Rubrik
Berita Utama
Bisnis & Keuangan
Humaniora
International
Metropolitan
Nusantara
Olahraga
Opini
Politik & Hukum
Sosok
Sumatera Bagian Selatan
Sumatera Bagian Utara
Berita Yang lalu
Anak
Audio Visual
Bahari
Bentara
Bingkai
Dana Kemanusiaan
Didaktika
Ekonomi Internasional
Ekonomi Rakyat
Fokus
Furnitur
Ilmu Pengetahuan
Interior
Jendela
Kesehatan
Lingkungan
Lintas Timur Barat
Makanan dan Minuman
Muda
Musik
Otomotif
Otonomi
Pendidikan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Informal
Pendidikan Luar Negeri
Perbankan
Pergelaran
Perhubungan
Pixel
Properti
Pustakaloka
Rumah
Sorotan
Swara
Tanah Air
Teknologi Informasi
Telekomunikasi
Teropong
Wisata
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Jawa Tengah
Jumat, 31 Maret 2006

Kewirausahaan
Kisah Sukses Difabel Menjadi Wirausaha

Evi Purwaningsih (32) hampir seumur hidupnya harus merelakan kakinya terkulai lemah karena polio. Meski demikian, hingga lulus SMEA ia selalu belajar di sekolah umum. Kenyataan hidup mengempaskannya. Saat melamar kerja, Evi selalu menerima jawaban penolakan.

"Lulus SMEA saya sempat mencari kerja ke mana-mana tapi tidak ada perusahaan yang mau terima saya sebagai difabel," tuturnya beberapa waktu lalu di Solo.

Tidak ingin berputus asa, tahun 1995 ia mengikuti kursus membuat tas rajut di kelurahan tempat ayahnya bekerja. Bersama para ibu PKK, hasil buatan tasnya justru yang dipilih oleh toko yang sebelumnya berjanji akan menyalurkan hasil karya peserta kursus yang dinilai layak jual.

Sayang dalam perkembangannya, usaha ini surut seiring menurunnya permintaan. Evi lalu ikut kursus menjahit di Semarang selama empat bulan. Karena baru pertama kali itu menjahit padahal jadwal praktik hanya dua kali, membuatnya kesulitan mengaplikasikannya.

Tahun 2000, usaha kerajinan tas mote sedang naik daun. Menuruti ajakan sang adik, Evi ikut kursus membuat kerajinan mote di toko tempatnya bekerja. Hasil kerjanya yang rapi membuat karyanya dipercaya toko itu untuk dipasarkan. Meskipun awalnya setengah terpaksa, menekuni kerajinan mote kini menjadi mata pencaharian Evi.

"Saya sekarang malah kebanjiran order untuk memasang furing tas mote," kata Evi.

Usahanya semakin maju berkat promosi dari mulut ke mulut. Kini ia mampu meraup penghasilan bersih tiap bulan Rp 400.000, dari hasil menyelesaikan pesanan tas mote yang diberi harga Rp 100.000-Rp 750.000.

Ia juga mengajarkan kembali keterampilannya pada orang lain. (Sri Rejeki)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

14 Orang yang Diduga Provokator Dibebaskan

·

Penggusuran Itu, Bagaimana dengan Mereka yang Menjual

·

Kemacetan di Semarang Timbulkan Kerugian Rp 1,8 Triliun Setahun

·

PT SPJT Fokus pada Eksploitasi

·

Pegawai Negeri Sehari

·

Selesaikan Terminal Utara

·

Gitu Aja Kok Repot!

·

Pengusul Belum Memiliki Persepsi yang Sama

·

Kisah Sukses Difabel Menjadi Wirausaha

·

Bank Syariah Belum Menjadi Pilihan Utama

·

Koi Tembus Pasar Jerman

·

Pupuk Langka, Dampak Tata Niaga

·

APBD Jateng 2005 Dinilai Tak Efisien

·

Pasar Johar Akan Dibongkar Kembali

·

Buruh di DIY Tolak Revisi UU 13/2003

·

Banyak Perusahaan Pakai Sistem Kontrak

·

Tikus Kembali Serang Empat Kelurahan

·

1,6 Juta Hektar Potensial

·

Warga Kampung Laut Tinggalkan Desanya

·

Pilkada Diikuti 2 Pasangan Saja

·

Menjadi Sehat di Nglimut

·

Persibat Menang, Persiku Dicukur

·

Bengawan Solo

·

Surat Pembaca

·

SUARA WARGA

·

Kilas Ekonomi

·

Wiyata

·

Arena



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS