Indomobil Tambah Saham di Nissan Motor Indonesia
Jakarta, Kompas - Para pemegang saham perseroan, PT Indomobil Sukses Internasional, menyetujui pembelian kembali saham milik Nissan Motor Co Ltd di PT Nissan Motor Indonesia senilai 8,3 juta dollar AS. Dengan pembelian ini, total kepemilikan saham perseroan PT ISI pada PT Nissan Motor Indonesia mencapai 25 persen.
"Kami ingin membeli 4.650 saham karena prospek penjualan otomotif besar. Selain itu, pembelian saham itu juga menunjukkan kepercayaan perseroan terhadap mitra bisnis," kata Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional (PT ISI) Gunadi Sindhuwinata seusai rapat umum pemegang saham (RUPS) dan RUPS Luar Biasa di Jakarta, Jumat (17/6).
Selama ini kepemilikan saham PT Nissan Motor Indonesia (NMI) dipegang oleh PT Nissan Motor Co Ltd (NML) dari Jepang sebesar 83,3 persen, PT ISMG Sejahtera Langgeng (PT ISMGSL) sebesar 13,66 persen, dan perseroan PT ISI sebesar 3,04 persen.
Sementara itu, kepemilikan saham PT ISI di PT ISMGSL sebesar 100 persen. Dengan pembelian saham senilai 8,3 juta dollar AS itu (sekitar Rp 80,09 miliar dengan kurs Rp 9.650 per dollar AS), kepemilikan saham perseroan PT ISI di NMI bertambah dari 3,04 persen, menjadi 11,34 persen. Jika ditambah dengan kepemilikan saham PT ISI melalui PT ISMGL di NMI, total kepemilikan saham perseroan PT ISI di NMI akan mencapai 25 persen.
Gunadi menjelaskan, waktu terjadi peningkatan modal di PT NMI sekitar tiga tahun lalu perseroan PT ISI tidak ikut menambah modal sehingga saham terdilusi. "Artinya, saham kecil karena tidak investasi," katanya.
Akan tetapi, lanjut Gunadi, saat itu PT NMI juga memberikan opsi bahwa sewaktu- waktu perseroan dapat membeli saham atau menambah kepemilikan saham sebesar 25 persen. "Karena itu, sekarang kita membeli kembali," katanya.
Gunadi menambahkan, selain di NMI, perseroan PT ISI juga memiliki saham antara lain di PT Indomobil Suzuki Internasional sebanyak 10 persen, PT Hino Motors Sales Internasional sebesar 40 persen, dan PT Indotruck Utama sebesar 60 persen.
Gunadi menjelaskan, latar belakang pembelian saham itu antara lain karena faktor prospek penjualan otomotif yang cukup besar di Indonesia. "Tahun 2005 ini kita menargetkan penjualan kendaraan bermotor meningkat 25 persen. "Itu targetnya. Namun, berdasarkan pengalaman tahun lalu, kemungkinan bisa lebih dari itu," katanya.
Dari data, selama tahun 2004 perseroan dan anak perusahaan telah menjual sebanyak 15.900 kendaraan roda empat dan 38.700 kendaraan roda dua, masing-masing meningkat 45,3 persen dan 64,4 persen dibandingkan dengan tahun 2003.
Kontribusi penjualan terbesar untuk jenis mobil berasal dari kategori niaga, yaitu 94 persen. Sisanya dari kategori sedan sebesar 6 persen.
Dengan pembelian saham tersebut, lanjut Gunadi, diharapkan nilai saham dapat meningkat di masa mendatang. Dengan demikian, tingkat pendapatan dan dividen perseroan akan menjadi lebih besar di kemudian hari.
Harga saham perseroan PT ISI pada awal tahun 2004 sebesar Rp 1.000 per lembar. Pada akhir tahun 2004 harga saham ditutup sebesar Rp 900 per lembar. Selama periode laporan harga saham tertinggi Rp 1.375 per lembar dan terendah Rp 700 per lembar.
Rugi bersih
Dari laporan tahunan PT ISI, tahun 2004 rugi bersih tercatat Rp 57 miliar. Oleh karena itu, untuk saat ini tidak ada pembagian dividen. Sebagai perbandingan, laba bersih perseroan PT ISI tahun 2003 sebesar Rp 62 miliar.
"Kerugian disebabkan oleh gejolak kurs. Kurs merupakan suatu faktor yang menjadi beban. Padahal, perusahaan secara operasional baik. Kami harus melepas ketergantungan pada kurs," kata Gunadi.
Cara melepas ketergantungan pada gejolak kurs itu, yakni menukarkan pinjaman mata uang asing dengan mata uang rupiah. Selain itu, melakukan restrukturisasi pinjaman
Meskipun rugi bersih, penghasilan bersih konsolidasi perseroan PT ISI dan anak perusahaan tahun 2004 mencapai Rp 4,3 triliun. Penghasilan bersih tahun 2003 sebesar Rp 2,7 triliun.
Kontribusi terbesar dalam penghasilan bersih konsolidasi perseroan berasal dari kendaraan bermotor sebesar Rp 3,4 triliun atau 79 persen, diikuti oleh usaha jasa keuangan sebesar Rp 380 miliar atau 9 persen, suku cadang dan pelayanan purna jual Rp 296 miliar atau 7 persen, dan aneka industri sebesar Rp 209 miliar atau 5 persen.
Gunadi menambahkan, tahun 2005, perseroan akan terus meningkatkan kinerja perseroan. Misalnya, perseroan akan terus berupaya mengembangkan jaringan pemasaran melalui pembukaan ruang pamer, outlet jasa keuangan, dan bengkel-bengkel baru untuk menunjang target penjualan yang semakin meningkat. (fer)