Rubrik
Berita Utama
Bisnis & Keuangan
Humaniora
International
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Metropolitan
Nusantara
Olahraga
Opini
Politik & Hukum
Sosok
Sumatera Bagian Selatan
Sumatera Bagian Utara
Yogyakarta
Berita Yang lalu
Anak
Audio Visual
Bahari
Bentara
Bingkai
Dana Kemanusiaan
Didaktika
Ekonomi Internasional
Ekonomi Rakyat
Fokus
Furnitur
Ilmu Pengetahuan
Interior
Jendela
Kesehatan
Lingkungan
Lintas Timur Barat
Makanan dan Minuman
Muda
Musik
Otomotif
Otonomi
Pendidikan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Informal
Pendidikan Luar Negeri
Perbankan
Pergelaran
Perhubungan
Pixel
Properti
Pustakaloka
Rumah
Sorotan
Swara
Tanah Air
Teknologi Informasi
Telekomunikasi
Teropong
Wisata
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Berita Utama
Senin, 07 Agustus 2006

Kwamki Lama
Repotnya Mengakhiri Perang …

Jean Rizal Layuck

Setelah dua pekan terlibat perang yang hanya mengumbar nafsu, saling membunuh, dan menebar ketakutan, warga Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, akhirnya sepakat berdamai. Tetapi perdamaian yang diatur dalam aturan adat itu ternyata bukan main repotnya.

Meski upacara bakar batu di masing-masing kelompok sudah dilakukan dan nota perdamaian sudah ditandatangani, akan tetapi pihak-pihak bertikai harus menjalani prosesi adat perdamaian lanjutan. Karena, kepala mesti dibayar dengan kepala hingga jumlahnya seimbang.

Keluarga pihak yang kalah akan menuntut bayar kepada pihak pemenang. Tetapi kepala bisa dibayar dengan uang. Setelah itu, proses perdamaian pun akan mulus, tinggal menyisahkan pesta adat bakar batu secara luas.

Namun untuk prosesi itu dibutuhkan biaya banyak, bisa ratusan juta hingga miliaran rupiah. Akhir perang semestinya membuat persoalan jadi sederhana untuk kembali hidup normal tapi justru kian merepotkan. “Ini adat yang harus dijalani, dan kita harus menghormati adat. Kami lagi berdiskusi dengan pihak keluarga korban berapa besar tuntutan kepala harus dibayar," kata Jacobus Kogoya (33), Kepala Suku Dani, yang kehilangan enam warganya dalam perang itu.

Besarnya dana itu harus ditanggung pemicu perang. Kalau tidak mampu maka masyarakat suku harus menanggung renteng. “Penawaran bisa mencapai miliaran rupiah, tetapi biasanya kami membuka harga Rp 300 juta setiap kepala," kata Kogoya.

Setelah bayar kepala dipenuhi, proses berikutnya adalah bakar batu dan patah panah.

Tetapi ini juga membutuhkan biaya besar, karena menyertakan puluhan ekor babi. Contoh, saat perang tahun 2003, sedikitnya 50 babi dibakar. Padahal harga seekor babi di Kwamki Lama termurah Rp 8 juta hingga termahal Rp 20 juta. Untuk yang namanya gengsi adat, babi yang dibakar pun harus gemuk yang tentunya lebih mahal. Jumlah babi tergantung berapa banyak orang terlibat perang, karena semua warga harus mendapatkan jatah.

Menurut kepala perang suku Damal, Riki Dolame, babi maupun bayar kepala ditanggung bersama oleh “pokok perang". “Keluarga pokok perang kali ini adalah keluarga Elminus Mom dan Kogoya, mereka yang harus menanggungnya," katanya.

Ketika bakar batu dilakukan secara internal pekan lalu, tatkala perang berhenti, kelompok suku Damal sudah mengeluarkan uang Rp 16 juta untuk dua ekor babi. Suku Damal kehilangan empat warganya dalam perang itu.

Di kalangan masyarakat suku Damal, hari pertama bakar batu dimakan kaum wanita, lalu diikuti kaum lelaki. Wanita didahulukan sebagai penghormatan atas ibu melahirkan. Upacara adat "bakar batu" merupakan tradisi turun temurun masyarakat di Tanah Papua. Hampir seluruh suku di sana mengenal bakar batu. Batu menjadi simbol kekuatan.

Ritual bakar batu tidak hanya mengakhiri perang, tetapi dilakukan dalam pengucapan syukur perkawinan ataupun ulang tahun anggota keluarga. “Batu lebih cepat panas apabila dibakar," tambah Dalome menunjuk lubang seluas satu meter bekas bakar batu dengan isi dua ekor babi. Luas lubang bisa lebih besar tergantung banyaknya babi yang dibakar. Batu-batu yang dibakar sebesar 10-20 sentimeter.

Jumlah hewan korban ditentukan kedua pihak. Jika sudah terkumpul mereka akan menggali lubang. Batu dibakar sampai membara kemudian dimasukkan ke dalam lubang, diisi daging babi dan umbi-umbian terbungkus daun pisang mentah. Lubang ditutup dengan dedaunan.

Sekitar dua jam kemudian, makanan yang dimasak secara adat dibagikan kepada ketua adat dan pemimpin kedua kelompok yang bertikai. Para pemimpin dan ketua adat kedua kelompok menikmati masakan adat itu, diikuti anak buah mereka.

Tujuh suku

Dalam catatan sejarah adat masyarakat Kwamki Lama kasus yang sering melahirkan persoalan krusial adalah perzinahan atau asusila. Kasus ini sering berakhir dengan perang suku karena tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. Misalnya, tuntutan keluarga korban agar pelaku membayar ganti rugi sampai Rp 2 miliar ditambah ternak babi mencapai puluhan ekor. Di Mimika, warga korban tabrakan kendaraan bisa menuntut sampai Rp 1 miliar.

Kwamki Lama yang artinya “tempat burung Cendrawasih bermain-main" dihuni 20.000 jiwa dari tujuh suku, yaitu Amungme, Kamoro, Damal, Dani, Nduga, Mee, dan Moni. Masyarakat Kwamki Lama adalah masyarakat miskin, sebagian rumah-rumah penduduk terbuat dari papan, semipermanen, tanpa jendela dan pintu. Amat kontras dengan kekayaan emas yang ditambang oleh PT Freeport Indonesia di wilayah adat mereka.

Hidup berdampingan secara damai antara suku-suku kerap ternoda oleh aksi emosional. Dalam sepuluh tahun terakhir tercatat lima kali suku Damal, Nduga, dan Dani terlibat perang, mulai dari masalah tambang emas, politik pemekaran wilayah, hingga perkara perempuan. Kerapkali salah paham juga memicu perang seperti terjadi belakangan ini.

“Tahun 2001 kami berperang karena ada perempuan diperkosa," kata Jacky Magay, mantan kepala perang suku Damal saat perang pemekaran wilayah. Seakan tak jera, setiap saat bisa terjadi perang lagi meski karena salah paham seperti kasus terakhir. Padahal perang cuma melahirkan kepedihan dan kerugian. Mengakhirinya saja sungguh merepotkan…

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Lebanon Tolak Draf Resolusi

·

Lebar Sungai Mahakam Menyusut hingga Ratusan Meter

·

Dilema Kebijakan Ekonomi

·

Repotnya Mengakhiri Perang …

·

Pasien Asal Karo Pergi Diam-diam dari Rumah Sakit

·

Presiden Undang Investor Asing



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS