GIGI Diterima di Segala Lini
Oleh Lukas Adi Prasetya dan Defri Werdiono
Saat Armand Maulana, vokalis GIGI, melantunkan tembang 11 Januari, penonton yang memadati Stadion Mandala Krida, Jumat (11/1) malam, ikut bernyanyi. Setiap penonton nampaknya hafal benar dengan lirik lagu yang ada di album teranyar mereka itu.
Salah satu penonton cewek-masih seumuran mahasiswa awal- ikut bernyanyi sambil memeluk mesra pacarnya dari samping. Sementara di sudut lain, seorang remaja umur 20-an tahun, yang mengaku datang sendirian, juga asyik berdendang.
"Lagunya GIGI itu keren-keren. Coba deh beli album teranyarnya," begitu pendapat Ari (18), mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta sembari berjingkrak dan bernyanyi di stadion. Ia tampak begitu menghayati lagu itu. Ia juga kemudian mengaku sebagai GIGIKITA, fans berat GIGI.
Namun, remaja tinggi kurus ini hanya hafal lagu-lagu GIGI periode lima tahun terahir. Alhasil, kala lagu lawas terlantun, seperti Angan atau Nirwana, ia hanya meloncat-loncat minus teriakan. Ari sendiri mengaku beruntung bisa menerobos ketatnya penjagaan petugas-termasuk sejumlah anjing-karena kehabisan tiket.
Berbeda dengan Ari, Tiya (28), yang berhasil membeli tiket, hafal tembang-tembang lawas GIGI dan malah kurang hafal dengan lagu anyar grup band papan atas itu. Maklum, saat muncul dengan album pertama, tahun 1994 lalu, GIGI langsung menjadi salah satu kelompok musik favoritnya.
"Ketika saya SMA dulu, lagu-lagu GIGI banyak menjadi lagu wajib band-band remaja di Yogya. Karena itu, saat mereka manggung ke sini, saya dan teman-teman antusias nonton. Banyak yang tak kebagian tiket sehingga nekat menerobos," kenangnya.
Jelas ada yang berbeda mencermati formasi GIGI sekarang dan 14 tahun lalu. Dulu, Baron- sang gitaris-dan Ronald-penggebuk drum- masih ada. Namun, keduanya sudah tidak lagi di GIGI. Kini GIGI hanya digawangi situ gitaris, Dewa Budjana, sedangkan drummer diisi Gusty Hendy.
Meski demikian, ada benang merah yang sama dari GIGI. Lagu- lagunya tetap berlirik simpel sehingga mudah diingat. Tidak terlalu melankolis, namun indah. Saat lagunya bernuansa romantis, GIGI tidak mau terjebak dalam lirik yang cengeng. Itu semua masih dipegang GIGI sampai sekarang. Lirik kuat
Lirik yang kuat, sederhana, dan (mungkin) tak banyak digarap grup lain adalah kekuatan GIGI yang sulit dicari pembandingnya. Lagu- lagunya mencerminkan suasana emosional yang akrab dengan kehidupan dan perasaan cinta. Namun, GIGI bisa membahasakan dengan ringan, juga energik.
"Panas, panas, panas, hati ini, pusing, pusing, pusing, kepala ini". Penggalan lirik lagu berjudul Nakal ini barangkali juga sulit terangkai menjadi tembang yang indah kalau bukan di tangan GIGI. Namun, Thomas Ramdan dan kawan-kawan mampu melakukannya.
Siapa sih yang tak tahu lagu itu? Anak-anak kecil saja banyak yang hafal. GIGI tak hanya jago mencipta lagu senada dengan itu atau setipe dengan tembang Angan dan 11 Januari karena mereka pun mencetak sukses kala menelurkan album religius.
"Semua lagu GIGI pas banget dengan suasana hati," ujar Dewi, yang menonton dengan adiknya. Bagi penggemar musik klasik ini, pentas GIGI malam itu adalah yang pertama kali dia datangi. Mahasiswi berparas manis itu mengaku paling suka dengan lagu 11 Januari.
Tembang tersebut dijadikan tanggal pentas GIGI. Pentas yang tanpa sponsor itu pun berjudul sama seperti judul album di mana terdapat lagu itu, yakni Peace, Love 'N Respect yang dirilis tahun lalu. Dalam konser yang berdurasi 2,5 jam ini, GIGI ingin tampil "seutuhnya".
Maksudnya, GIGI untuk pertama kali naik pentas sendirian di ruangan outdoor tanpa acara sampingan. "Tahun 1994, GIGI pernah datang ke Yogya. Anak-anak naik kereta api dari Jakarta, bawa alat musik sendiri. Dan ternyata sambutannya di sini luar biasa," kata Armand.
Tak hanya GIGIKITA yang antusias. Wendy, mahasiswa yang juga penggemar grup J-Rocks, yang beraliran rock ala Jepang yang ceria dan tak hafal dengan lagu GIGI, tetap berpendapat lagu-lagu GIGI bagus. Purwanto (30), yang menyukai lagu-lagu milik Ungu, pun berpendapat sama.
Begitulah keberadaan GIGI, diterima semua generasi dan pencinta musik. Tak banyak grup musik di Tanah Air yang sanggup melakukan itu, apalagi dalam rentang waktu sampai 14 tahun. GIGI bertahan karena melakukan terobosan dan hal baru, namun rasa "GIGI" tetap kental.
Dalam pentas di Mandala Krida kemarin, kalau toh ada yang "mengganjal", barang kali karena di luar stadion ada unjuk rasa. Puluhan orang yang menggunakan atribut klub sepak bola PSIM memprotes konser. Mereka keberatan stadion dipakai GIGI karena bisa merusak rumput.
Apa mau dikata, konser, di sisi lain, memang merusak rumput. Tak hanya itu, sampah pun berserakan, mulai dari gelas plastik air mineral, bungkus makanan ringan, hingga staples. PSIM dan suporternya, Brajamusti, juga tak bisa berbuat banyak mengingat stadion adalah milik Yayasan Mandala Krida. Konser pembuktian GIGI seutuhnya ternyata mahal juga pengorbanannya. Waduh...