Teknologi Informasi
JEPANG-INDONESIA KEMBANGKAN PERANTI "OPEN SOURCE"
Bandung, Kompas - Jepang dan Indonesia tengah menjajaki kerja sama pengembangan peranti lunak berbasis sistem open source. Kerja sama yang salah satu sasarannya menghasilkan perangkat sistem operasi open source tanpa instalasi ini dijajaki dalam forum CodeFest Asia Open Source IV di Institut Teknologi Bandung, Minggu (11/2).
CodeFest ini sendiri merupakan rangkaian dari Asia Open Source Software Symposium VIII yang diselenggarakan di Bandung dan Bali, 11-15 Februari ini. Acara yang menjadi ajang kreativitas dan kerja sama antar-hackers dan praktisi teknologi informasi se-Asia ini sebelumnya berturut-turut dilakukan di RRC, Srilangka, dan Malaysia.
Koordinator Program CodeFest IV Yohanes Nugroho mengatakan, kerja sama penggarapan peranti lunak berbasis open source (OS) ini melibatkan sedikitnya tujuh hacker dan industriawan teknologi informasi di Jepang, serta sedikitnya 26 mahasiswa Indonesia dari ITB, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Pertanian Bogor.
"Proposal proyek yang bersama-sama telah disetujui dan kini tengah digarap di antaranya aplikasi pendukung proses pembelajaran untuk anak-anak berbasis OSS (open source software) dan Microsoft, serta engine 3D (tiga dimensi) permainan komputer. Intinya, di sini kami akan menghasilkan coding (teknologi) terbaru terkait OSS," ujarnya.
Dalam penggarapan proyek, para peserta dibagi dalam dua kelompok besar dan dilibatkan secara aktif. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama, sharing pengetahuan, dan koordinasi yang baik antarpeserta. Selanjutnya, mereka dibebani target menghasilkan produk secara maraton dalam waktu kurang dari 36 jam. Live CD
Ketua Dewan Direksi The Free Software Initiative of Japan Yutaka Niibe mengatakan, dalam CodeFest kali ini, para peserta tengah mencoba mengembangkan peranti bernama Live CD (compact disk).
Perangkat sistem operasi berbasis OS ini diharapkan mampu berkerja tanpa perlu di-install ke sistem komputer.
"Jadi, kalau ingin memakai sistem operasi OS ini, pemakai cukup memasukkan CD ini ke komputer dan diaktifkan. Tidak perlu di-install dan mengubah sistem lama. Namun, tetap memungkinkan untuk ditambah, diubah, atau dimodifikasi sesuai peruntukan dan kebutuhannya," kata Niibe.
Dengan dihasilkannya produk Live CD ini nantinya dengan sendirinya diharapkan mampu mendorong pemanfaatan dan penggunaan OS di kalangan end user, terlebih mengingat kepraktisannya.
Setelah program ini dihasilkan, rencananya akan dipublikasikan dan distribusikan, tentunya secara cuma-cuma.
Menurut dia, keberadaan CodeFest sangatlah menguntungkan dalam kaitan pengembangan OSS di wilayah Asia, khususnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), mengingat keberadaan teknologi OSS di Asia sejauh ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Eropa sekalipun.
Di Asia sendiri, menurut dia, sejauh ini RRC dan India adalah negara yang paling terdepan dalam pengembangan produk peranti lunak, termasuk OSS. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, Jepang pun ikut mengalami persoalan krisis SDM potensial di bidang pengambangan peranti teknologi informasi. (jon)