Rubrik
Berita Utama
Metropolitan
Nusantara
Bisnis & Keuangan
International
Opini
Olahraga
Politik & Hukum
Humaniora
Jawa Barat
Sosok
Sumatera Bagian Utara
Sumatera Bagian Selatan
Berita Yang lalu
Otonomi
Ilmu Pengetahuan
Pergelaran
Audio Visual
Rumah
Teropong
Teknologi Informasi
Muda
Swara
Pendidikan Dalam Negeri
Musik
Sorotan
Dana Kemanusiaan
Properti
Bentara
Wisata
Fokus
Telekomunikasi
Ekonomi Rakyat
Pustakaloka
Jendela
Ekonomi Internasional
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Otomotif
Furnitur
Makanan dan Minuman
Perbankan
Pendidikan
Didaktika
Pixel
Bingkai
Pendidikan Informal
Lingkungan
Interior
Tanah Air
Kesehatan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Bisnis & Keuangan
Sabtu, 20 Agustus 2005

Genset Terus Diserbu untuk Kebutuhan Rumah Tangga

"CARI genset, Pak?” Pertanyaan gencar itu berulang kali terdengar di setiap lorong toko pedagang alat alternatif pembangkit tenaga listrik di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (19/8). Genset atau generator tiba-tiba saja ”naik daun” akibat aliran listrik yang mati se-Jawa dan Bali, Kamis.

Genset terus diserbu konsumen. Dalam sehari, 100-300 genset laris terjual. Kini, genset tampaknya menjadi ”jantung” kebutuhan mendesak bagi rumah tangga dan perkantoran.

Maraknya perdagangan genset, antara lain, juga terlihat di pusat perdagangan Blok A dan Pasar Kenari. Apalagi, sistem kelistrikan Jawa-Bali dikabarkan masih riskan untuk beberapa tahun mendatang.

Hampir sepanjang hari kemarin, konsumen menyerbu dari toko ke toko lain. Sebelum terjadi tawar-menawar harga, konsumen satu sama lain bercerita mengenai kerugian yang mereka alami. Segala aktivitas terhenti. Bayangkan, ada listrik sebagian daerah di wilayah Ibu Kota DKI Jakarta yang baru menyala pada pukul 19.00. Tak sedikit pula warga yang marah karena listrik baru menyala pukul 22.00.

Bagi Ridwan Afandi Tandoko, pemilik toko Angkasa Teknik di Lindeteves Trade Center, peristiwa padamnya aliran listrik menjadi rezeki tersendiri. Dulu, orang-orang sepertinya melecehkan genset dengan bahan bakar bensin atau solar ini. ”Tuhan memang sudah mengatur rezeki untuk kami,” kata Ridwan.

Harga genset yang sangat kompetitif membuat konsumen cenderung memilih genset buatan China. Apalagi, perbedaan harga genset dari negeri Tirai Bambu itu bisa mencapai 50 persennya.

Ridwan mengatakan, permintaan konsumen memang bermacam-macam. Ada yang mementingkan kualitas, ada juga yang membeli cuma sebatas kemampuan keuangannya.

Sewaktu aliran listrik padam pada Kamis lalu, Ridwan berhasil menjual 40 genset. Begitu mendesaknya kebutuhan genset membuat konsumen rela membawa sendiri genset itu, tanpa perlu diantar.

”Konsumen cenderung memilih genset dengan kapasitas 2.000-5.000 watt. Ramainya genset bukan cuma akibat pemadaman listrik, tetapi juga sewaktu banjir melanda Jakarta,” katanya.

Harga genset merek Yamaha Jepang kapasitas 650 watt-5.000 watt seharga Rp 2,5 juta hingga Rp 43 juta per unit. Genset Mitsubishi (2.000 watt) mencapai Rp 5,1 juta dan Honda (2.000 watt) seharga Rp 4,5 juta. Sedangkan, genset bikinan China, seperti Daimaru, Motoya, dan Sogo, lebih murah dibandingkan dengan genset Jepang.

Ajam, pemilik toko Orient Teknik di Glodok Jaya, mengaku telah menjual 100-300 genset dalam sehari. Biasanya, ia hanya bisa menjual di bawah 10 unit. Penjualan sebanyak itu dari dua toko miliknya. Maraknya permintaan genset menyebabkan toko buka hingga pukul 20.00.

Umumnya, konsumen mengkhawatirkan adanya aliran listrik yang mati secara mendadak, terutama pada jam sibuk. Krisis energi dinilai semakin menjadi- jadi, mengingat padamnya aliran listrik selama berjam-jam sudah terjadi beberapa kali.

Jon, warga Cikarang, yang hendak membeli genset, menuturkan, aliran listrik di daerah rumahnya padam sejak pukul 10.30 hingga pukul 21.00. Semua aktivitas rumah tangga berhenti total. ”Terus terang, genset kapasitas 2.000 watt ini cuma sebagai back up kalau listrik mati lagi,” kata Jon, yang mengaku baru saja memiliki bayi.

Dengan nada kesal, Iwan, teknisi kantor pengacara di Taman Ratu, Jakarta Barat, yang sedang memilih genset kapasitas besar untuk mengaktifkan tujuh komputer di kantornya, menuturkan, ”Repot banget, kalau listrik mati! Sebetulnya apa sih yang dilakukan pemerintah?” katanya. (OSA)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Pertamax Jadi Rp 5.700

·

Sulsel Terancam Gelap Gulita

·

Operator Flexi Cari Frekuensi

·

Indosat Tinggalkan Camintel

·

Tercantum Empat Karakteristik dalam RUU

·

Tahun 2006 PPA Fokus Tingkatkan Nilai Aset Kredit dan Properti

·

Bank Asing Kucurkan Kredit

·

Seleksi Ulang Calon Direksi PT Kereta Api

·

Genset Terus Diserbu untuk Kebutuhan Rumah Tangga

·

Otoritas Gagal Tahan Rupiah

·

Obligasi PLN Bisa Dibeli secara Ritel

·

MV Mirna Nyaris Dilepas

·

Penyuluh Akan Terus Ditambah

·

2005, Ekspor Rotan Akan Turun 35%

·

KPPU Denda Carrefour Rp 1,5 Miliar

·

KILAS EKONOMI



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS