Pendapatan per Kapita Indonesia Tahun 2025 Capai 6.000 Dollar AS
Jakarta, Kompas - Pemerintah memperkirakan pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai 6.000 dollar AS, atau setara dengan Rp 55,17 juta. Pendapatan per kapita itu diperkirakan akan lebih merata sehingga jumlah penduduk miskin diperkirakan tidak lebih dari lima persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu.
Demikian salah satu bagian dari rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 yang tengah dibahas oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang diterima Kompas di Jakarta, Jumat (4/2).
Dalam rancangan RPJP itu disebutkan, pembangunan ekonomi pada 20 tahun mendatang diarahkan pada terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh. Menetapkan sektor pertanian dan pertambangan sebagai basis aktivitas ekonomi.
Fokus itu diharapkan akan menghasilkan produk yang efisien dan modern, menciptakan industri manufaktur yang berdaya saing global sebagai motor penggerak perekonomian. Jasa, serta jasa yang menjadi perekat ketahanan ekonomi. Kemandirian pangan dapat dipertahankan pada tingkat aman dan dalam kualitas gizi yang memadai. Tersedianya pangan untuk tingkat rumah tangga.
Fokus pengembangan industri dalam 20 tahun mendatang akan diarahkan pada industri yang berbasis pertanian, kelautan, transportasi, serta industri teknologi informatika dan peralatan telekomunikasi. Selain itu, diarahkan juga pada basis industri manufaktur yang potensial dan strategis untuk penguatan daya saing industri.
Ketersediaan pangan
Rancangan awal RPJP itu menekankan perlunya diversifikasi konsumsi pangan karena ketergantungan terhadap beras masih tinggi sehingga tekanan terhadap produksi padi semakin tinggi. Ketersediaan pangan semakin terbatas akibat meningkatnya konversi lahan sawah dan kawasan pertanian produktif lainnya. Rendahnya produktivitas, buruknya kondisi jaringan irigasi dan prasarana irigasi di lahan produksi.
Peningkatan produksi pangan hanya terjadi di Pulau Jawa sehingga dalam kurun waktu 1995-2000, rata-rata produktivitas nasional hanya meningkat 80 kg per hektar. Dari luas lahan baku sawah sekitar 8,4 juta hektar, pada kurun waktu 1992-2000 luas tersebut menurun sekitar 500.000 hektar, menjadi 7,9 juta hektar.
Selain itu, sektor kelautan Indonesia yang memiliki daya saing global dalam jangka panjang dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu disebabkan pada tahun 2003 sektor kelautan menyumbang 23,1 persen pada perekonomian nasional, atau kedua setelah sektor jasa.
Kelautan memiliki potensi jangka panjang karena memungkinkan negara untuk mengeksploitasi hak pengelolaan di wilayah zona tambahan, yakni Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Mengenai sektor keuangan akan dikembangkan, agar tetap memiliki kemampuan dalam menjaga stabilitas ekonomi dengan mengimplementasikan sistem Jaringan Pengaman Sektor Keuangan Indonesia.
Selain itu, lembaga jasa keuangan nonbank dapat meningkatkan kontribusi dalam pendanaan pembangunan dan kualitas pertumbuhan perbankan nasional. Setiap jenis investasi, baik jangka pendek maupun panjang, akan memperoleh sumber pendanaan yang sesuai dengan karakteristik jasa keuangan.(OIN)