Rubrik
Berita Utama
Bisnis & Keuangan
Humaniora
International
Jawa Barat
Jawa Tengah
Metropolitan
Nusantara
Olahraga
Opini
Politik & Hukum
Sosok
Sumatera Bagian Selatan
Sumatera Bagian Utara
Yogyakarta
Berita Yang lalu
Anak
Asuransi
Audio Visual
Bahari
Bentara
Bingkai
Dana Kemanusiaan
Didaktika
Ekonomi Internasional
Ekonomi Rakyat
Elektronik
Fokus
Furnitur
Ilmu Pengetahuan
Interior
Jendela
Kesehatan
Klass
Laporan Khusus
Laporan Khusus Aceh Baru
Laporan Khusus Hidup Bersama Bencana
Lingkungan
Lintas Timur Barat
Makanan dan Minuman
Muda
Musik
Otomotif
Otonomi
Pendidikan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Informal
Pendidikan Luar Negeri
Perbankan
Pergelaran
Perhubungan
Pixel
Properti
Pustakaloka
Rumah
Sorotan
Swara
Tanah Air
Teknologi Informasi
Telekomunikasi
Teropong
Wisata
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Yogyakarta
Senin, 14 Januari 2008

GIGI Diterima di Segala Lini

Oleh Lukas Adi Prasetya dan Defri Werdiono

Saat Armand Maulana, vokalis GIGI, melantunkan tembang 11 Januari, penonton yang memadati Stadion Mandala Krida, Jumat (11/1) malam, ikut bernyanyi. Setiap penonton nampaknya hafal benar dengan lirik lagu yang ada di album teranyar mereka itu.

Salah satu penonton cewek-masih seumuran mahasiswa awal- ikut bernyanyi sambil memeluk mesra pacarnya dari samping. Sementara di sudut lain, seorang remaja umur 20-an tahun, yang mengaku datang sendirian, juga asyik berdendang.

"Lagunya GIGI itu keren-keren. Coba deh beli album teranyarnya," begitu pendapat Ari (18), mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta sembari berjingkrak dan bernyanyi di stadion. Ia tampak begitu menghayati lagu itu. Ia juga kemudian mengaku sebagai GIGIKITA, fans berat GIGI.

Namun, remaja tinggi kurus ini hanya hafal lagu-lagu GIGI periode lima tahun terahir. Alhasil, kala lagu lawas terlantun, seperti Angan atau Nirwana, ia hanya meloncat-loncat minus teriakan. Ari sendiri mengaku beruntung bisa menerobos ketatnya penjagaan petugas-termasuk sejumlah anjing-karena kehabisan tiket.

Berbeda dengan Ari, Tiya (28), yang berhasil membeli tiket, hafal tembang-tembang lawas GIGI dan malah kurang hafal dengan lagu anyar grup band papan atas itu. Maklum, saat muncul dengan album pertama, tahun 1994 lalu, GIGI langsung menjadi salah satu kelompok musik favoritnya.

"Ketika saya SMA dulu, lagu-lagu GIGI banyak menjadi lagu wajib band-band remaja di Yogya. Karena itu, saat mereka manggung ke sini, saya dan teman-teman antusias nonton. Banyak yang tak kebagian tiket sehingga nekat menerobos," kenangnya.

Jelas ada yang berbeda mencermati formasi GIGI sekarang dan 14 tahun lalu. Dulu, Baron- sang gitaris-dan Ronald-penggebuk drum- masih ada. Namun, keduanya sudah tidak lagi di GIGI. Kini GIGI hanya digawangi situ gitaris, Dewa Budjana, sedangkan drummer diisi Gusty Hendy.

Meski demikian, ada benang merah yang sama dari GIGI. Lagu- lagunya tetap berlirik simpel sehingga mudah diingat. Tidak terlalu melankolis, namun indah. Saat lagunya bernuansa romantis, GIGI tidak mau terjebak dalam lirik yang cengeng. Itu semua masih dipegang GIGI sampai sekarang. Lirik kuat

Lirik yang kuat, sederhana, dan (mungkin) tak banyak digarap grup lain adalah kekuatan GIGI yang sulit dicari pembandingnya. Lagu- lagunya mencerminkan suasana emosional yang akrab dengan kehidupan dan perasaan cinta. Namun, GIGI bisa membahasakan dengan ringan, juga energik.

"Panas, panas, panas, hati ini, pusing, pusing, pusing, kepala ini". Penggalan lirik lagu berjudul Nakal ini barangkali juga sulit terangkai menjadi tembang yang indah kalau bukan di tangan GIGI. Namun, Thomas Ramdan dan kawan-kawan mampu melakukannya.

Siapa sih yang tak tahu lagu itu? Anak-anak kecil saja banyak yang hafal. GIGI tak hanya jago mencipta lagu senada dengan itu atau setipe dengan tembang Angan dan 11 Januari karena mereka pun mencetak sukses kala menelurkan album religius.

"Semua lagu GIGI pas banget dengan suasana hati," ujar Dewi, yang menonton dengan adiknya. Bagi penggemar musik klasik ini, pentas GIGI malam itu adalah yang pertama kali dia datangi. Mahasiswi berparas manis itu mengaku paling suka dengan lagu 11 Januari.

Tembang tersebut dijadikan tanggal pentas GIGI. Pentas yang tanpa sponsor itu pun berjudul sama seperti judul album di mana terdapat lagu itu, yakni Peace, Love 'N Respect yang dirilis tahun lalu. Dalam konser yang berdurasi 2,5 jam ini, GIGI ingin tampil "seutuhnya".

Maksudnya, GIGI untuk pertama kali naik pentas sendirian di ruangan outdoor tanpa acara sampingan. "Tahun 1994, GIGI pernah datang ke Yogya. Anak-anak naik kereta api dari Jakarta, bawa alat musik sendiri. Dan ternyata sambutannya di sini luar biasa," kata Armand.

Tak hanya GIGIKITA yang antusias. Wendy, mahasiswa yang juga penggemar grup J-Rocks, yang beraliran rock ala Jepang yang ceria dan tak hafal dengan lagu GIGI, tetap berpendapat lagu-lagu GIGI bagus. Purwanto (30), yang menyukai lagu-lagu milik Ungu, pun berpendapat sama.

Begitulah keberadaan GIGI, diterima semua generasi dan pencinta musik. Tak banyak grup musik di Tanah Air yang sanggup melakukan itu, apalagi dalam rentang waktu sampai 14 tahun. GIGI bertahan karena melakukan terobosan dan hal baru, namun rasa "GIGI" tetap kental.

Dalam pentas di Mandala Krida kemarin, kalau toh ada yang "mengganjal", barang kali karena di luar stadion ada unjuk rasa. Puluhan orang yang menggunakan atribut klub sepak bola PSIM memprotes konser. Mereka keberatan stadion dipakai GIGI karena bisa merusak rumput.

Apa mau dikata, konser, di sisi lain, memang merusak rumput. Tak hanya itu, sampah pun berserakan, mulai dari gelas plastik air mineral, bungkus makanan ringan, hingga staples. PSIM dan suporternya, Brajamusti, juga tak bisa berbuat banyak mengingat stadion adalah milik Yayasan Mandala Krida. Konser pembuktian GIGI seutuhnya ternyata mahal juga pengorbanannya. Waduh...

LAYANAN BERITA SMS 9858 TELKOMSEL, XL, INDOSAT, THREE, FLEXI & FREN
Layanan
Langganan
Berhenti
 berita nasional  reg nas  unreg nas
 berita politik  reg pol  unreg pol
 breaking news 3  reg bn 3  unreg bn 3
 breaking news 5  reg bn 5  unreg bn 5
 breaking news 10  reg bn 10  unreg bn 10
 headline kompas  reg hlkompas  unreg hlkompas
Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

"SUB-RAISER" DONGKELAN SUDAH SIAP BEROPERASI

·

Hasil Tangkapan Masih Rendah

·

Internet Murah Semakin Berkembang

·

Pemberian Label Beras Produksi Bantul Jaminan bagi Konsumen

·

Jati Membutuhkan Waktu Lebih dari 30 Tahun untuk Ditebang

·

DPR Minta Pemerintah Segera Kirim Draf RUUK

·

Suntik Lebih Meyakinkan Ketimbang Tetes

·

Tanaman Buah Pot sebagai Alternatif

·

Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 2,7 Miliar

·

Hari Ini Museum Radya Pustaka Dibuka Kembali untuk Publik

·

Cinta Kesusastraan Jawa karena Memiliki Gereget Rasa

·

Perhatian pada Seni Budaya Dikalahkan Bidang Lain

·

RRI Harus Terlindung dari Intervensi Negara

·

Program Gagal karena Kesalahan Paradigmatis

·

Alexis Wijaya Ohmar, Tekuni Renang sejak Dini

·

GIGI Diterima di Segala Lini

·

"TUK (MATA AIR)", POTRET KASAR KEKALAHAN KAUM MARJINAL

·

Bahasa Asing, Modal Menggenggam Dunia

·

Kelompok Bermain, Dunia Baru Buat Si Kecil

·

Penyebab Api Masih dalam Penyelidikan

·

Aryo Jenguk Mantan Presiden Soeharto

·

Perajin Tahu Tempe Kelimpungan

·

KEGEMBIRAAN MENYAMBUT "RELIKUI KEMATIAN"

·

Politik Pencitraan

·

Kelalaian Manusia Kerap Akibatkan Kebakaran

·

Surat Pembaca

·

Lesehan Malioboro

·

Info Biz

·

Gardu

·

Regol

 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS