Liga Sepak Bola China Tekor
Beijing, Jumat - Liga Super China tekor. Sepanjang tahun lalu, liga sepak bola yang dituduh penuh dengan korupsi itu hanya bisa menghasilkan pendapatan separuh dari target yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Pemasukan liga hanya sekitar 70 juta yuan (Rp 78,3 miliar), atau kurang 46 persen dari prediksi semula," ungkap Wakil Direktur Eksekutif Asosiasi Sepak Bola China (CFA), Yang Yimin, hari Jumat (25/2).
Pernyataan resmi pejabat CFA itu disampaikan hanya berselang sehari setelah China memutuskan menunda pelaksanaan liga selama kurang lebih satu bulan. Liga diundur hingga tanggal 2 April akibat ketiadaan sponsor.
"Sebagian besar sponsor memang telah mengurangi investasi mereka," ungkap Yang Yimin.
Koran Titan Sports menyebutkan, penundaan pelaksanaan liga juga merupakan opsi yang dipilih oleh 12 dari 14 klub anggota liga.
"Penundaan telah diantisipasi dan asosiasi tidak akan mengintervensi keputusan itu," ujar Ketua CFA yang baru, Xie Yalong, sebagaimana dikutip Titan Sports.
Bukan hanya telah kehilangan sponsor utama perusahaan telekomunikasi raksasa Jerman, Siemens, liga China juga telah ditinggalkan para penggemar.
"Rata-rata penonton pertandingan pada musim lalu hanyalah 11.000 orang," urai Yang dalam pertemuan antara CFA dan 14 klub anggota liga.
Angka rata-rata 11.000 penonton tersebut, menurut Yang, merupakan jumlah terendah yang pernah terjadi dalam pertandingan sepak bola profesional di China.
"Lebih rendah 38 persen dibanding masa-masa sebelumnya," jelasnya.
Penonton televisi turun
Nasib naas yang dialami Liga Super China masih belum usai. Dilaporkan pula, jumlah penonton liga melalui televisi mengalami penurunan hingga 42 persen.
Liga Super China dimulai pada tahun 2004. Tujuan digelarnya liga ini adalah untuk mendorong minat satu miliar lebih penduduk China terhadap sepak bola profesional dari negeri mereka sendiri.
Sayang, sepanjang tahun pertama pelaksanaannya, Liga Super China dipenuhi dengan perwasitan yang tak bermutu serta korupsi dan kesemrawutan pengelolaan oleh para pengurus.
Buruknya penyelenggaraan liga seolah menjadi simbol kegagalan tuan rumah Olimpiade 2008 itu dalam memajukan olahraga profesional di China.
Koran Titan Sports melaporkan, klub dan CFA telah mulai bekerja keras untuk menyelamatkan nasib liga, termasuk dengan memberi hak yang lebih besar kepada klub untuk bernegosiasi dengan para pemain dan sponsor.
Upaya membuat pelaksanaan liga menjadi lebih transparan agar terhindar dari korupsi dan mismanagement juga telah dilakukan lewat pemberian hak yang lebih besar kepada klub untuk mengontrol pemasangan iklan di stadion. Sebelum ini, pemasangan iklan dimonopoli oleh perusahaan yang bernaung di bawah CFA.
Persoalan sepak bola China tidak hanya melanda Liga Super, tapi juga memengaruhi tim nasional negara itu. Pada Agustus 2004, China dikalahkan Jepang 1-3 pada final Piala Asia. Kekalahan ini memicu bentrokkan antara suporter dan polisi. (ap/reuters/ato)