Reggae
Membumikan Musik Pembebasan
Yoo... Ooo...." Sapaan khas komunitas musik reggae itu menggema di ruangan Java Cafe and Resto. Pengunjung kafe pun menirukan sapaan itu sambil mengangkat tangan kanan yang terkepal. Puluhan anak muda penggemar musik pembebasan itu pun tersedot ke depan panggung untuk bergoyang mengikuti irama musik reggae yang dimainkan oleh Kuripasai Band.
Setiap kali ada event musik reggae, pengunjung kafe ini selalu ramai, tak terkecuali Jumat malam lalu. Pengunjung pun rela duduk lesehan maupun berdiri di pinggir meja bar untuk menikmati musik yang dimainkan Kupurasta, Rastamof, The Pineapples, dan Jogjamaika. Indonesian Reggae Community (IRC) menilai, fenomena ini merupakan salah satu indikator bahwa musik reggae sudah mulai menjadi milik publik Yogyakarta. Fenomena ini juga berarti ada peluang pasar yang bisa dibidik oleh para musisi reggae.
"Saat ini musik reggae memang sudah mulai diterima oleh semua kalangan, tidak eksklusif lagi. Ini bagus karena ada peluang pasar untuk dikembangkan," kata Dicky, Ketua IRC Yogyakarta.
Gitaris Kuripasai Band ini menilai, musisi reggae harus mulai menggarap pasar dari jalur rekaman indie. Membuat pasar indie memang membutuhkan kerja keras karena harus mengurusi semuanya dari rekaman hingga pemasaran.
Ia mencontohkan, grup musik Shaggy Dog bisa masuk jalur rekaman label mayor setelah membangun pasar indie di tiga album sebelumnya. "Kalau kita punya pasar sendiri, major label pasti akan melirik karena konsumennya sudah pasti," ujar Dicky.
Membangun pasar musik reggae di Yogyakarta bisa dikatakan gampang- gampang-sulit. Penggemar musik reggae memang terus berkembang tetapi daya beli sangat lambat berkembang. Tantangan ini mendorong para musisi untuk terus membumikan musik dari Jamaika itu di Yogyakarta. "Kita sekarang sudah mulai enak karena banyak kafe yang menggelar musik reggae. Dukungan seperti ini sangat membantu kami untuk mendekatkan reggae pada masyarakat," tutur Dicky.
Berdasar data dari IRC, saat ini di Yogyakarta terdapat sekitar 18 grup reggae. Mereka mayoritas dari kalangan mahasiswa dan sebagian anak-anak sekolah menengah atas. Perkembangan reggae di Yogyakarta dalam dua tahun terakhir ini mirip masa peralihan milenium. Waktu itu grup reggae selalu muncul di pentas-pentas musik kampus.
"Saat ini yang kita butuhkan adalah lebih banyak tempat untuk menggelar musik reggae di ruangan terbuka. Saat ini pentas musik reggae di luar kafe sangat jarang," kata Dicky.
Menurut Iyeng, Sekretaris IRC, membangun pasar musik reggae di Yogyakarta memang tidak bisa cepat. Musisi reggae harus pandai membaca peluang dan mengontrol supaya masyarakat tidak jenuh. Gelaran musik reggae harus dibuat jeda-jeda yang pas sehingga selalu membuat kangen penggemarnya.
"Kita jangan sampai seperti musik ska yang boom kemudian menghilang, hanya numpang lewat," kata Iyeng.
Pemain keyboard ini menilai, setiap grup reggae yang ada di Yogyakarta berpotensi membuat rekaman bersama. Ide ini sudah lama muncul tetapi belum ketemu saat yang pas. Album kompilasi ini bisa menjadi awal kekuatan baru musik reggae di Yogyakarta. IRC sendiri ingin menjadikan Yogyakarta sebagai katalog besar musik reggae. Informasi tentang reggae dari musik hingga pernik-perniknya bisa mengunjungi Yogyakarta.
Pentolan musik reggae Masanies pun pernah melontarkan ide serupa. Yogyakarta pernah memiliki distro khusus yang menjadi tujuan utama para penggemarnya untuk mengoleksi pernak-pernik reggae. Kemunculan para pembuat rambut dreadlocks di Jalan Malioboro menunjukkan bahwa Yogyakarta bisa menjadi sebuah pusat musik reggae dan aksesorinya. "Para musisi reggae dari luar kota di sekitar Yogyakarta memang sering merujuk ke sini karena komunitasnya sudah jadi dan memiliki jaringan yang baik," tutur Iyeng.
Jaringan yang dibangun komunitas reggae bukan hanya ke dapur rekaman. Mereka justru lebih fokus untuk lebih membumikan musik reggae. Dalam gelaran musik reggae bertema "Moon Over Jogja" di Java Cafe itu mereka mengenalkan musik reggae dalam bentuk aktivitas sosial. Gelaran yang dikemas oleh Abad Entertainment ini merupakan bagian program Ayo Bangkit untuk menggalang dana bagi korban gempa bumi.
Perjuangan para musisi reggae di Yogyakarta memang masih panjang. Keuletan dan konsistensi dari para pengusungnya untuk membuat pasar sendiri merupakan syarat utama. Filosofi reggae yang menyuarakan permasalahan kelas bawah menjadi penting dalam perjuangan para musisinya. Mereka tidak berdaya di jalur utama bisnis musik tetapi memiliki kekuatan untuk membangun pasar indie. Sang legenda reggae Bob Marley pun selalu berpesan pada kita, Get up, Stand up! Dont give up the fight! (ANG)