Pengangguran di Bandung Masih Tinggi
Hotel dan Restoran Penyerap Tenaga Kerja Terbanyak
Bandung, Kompas - Tingkat pengangguran di Jawa Barat, terutama di Kota Bandung, masih sangat tinggi. Pemicunya adalah angka urbanisasi yang tinggi, serta minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia karena belum sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja yang sangat tinggi.
Pengamat ekonomi sekaligus Ketua II Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bandung Coki Achmad Syahwier mengatakan, hingga awal tahun 2007 tercatat 236.000 orang menganggur dari jumlah penduduk yang saat ini mencapai 2,5 juta orang. "Jumlah angkatan kerja bertambah, sedangkan peningkatan itu tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan," ujar Coki, Minggu (17/6).
Sementara itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik Kota Bandung M Kuswara, sejak tahun 2004 angka pengangguran di Bandung terus meningkat. Setiap tahun, rata-rata tingkat pengangguran terbuka mencapai 16 persen dari jumlah angkatan kerja. Penyerapan tenaga kerja terbilang kecil, hanya sekitar 10.000-15.000 orang. Adapun jumlah angkatan kerja terus meningkat sekitar 20.000-50.000 orang per tahun.
Peningkatan itu dipicu berbagai kebijakan pemerintah yang menyebabkan tutupnya sejumlah perusahaan pengolahan di Kota Bandung, seperti pabrik tekstil yang padat karya. "Karena ada kebijakan makro secara nasional, seperti kenaikan harga minyak, menyebabkan sektor industri kita banyak yang kolaps. Akibatnya, pengangguran itu lebih banyak tercipta dari pemutusan hubungan kerja saat itu," kata Kuswara, Jumat lalu. Hotel dan restoran
Tingginya angka pengangguran di Bandung melampaui angka pengangguran terbuka di Jawa Barat yang hanya 14 persen dari total angkatan kerja sebanyak 17,53 juta orang. Selain pertumbuhan penduduk secara normal, tingkat urbanisasi yang pesat menyebabkan angkatan kerja yang bertambah tidak bisa terserap oleh penyediaan lapangan kerja yang belum memadai. Bandung, kata Kuswara, merupakan salah satu kota besar tujuan urbanisasi penduduk desa, baik di Jabar maupun dari provinsi lain.
Menurut Coki, rendahnya tingkat investasi di Bandung juga menghambat penyerapan tenaga kerja. Padahal, investasi diharapkan bisa menjadi peluang dibukanya lapangan pekerjaan baru. Selain itu, mediasi perbankan belum membuahkan hasil nyata. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia belum mendapatkan tanggapan positif karena suku bunga kredit masih tinggi.
Saat ini sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak di Bandung, yaitu sekitar 70 persen dari angkatan kerja yang ada. Salah satunya ialah peningkatan jumlah pedagang informal, yaitu pedagang kaki lima. Terlebih lagi, setelah dibuka Jalan Tol Cipularang, pertumbuhan ekonomi Bandung sangat bergantung pada sektor PHR. (THT)