Peluang Masih Terbuka
Kesulitan di Soal Teori, Tim Indonesia Akan Berjuang di Eksperimen
Ester Lince Napitupulu
Shanghai, Kompas - Materi ujian teori fisika yang harus dihadapi peserta Olimpiade Fisika Asia Ke-8 di Shanghai, China, Senin (23/4), dinilai memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Namun, tim Indonesia tetap optimistis berpeluang unggul dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 150 pelajar dari 24 kontingen ini.
"Saya memang belum periksa langsung, tapi sepertinya mereka mampu memecahkan soal teori fisika tadi. Agar tetap bisa unggul, pada ujian eksperimen hari Rabu besok kita harus lebih baik," kata Yohanes Surya, Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).
Umumnya, peserta dari Indonesia mengaku kesulitan menyelesaikan semua soal hingga selesai hanya dalam waktu lima jam. Kendati demikian, Yosua Michael Maranatha (SMA Negeri 3 Yogyakarta)—yang merupakan salah satu siswa unggulan untuk meraih emas—merasa optimistis tetap bisa meraih nilai yang baik. "Sepertinya ada yang salah di nomor satu, tetapi yang lain sepertinya bisa," ujar Yosua.
M Firmansyah Kasim (SMA Athirah Makassar), unggulan lain tim Indonesia, malah enggan berkomentar mengenai soal-soal ujian teori fisika yang dihadapinya. "Lihat saja nanti hasilnya. Saya sudah mengerjakan yang terbaik," ujar Firman.
Sebaliknya, peserta Indonesia lainnya, terutama dari Tim INA B yang merupakan tim tamu, merasa kesulitan mengerjakan tiga soal yang dinilai terlalu sulit. Mereka mengeluhkan waktu yang tidak cukup sehingga tidak semua soal bisa terjawab. Selain itu, peserta juga tidak diperbolehkan menggunakan alat bantu, seperti kalkulator.
Materi ujian teori fisika yang dibuat tiga profesor dari China itu memang sempat diprotes oleh sebagian besar tim pemimpin kontingen pelajar. Misalnya, untuk soal mengenai material yang memantulkan cahaya, tetapi diandaikan cahaya itu menyimpang dari yang umumnya terjadi.
Hampir semua pemimpin tim keberatan untuk soal mengenai material yang tidak biasa ini. Sebab, persoalan itu masih ada dalam penelitian, belum pada textbook. Namun, tim pembuat soal dari China tetap bersikukuh sehingga pembahasan mengenai soal sempat berjalan alot.
Selain itu, soal mengenai gas elektron juga dinilai sangat sulit. Setelah melalui diskusi yang panjang akhirnya ada beberapa soal yang dibuang meskipun tema soal tetap seperti semula.
Sebagian besar tim pemimpin yang mendiskusikan soal mulai Minggu siang terpaksa menyelesaikan pembahasan dan penerjemahan ke bahasa masing-masing hingga Senin pagi. Ini terjadi karena ada perubahan beberapa soal yang dinilai terlalu sulit, sehingga setiap tim mengupayakan kembali ada perubahan soal.
Pada Senin malam, masing- masing pemimpin tim akan mendapat fotokopi lembar jawaban peserta untuk tiga soal yang dibuat dalam 15 lembar. Tim pemimpin akan menghitung perolehan hasil pengerjaan peserta yang nanti dipakai sebagai pembanding saat moderasi penilaian pada Kamis mendatang.