Genset Terus Diserbu untuk Kebutuhan Rumah Tangga
"CARI genset, Pak?” Pertanyaan gencar itu berulang kali terdengar di setiap lorong toko pedagang alat alternatif pembangkit tenaga listrik di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (19/8). Genset atau generator tiba-tiba saja ”naik daun” akibat aliran listrik yang mati se-Jawa dan Bali, Kamis.
Genset terus diserbu konsumen. Dalam sehari, 100-300 genset laris terjual. Kini, genset tampaknya menjadi ”jantung” kebutuhan mendesak bagi rumah tangga dan perkantoran.
Maraknya perdagangan genset, antara lain, juga terlihat di pusat perdagangan Blok A dan Pasar Kenari. Apalagi, sistem kelistrikan Jawa-Bali dikabarkan masih riskan untuk beberapa tahun mendatang.
Hampir sepanjang hari kemarin, konsumen menyerbu dari toko ke toko lain. Sebelum terjadi tawar-menawar harga, konsumen satu sama lain bercerita mengenai kerugian yang mereka alami. Segala aktivitas terhenti. Bayangkan, ada listrik sebagian daerah di wilayah Ibu Kota DKI Jakarta yang baru menyala pada pukul 19.00. Tak sedikit pula warga yang marah karena listrik baru menyala pukul 22.00.
Bagi Ridwan Afandi Tandoko, pemilik toko Angkasa Teknik di Lindeteves Trade Center, peristiwa padamnya aliran listrik menjadi rezeki tersendiri. Dulu, orang-orang sepertinya melecehkan genset dengan bahan bakar bensin atau solar ini. ”Tuhan memang sudah mengatur rezeki untuk kami,” kata Ridwan.
Harga genset yang sangat kompetitif membuat konsumen cenderung memilih genset buatan China. Apalagi, perbedaan harga genset dari negeri Tirai Bambu itu bisa mencapai 50 persennya.
Ridwan mengatakan, permintaan konsumen memang bermacam-macam. Ada yang mementingkan kualitas, ada juga yang membeli cuma sebatas kemampuan keuangannya.
Sewaktu aliran listrik padam pada Kamis lalu, Ridwan berhasil menjual 40 genset. Begitu mendesaknya kebutuhan genset membuat konsumen rela membawa sendiri genset itu, tanpa perlu diantar.
”Konsumen cenderung memilih genset dengan kapasitas 2.000-5.000 watt. Ramainya genset bukan cuma akibat pemadaman listrik, tetapi juga sewaktu banjir melanda Jakarta,” katanya.
Harga genset merek Yamaha Jepang kapasitas 650 watt-5.000 watt seharga Rp 2,5 juta hingga Rp 43 juta per unit. Genset Mitsubishi (2.000 watt) mencapai Rp 5,1 juta dan Honda (2.000 watt) seharga Rp 4,5 juta. Sedangkan, genset bikinan China, seperti Daimaru, Motoya, dan Sogo, lebih murah dibandingkan dengan genset Jepang.
Ajam, pemilik toko Orient Teknik di Glodok Jaya, mengaku telah menjual 100-300 genset dalam sehari. Biasanya, ia hanya bisa menjual di bawah 10 unit. Penjualan sebanyak itu dari dua toko miliknya. Maraknya permintaan genset menyebabkan toko buka hingga pukul 20.00.
Umumnya, konsumen mengkhawatirkan adanya aliran listrik yang mati secara mendadak, terutama pada jam sibuk. Krisis energi dinilai semakin menjadi- jadi, mengingat padamnya aliran listrik selama berjam-jam sudah terjadi beberapa kali.
Jon, warga Cikarang, yang hendak membeli genset, menuturkan, aliran listrik di daerah rumahnya padam sejak pukul 10.30 hingga pukul 21.00. Semua aktivitas rumah tangga berhenti total. ”Terus terang, genset kapasitas 2.000 watt ini cuma sebagai back up kalau listrik mati lagi,” kata Jon, yang mengaku baru saja memiliki bayi.
Dengan nada kesal, Iwan, teknisi kantor pengacara di Taman Ratu, Jakarta Barat, yang sedang memilih genset kapasitas besar untuk mengaktifkan tujuh komputer di kantornya, menuturkan, ”Repot banget, kalau listrik mati! Sebetulnya apa sih yang dilakukan pemerintah?” katanya. (OSA)