesia?
Kau adalah pahlawan sejati indonesia
lebih baik jd pembantu rumah tangga
dr pada pejabat yg merugikan negara
Banggalah!
Statusmu lebih mulia dibanding pejabat2 gila
Yg SOK jadi pahlawan negara
Siapa yg mau jd pembantu?
Ini bukan pilihanku
Bukan pula cita2ku
aku bangga jd pembantu rumah tangga
dr pada jd pejabat kaya yg kerjanya ngorupsi negara
cepatlah sadar
benahi diri dan negara
kami
sehingga kami bisa benar2 bangga jd WNI
Dengan menjadi PRT bukan berarti ini jd harapanku.... coba bayangkan seorang ibu yg bekerja sbg PRT yg upaya dia adl untuk menyekolahkan anaknya bukankah itu mulia... Dan pastinya km tau sendiri buanyaaak suekali wanita indo yg jd PRT tp pemerintah nggak memberikan perhatian khusus pada kami. Tolong jangan jadikan ini membudidaya.... kuingin masa depan anak2 indo bisa mengais hasil dr negri sendiri, yg dapat mencukupi kehidupan paling tidak jangan sampai ngutang. Kapan itu KAPAN!!!!!!!!!!!! Makasih sekali lagi buat zev n ocha
I want to love my country/ coz NO other country that will love me like i do/ is my country love me?/ than why i’m being here/ Do i hv to/ love my country?/ I do for not wanting hate my country/ but .......
***************************************
BAGIAN II: TANGGAPAN ARTIKEL SEBELUMNYA DAN SURAT-SURAT PENDEK
Penghargaan: PR dari (dan untuk) Zev
(JJ-Amerika)
Dear Zev & pembaca KoKi,
Kemarin Zev memberi PR, "Saya ingin bertanya hal lain, boleh ya? Penghargaan apa yang Anda harapkan dalam hidup ini? Apakah Anda lebih mementingkan penghargaan ekonomis?? Penghargaan dari segi kekuasaan?? Penghargaan intelektual, ataukah penghargaan estetika?" Hmmm apa ya jawabannya... Kalo ingin semua yg disebut diatas nanti dibilang maruk lagi hehehehe... Boleh ngga Zev kalo ada pilihan yang lain?
Mengharapkan penghargaan memang seperti membuat hidup lebih hidup. Tapi... apa sih sebenarnya motivasi dibalik penghargaan itu? Apa memang itu untuk menunjukkan eksistensi diri kita; ataukah ada sesuatu yg lebih dalam dari itu yg tidak kita sadari yaitu "to do something just to please someone else" (melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain)? Bukankan menyenangkan orang lain itu suatu hal yg hampir mustahil karena keinginan orang lain itu cepat berubah-ubah dan tidak bisa kita kendalikan? Betapa melelahkan dong ya kalo begitu hidup ini. Hidup yang dikendalikan oleh orang lain. Hidup yang hanya mengejar penghargaan orang lain. Hidup yang bukan merupakan pilihan kita. Menyenangkan orang lain sekedar memuaskan ego kita. Menyenangkan orang lain yg justru membuat kita menderita.
Jadi, apakah mengharapkan penghargaan itu salah? Hmmm... ndak ada yg salah sih dgn penghargaan. Cuma mungkin ya mbok ngga perlu diharapkan gitu lho. Biarlah penghargaan -apapun itu- datang begitu saja tanpa kita duga, tanpa kita harapkan. Karena mengharapkan penghargaan kira-kira sama dengan mengharapkan imbalan atau pujian. Padahalkan segala pujian itu hanya milikNya. Setiap pujian yg kita terimapun sebaiknya juga dikembalikan kepadaNya. Dengan begitu apapun yg kita lakukan, akan dilakukan dengan sepenuh hati tanpa peduli apakah nantinya orang lain memberikan penghargaan atau tidak. Sehingga kita bisa selalu berbuat yg terbaik dari kemampuan yg kita miliki dengan suka cita. Tanpa kecewa diakhirnya bila tak ada yg peduli dgn karya/perbuatan kita. Tanpa menggerutu bila tak ada satupun penghargaan/pujian yg datang setelah kita bersusah payah. Yang terpenting kita sudah berbuat yg terbaik dan akan terus berusaha memberikan yg lebih baik lagi. Percayalah, hukum alam itu adil. Bila kita memberikan yg terbaik tanpa pamrih maka kita akan menerima yg lebih baik lagi yang datang dari arah yang tidak kita duga-duga.
Jadi untuk menjawab pertanyaan Zev diatas, jawaban saya adalah penghargaan dari diri sendiri saja tanpa perlu diketahui orang lain, tanpa mengharapkannya dari orang lain. Hehehe... nyambung ngga sih....
Saya jadi teringat masa-masa awal Kolom ini (yang waktu itu belum bernama) ketika ada seorang pembaca yang memberikan pujian untuk Zev dan Zev menyatakan bahwa ia sebenarnya jarang mendapat pujian. Dan ketika ada pembaca yg menyelamati Zev yg mungkin dapat promosi karena semakin populernya KoKi ini dan Zev pun bilang "tidak ada tambahan bonus utk mengelola KoKi ini lho"... gitu kira-kira kata-katanya ya Zev... hehehe... Lalu apa yg memotivasi Zev yg pekerjaan sehari-harinya sudah seabrek-abrek tapi tetap juga dengan senang hati dan sepenuh hati mengelola KoKi ini? Sekalipun harus mengurangi jatah tidurnya setiap hari. Sekalipun tidak ada direct monetary reward. Sekalipun rela terganggu hari2 pekannya karena harus mengecek komentar2 pembaca di kolom komentar. Sekalipun ini sudah berjalan hampir setahun lamanya.... Ah, biar Zev saja yang menjawabnya deh.... hehehe... gantian ngasih PR nih Zev...
(JJ, PR-nya dijawab ’ntar aja ya, boleh enggak? "secara" udah dini hari nih, udah "mampet" enggak bisa mikir lagi, hehe)
****************
Retail Therapy
(Lisa Cohen, New York)
Ngomong-ngomong soal Retail Therapy, saya jadi ingat bukunya Sophie Kinsella – Confession of a Shopaholic, yang sekarang kayaknya sudah ada 4 seri. Emang kocak banget bukunya yang cerita tentang seorang wanita single (di seri ke satu) yang shopaholic alias gila belanja. Waktu bacanya, saya sampai ketawa-ketawi sendiri karena kalo saya mau belanja, saya kayaknya suka punya pikiran yang sama alias dengan berbagai alasan yang seringnya ngak masuk diakal, untuk beli barang yang saya suka walaupun ngak terlalu butuh.
Di AS sini, gairah belanja memang tinggi. Apalagi dengan credit card yang begitu gampangnya di dapat. Kalo sampe ngak bisa kebayar, bisa file bankrupt (sekarang hukumnya sudah berubah yang bikin agak sulit untuk file bankrupt). Coba liat kalo ke mall-mall apalagi kalo ke outlet mall. Orang belanja ngak kira-kira sampe bisa satu mobil. Soalnya outlet mall juga biasanya jauh dari kota jadi pikirnya sekalian kali. Belum lagi iklan-iklan yang bikin kita kepingin beli. Iklannya selalu bilang “safe 50% off”. Sebenarnya kalo kita ngeluarin uang, apa betul kita safe money? Memang mungkin kalo beli kulkas, atau mesin cuci, kalo sale itu memang menguntungkan, tapi kalo beli baju atau sepatu, apa bener kita safe money? Baju kan sudah banyak, sepatu juga. Kan malah keluar uang bukannya ngirit uang?.
Saya ketemu temen yang asalnya dari Sydney, katanya buset deh orang Amrik. Dia naik taksi dari airport di Washington DC, supir taksi bukannya promosiin museum, atau tempat-tempat bersejarah/turis malah rekomendasinnya ke mall ini itu. Di Australia (saya sempet tinggal lama juga di Melbourne), karena tempatnya memang rada ‘terasing” (bukan port singgahan seperti Singapore), maka barang-barang juga mahal banget, apalagi barang merek. Jadi memang waktu saya tinggal disana, juga jarang belanja. Pokoknya seperlunya saja. Tapi di New York, it is almost impossible kalo ngak belanja.
Ibu saya kalo jalan-jalan ke sini, belanja juga mati-matian. Namanya jeans Guess itu diborong semua buat adik-adik saya. Katanya kalo di Jakarta atau Australia ini harganya bisa beberapa kali lipat loh. Kan mahal disana jadi mumpung sudah kesini, beli yang banyak sekalian. Buset deh saya bilang. Kalo memang jeans Guess itu mahal, apa harus pake yang merek Guess? Begitu juga kalo sepupu saya berkunjung, belanjaaaaa terus.
Ada temen saya baru pertama kali ke Manhattan, saya tanya nginep di hotel mana? Katanya di midtown, deket shopping district. Semua pada ketawa. Di Manhattan mana ada namanya shopping district? Semuanya shopping district..... Tokonya itu dimana-mana. Memang di sekitar Macy’s Herald Square, suka dibilang fashion district. Tapi soal shopping ada dimana-mana.
Kalo saya, karena orang ‘local’, meskipun belanja jalan terus, tapi untungnya udah tau kapan harus belanja (kalo ada sale di hari-hari tertentu) dan tentunya dimana belanjanya. Kalo pindahan, baru ketahuan banyaknya itu barang. He he he …… After all, it is almost humanly impossible to have too much shoes, right?
****************
Dual Citizenship
(Harry Lukman, Washington, DC)
Zev and pembaca KOKI yth,
Zev, singkat saja, ini jawaban buat harintho, tempo hari waktu saya balik Indo memang passport Indonesia saya hampir habis, lalu di buat di Indonesia langsung dapet 5 tahun, waktu saya balik ke DC dan mau ganti alamat US di passport Indonesia saya yang baru memang salah satu persyaratan adalah bukti residency di USA, sebelom mereka minta bukti residency di USA saya lampirkan passport Indonesia yang lama (yang ada alamat saya di USA). Saya bilang waktu pas pulang ke Indonesia sekalian buat passport disono karena passport hampir abis (emang bener kok passport hampir habis).
Semoga penjelasan saya bermanfaat. Greetings from the American Capital, Harry Lukman, Washington, DC
****************
Bangga Menjadi Warga Negara Indonesia
(Kornelya-Amerika)
HI Zeverina, makin menarik saja KOKInya.
Beberapa minggu terakhir ini banyak tulisan di KOKI mengenai apakah kita bangga menjadi WNI ? Yang pada umumnya kalau boleh saya simpulkan , kita bangga kalau pengakuan keberadaan akan status WNI kita direspek secara positif oleh sahabat , kenalan , kolega atau extended family yang nota bene orang asing. Adalah suatu kekeliruan kalau sebagai WNI yang tinggal diluar negeri mengharapkan setiap orang asing yang kita temui apalagi yang belum pernah ke Indonesia untuk i respek positif terhadap Indonesia. Orang-orang ini berasumsi berdasarkan berita . Karena berita itu sendiri,menyebar ketakutan yang membentuk opini mereka . Menurut saya Bangga yang dimaksud para panelis itu = Kesombongan / Congkak.
Jangankan Bangga menjadi WNI diluar Negeri, kebanggaan akan kampong halaman, kebanggaan akan anggota keluargapun kadang pudar tertutup oleh materi. Cerita orang yang lupa bahasa daerah asalnya setelah di Jakarta sudah sering menjadi lelucon. Bahkan setelah diluar negeri mengklaim diri Indonesia tetapi tidak seperti atau sekampung dengan si anu yang menurut dia tidak patut diakui. Entah itu dikatakan karena kesombongan materi atau intelek. Yang seperti ini sudah jelas tidak punya harga diri, tidak PD, minder boro2 dibilang Nasionalis. Saya merasa lebih pantas dikatakan harga diri sebagai WNI ketimbang Bangga sebagai WNI . Orang yang mempunyai harga diri tidak minder, tidak meremehkan orang dan tidak mengagungkan materi. Tulisan2 pak Wes dari Australia banyak menggambarkan hal ini secara bijak.
Harga diri bangsa tidak perlu ditunjukan dengan kemutakhiran alat perang, kelicikan monopoli dagang, atau manipulasi fakta. Mungkin terlalu bombastis kalau saya katakan saat ini , Warga Negara Indonesia yang memegang teguh harga dirinya adalah Warga Bantul dan Jogya yang baru ditimpah bencana. Kompak. Tidak berlama2 meratapi kemalangan , tidak mengkomersilkan keadaan untuk mendapat bantuan, mensyukuri setiap bantuan yang diterima, tetap bekerja keras dengan senyum dan sapaan ramah yang tulus. Saya bukan penulis yang bisa mendeskripsikan keadaan di Jogya secara baik, namun Satu Minggu di Jogya selama bulan Juli, memberi pelajaran nyata bagaimana menghadapi kemalangan . Suami saya mengatakan Jogya Land of Peace.
************
Tanggapan Fisher Price Little People A-to-Z Learning
(Chiquitita H-Sydney)
Hallo Zev...Salam kenal. Sudah lama jadi pembaca setia KOKI, tahu dr website mixcouple. Menjelang ganti website yg baru, saya tidak tahu jadi selama 2 minggu tdk baca KOKI dan terheran2 kok ceritanya gak ganti2 seh, apa error apa KOKInya sdh tamat sampai disitu, eh coba ketik website kompas tanpa ’ / kesehatan’ eh ternyata ganti toh. Kalau dimuat Terimakasih yah Zev kalau tidak yah manyun deh saya hehehe.
Aniwei mau nanggapin Ibu Kim di Belanda mengenai Fisher Price, bu sudah coba buka websitenya Fisher Price? dan search shopnya. Anak ibu umur berapa thn? Pasti mainannya banyak yah.... Saya tinggal di Aussie ( www.Fisher-price.com.au ) jadi sebelum beli hunting dulu mainan yg mana pengen dibeli terus tanya suami setuju apa enggak. Saya sendiri pecinta Fisher Price sama Playskool. Sejak my daughter merangkak umur 5 1/2 bln kita beliin mainan, walaupun perempuan dia tidak suka boneka, meskipun boneka yg bisa ngomong. Dia suka mainan yg bikin dia aktif, mainan yg bisa dibanting2, dipukul2, bunyi2 an dll.S ekarang dia suka banget mainan balok2 an plastik yg disusun bisa tahan lama mainnya lumyankan saya bisa buka2 internet sementara dia asyiik main balok. Fisher price cocok banget deh dan tahan banting, sayang 1 minggu udah bosen krn dia kalau sudah menguasai dan menjelajah mainannya dia udah bosen (dia sdh bisa men’switch off’the power!!!) terbukti dia membalikkan tubuh mainan dan mau membuka tempat baterainya untungnya kotak penyimpanan baterai tdk bisa dibuka tanpa obeng.
Sekarang dia umur 9 bln jadi saya beliin mainan untuk yg berumur 12 bulan krn pertimbangan saya dia kan kian bertambah umur jadi bisa berlangsung lama tapi kalo beli yg pas umurnya takut gak kepake lagi krn dia tuh bosenan dgn mainan yg "amat sederhana" Begitu jg pakaian umur 6 bln dia udah pakai baju utk umur 12 bln. Selamat berhunting Little ppl A-Z learning Zoo.
**************
Looking for friends nech..
(Novie, KL Sentral)
Dear Zev, salam kenal sebelumnya buat seluruh pembaca KoKi dimana pun berada. Mudah-mudahan melalui KoKi, saya bisa punya banyak teman terutama yg tinggal di Kuala Lumpur. Sudah setahun ini saya tinggal disini, pengen banget ikut gabung sama orang Indonesia yang punya aktivitas di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Tapi saya agak kesulitan mencari komunitas tersebut (mungkin sayanya aja kali ya yg kuper hehehehe). Kalau dari pembaca sekalian ada yang bisa kasih info saya ucapkan terima kasihnya. Makasih juga buat Zev yang sudah menjadi mediator di KoKi ini. Cheers.
*******************
Untuk Kim di Belanda
(Sherly-Amerika)
Dear Zeverina, ini kali pertama saya menulis, mohon bisa dimuat, tapi kalo enggak ya gak pa-pa. Saya juga fans dari rubrik KOKI, thanks ya tetap setia menjadi pengasuh rubrik KOKI. Sering saya merasa sedih atau stress karena homesick, maklum, tempat saya tinggal tidak ada komunitas orang Indonesia, (sejauh yang saya tahu sih). Mau nyari Indomie aja musti order dari online store di california.
Ohya, ini ada sekilas info buat Kim di Belanda yang menanyakan soal produk fisher price dari wal-mart. Ongkos kirimnya itu yang mungkin membuat berpikir 2 kali.
Berikut daftar ongkosnya:
Global Express Mail (EMS) 3-5 hari $ 50.51
Airmail Parcel Post 4-10 hari $38.20
Economy (surface) Parcel Post 4-6 minggu $22.70
Atau Kim bisa langsung lihat di websitenya :www.usps.com untuk biaya kirim lebih lanjut dari amerika. Sekian aja untuk saat ini, salam kenal untuk pembaca KOKI di mana aja berada. oh ya Zev, mohon untuk tidak mencantumkan e-mail saya di rubrik KOKI, namun jika sdri. Kim ingin menghubungi saya, it’s ok then. Thanks ya Zev, hidup rubrik KOKI!
************************
Sahabat
(Putu-Belanda)
Dear Zev, cuaca di Belanda sekarang begitu panas,sampai sayapun susah sekali untuk memejamkan mata tadi malam karena saling panasnya.maklum sepanas panasnya di indonesia pasti ada semilir angin yang menyejukkan,tapi kalau di Belanda kalau musim panas begini(sampai 34 derajat)waduuh panasnya minta ampun mana ndak ada anginnya(orang kita bilang"pengab"). Dan saya pun dikejutkan dengan sebuah sms yang dikirimkan sahabat saya dikampung halaman yang berisi"kenapa hidupku begini kenapa baru sekarang aku tahu ternyata laki2 yang menikah denganku hanya menginginkan harta. Teganya baru 1 bulan menikah dia dan juga ibunya sudah menyodorkanku surat hutang yang harus aku dan keluargaku bayar seharga 60 juta, sementara keluargaku saja masih mempunyai hutang senilai 100 juta untuk pernikahan kita.bukan itu saja dalam keadaan hamil pun dia tega menendang dan menjambak rambutku hingga menyebabkan bayi dalam kandunganku keguguran,kenapa baru sekarang aku tau ternyata suamiku dan keluarganya seorang yang ambisius dengan harta,kasar,penjudi dan juga pemabuk.sahabat tolong doakan aku disini agar tabah menghadapi ini semua karena hampir aku menginginkan perceraian dalam kehidupanku,tapi kamupun mengetahui dalam lingkungan dan budaya kita perceraian pastilah yang selau disalahkan perempuan dan akan menjadi makian dan omongan banyak orang. Walaupun kita jauh tolong selalu doakan aku".
Sayapun begitu terkejutnya hingga saya tidak tahu mau menulis apa untuk balasan sms yang akan saya kirim. Kenapa sahabat saya sendiri yang mengalami penderitaan itu,k arena sebelumnya saya hanya membaca dan melihat lewat televisi saja tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan. Hingga saya mengatakan takut menikah kepada calon tunangan saya sekarang dan dalam hati saya selalu bertanya"adakah cinta sejati di dunia yang kini marak dengan adanya iri hati,dengki dan ambisius?"..huuuhhh andai kita tau apa yang akan terjadi dalam hidup tentulah kita tidak kenal dengan kata"menyesal" Untuk sahabatku aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu,semoga kamu diberi ketabahan menghadapi perjalanan dari kehidupan ini.
****************
Imigrasi
(Eni-Dhahran)
Membaca tulisan sdri Listy di Jepang ,ikut senyum kecut juga nih,soalnya bukan hanya di Jepang kok di Indonesia pun tak kalah serunya.Hampir selalu panas dingin dech rasanya kalu harus urusan dengan kantor yang satu ini.
Pas anak saya baru lahir,.weh lah dalah belum juga pulih dari rasa sakit dan lemas sehabis melahirkan mau nggak mau kita harus lapor donk ke imigrasi karena notabene suami saya orang saudia jadi otomastis (sebelum UU kewarganegaraan yg baru lahir) saya harus melaporkan anak saya yang berkewarganegaraan ikut ayahnya. Kepala masih pusing badan masih lemas sehabis melahirkan ,masih harus di ping pong oleh petugas imigrasi…dan hanya melapor harus ngluarin duit Rp.200.000,- dan kalau telat nglaporin katanya harus bayar 20 dolar dendanya perhari…emang bener gitu?tau ah gelap. Pusing nggak sih…orang dengan itikad baik melapor eh kena palak, gimana kalau nggak melapor…???????? Tolong dech bapak ibu yang ada di Imigrasi..malu donk kasih anak anaknya dengan duit hasil begini.
Cerita lebih seru saat mau buat KITAS buat anak saya, karena saat itu rencananya mau tinggal sekitar setahun lah di Indonesia karena adanya sesuatu yang musti di kerjakan di tanah air tercinta ini.. Dan tibalah saatnya kalu harus apply KITAS ,..tiba tiba saja saya dipanggil..oleh petugas imigrasi, maaf bu Annie tolong bisa menghadap Bapak Agus ( lupa nama panjangnya) ..kirain menghadap beliau karena ada hal yang serius…tau taunya cumin diwawancari hal hal yang kurang serius.Dan akhirnya dengan Bapak ini pula lah saya Tanya berapa biaya buat KITAS,,dan jawabanyya Rp.800.000,- per KITAS, ini harga di Cilacap..belum tau saya kalau biaya di Semarang dan di Jakarta., mungkin bisa lebih ,ujar Bapak Agus ini. Saya yang sebenarnya nggak bodoh bodoh amat tertegun sejenak ,dalam hati saya berujar kok beda beda sih harganya…( lucu kaya lawak ajha dech ) tapi saya yakin banget sih klo ini ulah para petugas imigrasi saja…jadi tersenyum lah saya.
Nah pas nyampe di Semarang…. alhamdulillah tuh ,,nggak ada biaya apa apa, cuman ya sekedar uang trima kasih saja ,saya selipkan beberapa rupiah itupun karena saya KEPENGEN AJHA. Tapi ya memang akhirnya hanya untuk selembar kertas laporan saya harus bolak balik setiap minggunya cilacap semarang….,padahal kita semua tahu lah kalau mau buat surat macem itu enggak ada satu jam ajha sudah selesai…..tapi ya lagi lagi senyum ajha lah….soalnya senyum katanya bisa membawa berkah…he..he..amin. Dan saat diJakarta, nah karena di Jakarta saya lumayan kuatir kalu harus bolak balik cilacap Jakarta, saya minta bantuan kakak saya yang kebetulan kerja sebagai kuli tinta di sebuah harian di kota bandung., dengan harapan mudah mudahan kalau bawa wartawan bisa aman dari dunia persulitan, dan Alhamdulillah sempat ketemu juga sama kepala humas dirjen imigrasi Jakarta (lupa juga namanya…maaf). Dan beliau ini sangat baik sekali dan juga menerangkan bahwa sebenarnya untuk membuta kitas tidak ada biaya.
Nah alhasil dech di Jkarata tak sesen pun uang keluar…alhamdulillah ,. Tapi pembaca yang budiman…kebetulan saat saya apply KITAS banyak juga ibu ibu yang juga aplly buat anaknya…dan katanya mereka harus bayar Rp.300,000,- per KITAS…..aduh kasihan dech….tapi saya nggak bisa apa apa …cuman yatiu lagi lagi senyum tapi hati saya ikutan eneg. Dan saya pun tak tega kalau harus bilang bahwa saya tak kena biaya….ini crita saya di imigrasi Jakarta. Akhirnya , tibalah saya kembali ke imigrasi cilacap karena urusan sudah selesai semua. Dan eng ing eng..lagi lagi saya di panggil..maaf bu annie tolong menghadap bapak..( maaf lupa namanya) yang jelas sih bukan nama muslim kalau nggak salah nama orang manado dech.. Kirain mau ada wawancara apa ..eh usut punya usut setelah ngobrol yang nggak jelas..akhirnya si Bapak ini bilang. Wah kalau begitu nanti kalau saya naik haji bisa diongkosin dong biaya taxi nya…,dan saya dengan gaya innocent karena sudah tau banget gaya gaya bapak bapak imigrasi ini…langsung saja saya jawab…enggak bisa donk Pak soalnya saya tinggal di Dhahran yang jaraknya kira kira 3 jam lah naik pesawat dari Dhahran ke Mekah, jadi nggak bisa donk saya ketemu Bapak kalau Bapak mau berangkat Haji,..tapi kalau Bapak mau mampir setelah haji selesai bapak bisa telpon saya pasti saya sambut dengan gembira.
Tahu nggak pembaca yang budiman, Bapak ini ketawa gkekeke.. keke..kekekekek,….bisa ajha bu annie ini katanya,pinter juga ya jawabannnya. Emang saat itu saya pasang muka innocent banget banget yang sepertinya enggak paham kalau bapak ini sebenanrya punya niatan minta duit. Padahal tau nggak pembaca…dihati ini rasanya tawa saya mau meledak….(kagak tau loe yak lo gue pinter beracting he..he..he…maklum pengennya jadi artis tapi gak kesampean he..he..he..).
Tibalah saatnya harus tanda tangan KITAS anak saya dan membayarnya. Balik lagi saya ketemu dengan Pak Agus , dan beliau menanyakan berapa biaya di Jakarta dan semarang. Saya enggak jawab apa apa cuman saya kasih tanda ENDOL BESAR, saya buat lingkaran dengan jemari saya, serta berujar nggak ada biaya tuch zero ajha alias kosong. Bapak itu nggak percaya loh kok bisa..tanyanya,ya bisa donk pak emang karena sesungguhnya nggak ada biaya. Unutk menjawab rasa penasaran beliau ya saya jawab saja…ehm…kakak saya kebetulan yang urus karena kakak saya kenal baik dengan kepala humas di Jakarta ,kebetulan kakak saya yang cuman kuli tnta dulu pernah berwilayah di Cilacap. Langsung saja Bapak ini bialang OOOOOOOOOOOOOOh begitu ya………Baik lah Pak ini uang buat membayar KITAS anak saya cuman Rp.200.000,- saja khan..?, beliau mengangguk
Demikian tadi pembaca yang budiman siapa tau pengalaman saya bisa jadi wacana para pembaca semua.
****************
Pria, wanita, keluarga dan bangsa
(Driyah-Turki)
Halo zev, rame juga koki tentang Pria vs Wanita, mengenai prestasi menurut saya tidak semata - mata karena kemampuan pikir saja tapi juga emosional-nya itulah mengapa untuk posisi pengambil keputusan sampai sekarang masih didominasi oleh pria karena pada umumnya pria lebih ’’berlogika’’ dari pada ’’berperasa’’ ( bukan berarti tidak ada pria yg perasa atau wanita yg lebih berlogika ) dan secara fisik dan waktu pria lebih memungkinkan untuk ’’tinggal lebih lama’’. maksudnya disini bukan jam kerjanya tapi masa kerjanya, walau bagaimana sebuah perusahaan akan selalau berorientasi pada ’’laba dan Citra’’ jadi ’’mereka’’ akan berusaha untuk meminimalkan peluang ’kerugian-nya’.contoh; walau bagaimana seorang wanita (setelah menikah dan tetap bekerja) akan mengambil cuti panjang (pada saat hamil dan melahirkan) dan tidak untuk ’’pria’’. bila si wanita sudah menjadi ibu misal anak sedang sakit walau ada pembantu dan suster dirumah tetap saja kepikiran dan mengurangi konsentrasi bekerjanya. Lebih susah lagi bagi perusahaan bila sudah mempercayakan suatu posisi pengambil keputusan pada seorang wanita dan kemudia setelah berkeluarga keluar kerjanya, tidak begitu dengan pria yg memang lebih berkonsentrasi pada karir.
Mengenai prejudice tentang karir sebetulnya itu bukan semata mata karena ’’prejudice’’ semua itu muncul karena memang ada dan nyata ( walau mungkin hanya sedikit ), Seperti yg diungkapkan oleh sdri Agnes, tentang ’’sekretaris’’ kok tantenya bisa bilang begitu,, karena memang ada yg seperti itu, anda sendiri menyadari disetiap lowongan kerja selalu disebut kriteria ’Penampilan menarik’ dan kalau boleh saya tambahkan selalu ’’Wanita’’ kenapa tidak ’pria’ ?? gak ada salahnya juga kan sekretaris pria ’’kalau dilihat dari kerjanya secara ’murni’?? tapi seperti yg disebut diatas kebanyakan boss (pengambil keputusan) itu pria, secara tidak disadari perkerjaan tersebut berhubungan juga dengan psikologi pekerja, coba bila sekertaris gak rapi dan menarik, apa gak nambah nambahin pusing si bos?? sudah banyak kerjaan dan masalah yg disampingnya juga gak ’Resik’ lagi, apalagi kalo bau.
Sebetulnya begitu juga dengan keluarga, seorang suami pasti pengennya lihat yg ’resik’ juga kalo pulang kerumah. anak istri bersih wangi dan tersenyum, rumah asri jadi kan pegal dan pusing dari kantor bisa terlupakan. tapi kok ya gak adil kalo cuma istri saja yg harus ’resik’. suatu hubungan itu hanya akan berjalan kalau berlawanan kutub ehh salah ding, kalau tarik menarik alias ’Bersambut’ saya dan suami sekarang ini sudah, sedang dan akan terus belajar dan mempraktekkan hal hal berikut ini ( dapat dilihat di http://qa.sunnipath.com/issue_view.asp?HD=1&ID=2012&CATE=121
1. Do not be a Tyrant (suami). 2. Be Partners in the Decision Making Process 3. Never be Emotionally 4. Be Careful of Your Words 5. Show Affection 6. Be Your Spouse’s Friend 7. Show Appreciation 8. Work Together in the House 9. Communication is Important 10. Forget Past Problems 11. Live Simply 12. Give Your Spouse Time Alone 13. Admit Your Mistakes 14. Physical Relationship is Important 15. Have Meals Together 16.Be Mindful of Your discussion Topics
Selain itu kami juga mempraktekkan hal hal kecil seperti saya selalu bertanya ’’Do U need anything?’’ sebelum saya meninggalkan ruangan / suami. dan menawarkan sesuatu (walau kadang badan sudah capek nya bukan maen tapi tetap saya lakukan) walau cuma seperti basa basi tapi menurut pengalaman saya berarti besar. juga suami yg selalu bilang ’’ Ý love U’’ sebelum berangkat kerja atau berangkat tidur (kayaknya basi tapi seneng juga sayanya hehe ) karena ’’Cinta yang tak bersemi senantiasa, telah menemui ajalnya’’ Begitu tutur Kahlil Gibran. Membangun keluarga yg tenang dan harmonis itu sangat penting buat perkembangan anak yg akan menjadi penerus bangsa, Karena keluarga adalah kelompok terkecil yg sangat berarti bagi suatu negara.
Sedang marak juga para kokier mengungkap tentang Ýndonesia tapi saya sendiri lebih setuju kepada sdr Djoko di Jerman. Ýndonesia jadi seperti ini tidak karena akibat suatu perbuatan sehari dua hari tapi berpuluh tahun ( para pendahulu / pejuang kita tidak seperti ini dulunya mereka berkorban jiwa raga materi keluarga untuk negara ) Kok sekarang jadi begini?? itu juga bukan salahnya PAk Presiden yg sekarang ini yg kurang berpendidikan or apalah semacam itu. tapi lebih dari individu2nya yg berangkat mulai dari keluarga. kalau dinilai yg berpendidikan lebih baik, apa ’beliau2 yg berkorupsi ber trilyun2 itu tidak berpendidikan?? pasti yg kelihatan ’pak A yg tukang bikin KTP itu lho, suka minta Pungli semaunya’ Ýya apa iya hayoo??
Jadi memang seperti yg pak Djoko bilang sebaiknya kita berusaha sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri dan berbuat untuk perbaikan. karena ’’Pemerintah itu sebuah permufakatan antara kau dan aku. Engkau dan aku sering keliru’’ lagi lagi kata KAhlil Gibran ( yg light bukunya cuma ini yg lain sudah kebanyakan lupanya ). Suami sayapun sangat menghawatirkan Ýindonesia, Pas ada kecelakaan kereta (arah surabaya) lalu, sekali dia bilang ’’Bencana dimana mana ada tapi kalau sudah di Negaramu pasti jadi Tragis’’ di waktu lain pas kami pulkam,, dia kepengen tahu kereta kita ( dia sih tanyanya metro lah adanya KA ya saya ajak naik KA ) pas turun dia bilang ’’ Walau saya kaya raya kalau hidup di sini gak bakal bisa makan dengan enak,, kok banyak sekali orang miskin disini?’’, sampai sekarang pun dia rajin promosi keteman temannya buat nyumbang ke Ýndonesia lewat Ýnternet ( organisasi sosial LN, karena mereka gak percaya sama organisasi DN, sedih-kan?? )
Segitu aja zevv ( Banyak begitu dibilang segitu ya?? ) semoga ada manfaatnya buat yg lain. Salam kasih.
****************************
Pembaca rubrik Kesehatan KCM entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi pengalaman seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan via email: zeverina@kompas.com.
Penulis: Zeverina