Rubrik
Berita Utama
Metropolitan
Nusantara
Bisnis & Keuangan
International
Opini
Olahraga
Politik & Hukum
Humaniora
Jawa Barat
Sosok
Sumatera Bagian Utara
Sumatera Bagian Selatan
Berita Yang lalu
Otonomi
Ilmu Pengetahuan
Pergelaran
Audio Visual
Rumah
Teropong
Teknologi Informasi
Muda
Swara
Pendidikan Dalam Negeri
Musik
Sorotan
Dana Kemanusiaan
Properti
Bentara
Wisata
Fokus
Telekomunikasi
Ekonomi Rakyat
Pustakaloka
Jendela
Ekonomi Internasional
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Otomotif
Furnitur
Makanan dan Minuman
Perbankan
Pendidikan
Didaktika
Pixel
Bingkai
Pendidikan Informal
Lingkungan
Lintas Timur Barat
Perhubungan
Interior
Tanah Air
Kesehatan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Ilmu Pengetahuan
Jumat, 09 Desember 2005

Mari Kita Menghitung Untung

Bagaimana menghitung untung dari peluncuran Satelit Telkom-2, yang merupakan satelit komersial kedelapan, yang diluncurkan 17 November 2005 lalu?

Baik Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Arwin Rasyid di Jakarta maupun wakilnya Garuda Sugardo yang ikut ke Centre Spatial Guyanais (CSG) di Kourou, Guyana-Perancis, sama- sama bersemangat kalau bicara keuntungan. Selain nilai strategis untuk kepentingan telekomunikasi di Indonesia, aspek bisnisnya juga tidak kalah penting.

Modal membuat, meluncurkan, sampai menempatkan satelit pada orbitnya ditaksir 170 juta dollar AS atau Rp 1,7 triliun. Rinciannya, menurut Garuda, adalah biaya pembuatan satelit (dipercayakan pada Orbital Sciences Corporation) 73 juta dollar AS, jasa peluncuran (Arianespace) 63 juta dollar AS, jasa asuransi (Jasindo) 25 juta dollar AS, dan jasa konsultan (Kanada) 8,5 juta dollar AS.

Seluruh stakeholder yang terlibat dalam suksesnya peluncuran Satelit Telkom-2 hadir di Kourou, Guyana-Perancis, suatu wilayah tropis berbatasan dengan Brasil yang berjarak 20.000 kilometer dari Jakarta.

Prediksi optimistis keuntungan yang diperoleh sebagai berikut umur ekonomis Satelit Telkom-2 adalah 15 tahun. Bahkan, karena satelit itu mengalami penundaan peluncuran sampai sembilan kali, pihak Arianespace memberi kompensasi dengan menyuntik ”nyawa tambahan” sampai satu tahun lagi sehingga satelit bisa hidup sampai 16 tahun. Dengan 24 transponder di dalamnya, investasi 170 juta dollar AS itu sangat bergantung pada 24 C Band transponder-nya.

Jika dihitung masing-masing transponder senilai 7 juta dollar AS, setiap penyewa dikenai biaya 1 juta dollar AS per tahun. Katakanlah seorang user menyewa satu transponder selama 15 tahun, keuntungan yang diperoleh PT Telkom Tbk adalah 15 juta dollar AS per satu transponder. PT Telkom Tbk hanya akan menggunakan delapan dari 24 transponder itu. Sisanya, sebanyak 16 transponder, siap disewakan.

Tentu akan ketemu angka 240 juta dollar AS alias meraup untung 70 juta dollar AS sepanjang 15 tahun satelit beroperasi. ”Gampang ’kan menghitungnya,” seloroh Sarwoto Atmosutarno, Kepala Divisi Long Distance di Kourou, beberapa jam setelah Satelit Telkom-2 diluncurkan di CSG.

Di samping itu, PT Telkom Tbk masih leluasa menggunakan delapan transponder-nya untuk kepentingan bisnis telekomunikasinya, baik untuk jaringan telepon, internet, maupun pengiriman data elektronis lainnya. Satelit Telkom-2 dimaksudkan untuk mengganti peran Satelit Palapa B4 yang telah memasuki purnatugas sejak Juli 2003 lalu.

Untuk mengisi kekosongan, PT Telkom Tbk sampai harus terpaksa menyewa satelit ChinaStar dan Apstar untuk menjamin tidak terganggunya pelayanan terhadap pelanggan Satelit Palapa B4 saat satelit ini pensiun.

Jangkauan Satelit Telkom-2 memang jauh lebih luas dibandingkan dengan generasi sebelumnya sebab, selain mencakup Indonesia, Asia Pasifik, Australia, dan Selandia Baru, juga menjangkau India dan Guam.

Menurut data yang diperoleh dari PT Telkom Tbk, sebagai negara yang memiliki garis khatulistiwa terpanjang di dunia, cakrawala Indonesia menjadi ladang subur bisnis satelit. Lihat saja di atas langit Indonesia beroperasi Satelit iPSTAR milik Shin Satellite, operator telekomunikasi Thailand, yang menyediakan layanan broadband di 14 negara, mulai desa-desa di India hingga Australia dan Selandia Baru. Newskies dengan Satelit NSS 6 menawarkan layanan broadband untuk usaha kecil. Bahkan, satelit milik Malaysia, Measat 4, yang akan diluncurkan tahun depan cakupannya meliputi Indonesia dari barat sampai ke timur.

Satelit Telkom-2 yang diperkirakan sudah mulai bisa disewakan 21 Desember nanti digunakan untuk keperluan backbone transmisi, kesinambungan dan pengembangan layanan transmisi satelit yang dilayani Satelit Palapa B4, memenuhi kebutuhan telekomunikasi yang sampai menjangkau jauh pelosok desa (rural telecommunication), mendukung jaringan telekomunikasi nasional, pemenuhan kebutuhan telekomunikasi mulitimedia, bahkan sampai kebutuhan pertahanan meski kepentingan yang terakhir ini tidak terlalu ditonjolkan.

Sebagai perusahaan telekomunikasi terkemuka di negeri ini, praktis PT Telkom hanya mendapat saingan dari tiga perusahaan yang mengoperasikan satelit di Indonesia, yakni PT Indosat dengan Satelit Palapa C2, PT Media Citra Indostar dengan Satelit Cakrawarta 1, dan PT Pasifik Satelit Nusantara dengan Satelit Garuda 1. Adapun PT Telkom memiliki Satelit Telkom-1, Palapa B4, dan Satelit Telkom-2.

Dari Satelit Palapa B4 dan Satelit Telkom-1, PT Telkom memiliki 60 transponder. Menurut Sarwoto, 30 persen dari 60 transponder itu kini sudah disewakan kepada 17 perusahaan penyiaran. Bahkan ada perusahaan yang langsung menyewa dua transponder sekaligus.

Bisnis telepon seluler yang semakin progresif dimainkan sejumlah operator yang berdagang telepon seluler sampai ke pelosok-pelosok daerah dan maraknya industri siaran, khususnya televisi di Indonesia, membuat bisnis satelit sangat berprospek, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

PT Indosat dengan Satelit Palapa C2 yang mulai beroperasi sejak 1996 hingga 2011 kini disewa sejumlah perusahaan broadcaster televisi, seperti RCTI, SCTV, MetroTV, TPI, Indosiar, antv, GlobalTV, dan perusahaan penyiaran radio. Indosat juga memanfaatkan beberapa transponder-nya untuk keperluan backbone seluler yang dioperasikannya.

Cakrawarta 1 milik PT Matahari Lintas Cakrawarta yang dioperasikan mulai 1997 hingga 2012 diperuntukkan khusus untuk keperluan Indovision, perusahaan yang menyediakan jaringan televisi berlangganan. Satelit Garuda 1 milik PT Pacific Satelit Nusantara yang beroperasi dari 2000 hingga 2015 digunakan untuk telepon satelit Byru dan perbankan.

Adapun Satelit Telkom-1 yang beroperasi 1999 hingga 2015 disewakan ke sejumlah perusahaan broadcaster televisi, seperti TransTV, TV7, Lativi, dan sejumlah televisi daerah yang mulai menjamur berkah adanya otonomi daerah. (PEP)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

41 Menit yang Menentukan

·

Mari Kita Menghitung Untung



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS