Kompas Cyber Media

Free E-Mail | Chat | Ad Info | About Us | Contact Us | Home
CARI
Rubrik
Ekonomi
Gaya Hidup
Kesehatan
Metropolitan
Olah Raga
Sains & Teknologi
Komunitas
Belanja
Beli Karcis
Berita Duka
E-Cards
E-Radio
Horoskop
Iklan Mini
Karier
Kata Mutiara
Kontak Jodoh
Langganan Majalah
News By Email
Pasang Iklan
Property
Seremonia
Surat Pembaca
Toko Buku
Kolom
Sarapan Pagi
Features
  Berita Foto
Surat Kabar
Majalah


Berita Lainnya

07/10/2003, 19:26 wib
DPRD Bersikeras TPA Bantar Gebang Ditutup

07/10/2003, 17:06 wib
Kantor PBB Minta Jalur Lambat Jalan Thamrin Ditutup

07/10/2003, 16:19 wib
Pengguna Jalan Keluhkan Kemacetan Akibat Pembangunan Underpass dan Fly Over

Rabu, 08 Oktober 2003, 8:22 WIB

Betawi Seabad Silam
Rebutan Tanah Sunter
8 Oktober 1903

MENURUT Bintang Betawi, banyak orang rante (orang hukuman) yang kabur  dari tempat ia dipekerjakan, mencoba bersembunyi di Hutan Sunter. Hutan Sunter terletak tidak jauh dari kawasan pinggiran Betawi, seperti Sumur Batu dan Kelapa Gading. Mereka  bersembunyi di tempat itu, karena setiap mereka kelaparan akan mudah mencuri ke kampung yang berdekatan itu.

Orang-orang hukuman memang banyak dipekerjakan di luar selnya, seperti di Istana Gubernur Jenderal atau Stadhuis. Tetapi bila pengawasnya meleng, mereka akan mencoba kabur, agar tidak lagi dimasukkan lagi ke sel yang pengap itu.

Sebenarnya tidak hanya Sunter yang menjadi tempat sembunyi orang hukuman. Di kuburan Cina, Sentiong, dekat Gunung Sa(ha)ri, beberapa waktu yang lalu juga ditemukan empat potong pakaian orang hukuman. Pelarian mereka ke kuburan Cina di Sentiong itu tidak mengherankan. Letak Sentiong berdekatan dengan Drossaer-weg (kini Jalan Taman Sari), yang selama ratusan tahun dikenal sebagai jalan dari para soldadu kompeni yang melakukan desersi. Para soldadu yang tinggal di kastil itu kabur melalui Jalan Mangga Dua, Drossaer-weg, lalu bersembunyi di kuburan Sentiong. Tetapi karena di kuburan itu tidak ada tempat sembunyi, mereka memilih ke Hutan Sunter.

Tanah Sunter sudah dikenal sejak lama. Dalam agenda harian kastil kumpeni (Dag-register), banyak terungkap bahwa para pembesar kumpeni bila pergi ke selatan tidak melalui De Groote Zuid-weg dan Senen, melainkan melewati Sontar (ejaan kumpeni untuk Sunter), Kelapa Gading, Pondok Gede, menuju Cimanggis.  Sampai awal abad ke-20 tanah Sunter masih merupakan hutan lebat. Agaknya kumpeni menamai kawasan itu berdasarkan nama kali yang mengalir di situ. Kali itu memiliki mata air yang terletak puluhan kilometer ke arah udik, dan merentang paling tidak dari Cimanggis sampai Ancol. Tetapi yang diberi nama Sunter adalah yang terletak di sebelah timur Kemayoran.

Dalam Dag-register tercantum sejumlah pembesar kumpeni yang dikenal sebagai pemilik tanah Sunter. Misalnya Johannes Cops, yang dilahirkan pada 24 Desember 1663 sebagai anak Jacob Cops dan Elizabeth. Cops muda ini memiliki karier yang cepat menanjak di kumpeni. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Banda, kemudian ditarik ke Betawi sebagai anggota Raad Ordinair. Bahkan pada tahun 1699 ia diangkat sebagai ketua Raad van Justitie. Sebagai pembesar kumpeni, jelas ia sangat kaya dan memiliki hak untuk membeli tanah di mana saja. Berdasar keputusan kumpeni 23 November 1696 (surat tanah 26 Februari 1697) Cops memperoleh tanah yang cukup luas di Sunter dan Cakung. Walau masih berwujud hutan lebat, prospek tanah di Sunter sangat bagus. Pada tahun 1657 berkat usulan anggota Dewan Hindia, Pieter Anthonissz Overtwater, digali kanal ke Sunter dari kastil kumpeni di muara Ciliwung. Tidak mengherankan ketika meninggal, Cops mewariskan peninggalan berupa "rumah petani dengan segala miliknya di dekat Jalan Besar ke Selatan", yang ditaksir bernilai 40.000 Rds (rijksdaalder = uang perak senilai 2,5 gulden).

Pemilik tanah lain adalah Pieter Erbervelt. Ayahnya, Pieter van Elvervelt, adalah seorang Jerman yang masuk kumpeni dengan jabatan terakhir wakil ketua Heemraden dan kapten pasukan berkuda. Ketika meninggal dunia pada 1696 ia meninggalkan warisan beberapa bidang tanah. Di antaranya tanah di Sunter yang surat tanahnya diperoleh pada tanggal 2 November 1687 yang terletak di Kali Sunter, pada arah tenggara dari kastil kumpeni, dengan luas 34 morgen (ukuran luas tanah di negeri Belanda). Dibanding tanah Cops, yang diwarisi Erbervelt sangat kecil, karena harganya ditaksir hanya 25 Rds.

Pembesar kumpeni lain yang menjadi tuan tanah di Sunter adalah Jacobus Johannes Craan, yang pernah menjabat sebagai komisaris dari tanah sebelah udik Betawi. Tahun 1741 dalam usia 13 tahun ia masuk kumpeni dengan tugas "soldadu surat-menyurat" (soldaat aan de pen). Tahun 1746 ia diangkat sebagai juru tulis (klerk) pada sekretaris jenderal dengan gaji 65 gulden. Berdasar keputusan tanggal 10 September 1763 ia menjadi pemilik tanah Tanjung Oost atau Groeneveld. Ia juga memperoleh hak kepemilikan tanah di dekat Kalibata dengan membayar 27.000 Rds dari Van der Delde, yang jatuh bangkrut. Tanah miliknya bertambah terus, bahkan ia kemudian menjadi pemilik sebelah timur Kali Sunter, yaitu tanah Cipinang sampai Sunter.Agaknya bukan rahasia lagi bahwa tanah Sunter menjadi rebutan para pembesar kumpeni. (Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Kirim Berita kepada seseorang KIRIM KE TEMAN





Design By KCM
Copyright © 2002 PT. Kompas Cyber Media