Dari Singapura dan Saudi dengan Siksa
BAGI wanita muda pedesaan Blitar, boleh dibilang tawaran kerja di luar negeri masih menggiurkan. Namun, tawaran sejenis jangan sampaikan kepada Eny Khoiriyah (20). Warga Desa Bendosewu, Kabupaten Blitar, yang baru saja pulang bekerja dari Singapura bulan Maret 2004 ini tak akan ragu menggoyangkan kepalanya. "Enggak, sudah cukup, saya kapok," katanya menahan tangis.
Menurut gadis berkulit putih ini, pengalamannya kali pertama jadi seorang TKW memang mimpi buruk. Dua bulan pertama bekerja, Eny langsung menderita gatal-gatal. Kulitnya merah kebiruan dan bernanah.
Namun, bukannya dibawa ke dokter oleh majikannya, Eny justru dipulangkan ke agen. Setelah membayar 350 dollar kepada agen, Eny dapat majikan baru. Keadaan tak membaik. Sebaliknya, gadis lulusan madrasah aliyah ini mendapatkan perlakuan yang kian buruk: kerap dicaci-maki dan dipukuli serta perlakuan kasar lainnya..
"Karena sering dipukuli, kulit wajah saya sampai melepuh dan penuh luka bernanah," katanya. "Saya sempat ketakutan becermin karena ngeri melihat bayangan wajah sendiri."
Tak tahan dengan pengalaman pertamanya bekerja di luar negeri, Eny berkirim surat kepada seorang saudaranya. "Surat itu akhirnya sampai juga ke tangan saya, tapi kemudian sengaja saya sembunyikan karena kalau sampai ketahuan istri saya dia pasti akan shock," ujar Faizi (55), ayah Eny.
Cerita sedih lain dialami oleh Wahidah (17). Gadis yatim piatu asal Desa Panggungrejo, Kabupaten Malang, ini menuturkan hampir tiap hari jadi korban kekerasan majikannya di Jeddah, Arab Saudi.
"Terkadang majikan saya hanya memukul dengan tangan, tapi tak jarang memukul dengan kayu dan alat pengepel lantai. Terakhir kali dia bahkan mengancam akan menghajar saya dengan setrika," kata Wahidah.
Dalam satu tahun dua bulan, banyak hak anak keempat dari enam bersaudara ini sebagai pekerja di Saudi tak diindahkan. Wahidah tak pernah mendapat gaji 600 riyal per bulan yang dijanjikan walau sudah kerja keras dengan kesempatan tidur hanya sekitar dua jam setiap harinya.
Karena tak putus dirundung malang, Wahidah memutuskan kabur. Dituduh sebagai TKW ilegal karena tak memegang paspor dan KTP, Wahidah dipulangkan ke Indonesia oleh polisi yang ditemuinya. Kendati terpaksa menjual kalung emasnya untuk ongkos pulang ke Malang, Wahidah mengatakan cukup tenang bisa sampai di rumahnya.
Kapok bekerja di luar negeri? Tidak juga. "Kalau ada kesempatan, saya mungkin akan mencoba lagi. Siapa tahu nanti bisa mendapatkan majikan yang lebih baik," katanya. Sejak nenek dan kakeknya meninggal beberapa waktu lalu, Wahidah harus menghidupi dua adiknya yang masih kecil.
Desakan ekonomi memang faktor pemicu untuk bekerja apa saja, termasuk jadi TKW. Eny, misalnya, menyatakan bahwa bekerja di luar negeri atas saran seorang gurunya supaya dapat mengumpulkan uang untuk melanjutkan sekolah. "Saya ingin sekali menabung supaya bisa terus sekolah sampai perguruan tinggi. Eh, enggak tahunya bukan bawa uang banyak, malah dapat pengalaman buruk seperti ini," kata Eny.
CERITA sukses TKW kerap menebarkan aroma yang merangsang, walau menurut Moeslihin (27) dari Desa Panggungrejo, Kabupaten Malang, sukses itu tak jarang hanya di permukaan belaka.
"Dibandingkan dengan rumah petani yang rata-rata masih gubuk, rumah keluarga TKW jelas lebih bagus. Kebanyakan sudah punya sepeda motor lagi," kata ayah satu anak yang istri, kakak kandung, dan iparnya bekerja di Arab Saudi. "Tapi, ya cuma seperti itu. Kalaupun ada tetangga saya yang kaya raya, itu karena dia dapat suami orang luar sana yang kebetulan pengusaha."
Moeslihin menuturkan, tetangganya yang sukses di negeri orang ini sekarang sudah resmi berdomisili di Arab Saudi bersama sang suami. Konon, selain cerita tanah berhektar-hektar yang dibeli, ayah tetangganya ini bahkan sekarang sudah berhenti bertani dan tinggal ongkang-ongkang kaki menanti kiriman uang anaknya tiap bulan.
"Kabarnya, di rumahnya sendiri juga ada brankas khusus untuk menyimpan begitu banyak perhiasan dan uang," katanya.
Mungkin betul bahwa nasib orang hanya Tuhan yang tahu. Beberapa TKW berhasil mengentaskan diri dari kemiskinan. Tetangga Moeslihin berjaya, sementara dia yang telah mengutus istri dan sanaknya ke Saudi toh seperti tak tersentuh kata "mengentaskan" buatan pemerintah Soeharto itu.
"Jangankan mau mendapatkan uang banyak, selama lima bulan ini pun saya tidak tahu anak saya (kakaknya Moeslihin -Red) sekarang berada di mana," kata Piani (55), ibu Moeslihin. Sesaat matanya berkaca-kaca karena teringat pada Maliha (30), putri sulungnya. Maliha sudah tiga kali pergi-pulang, tapi setelah keberangkatannya yang terakhir tak ketahuan rimbanya. Terakhir ia pamit ke Madinah.
Akibat kejadian itu, Piani mengaku terus-menerus gelisah. Beberapa kali janda ini bercerita sempat bermimpi melihat anaknya jatuh ke jurang dan berteriak-teriak minta tolong. Piani mengatakan sebenarnya sejak semula pun dia tak pernah setuju anaknya berangkat kerja ke luar negeri. Jarak yang jauh, ungkap buruh tani tebu ini, tak urung memunculkan kekhawatiran khas seorang ibu.
"Saya sebenarnya hanya menginginkan dia punya suami, berkeluarga, punya anak, dan berumah tangga di desa. Namun, entah kenapa, niatnya yang begitu besar untuk pergi ke luar sangat sulit saya cegah," katanya.
Piani telah berupaya menanyakan ihwal putrinya kepada calo tenaga kerja yang dahulu merekrut Maliha, tapi yang bersangkutan tiba-tiba saja menghilang. "Solusi terakhir, kami mencoba minta bantuan kiai, tapi sampai sekarang belum berhasil," kata Moeslihin.
Siti Nur Jamilah (24), tetangga Moeslihin, mengisahkan adiknya yang bekerja di Arab Saudi belum juga mengirimkan gajinya ke Indonesia. Dalam kontak dengan telepon, adiknya mengatakan bahwa sang majikan selalu mengatakan tengah sibuk dan tak sempat transfer uang. Sementara itu sang adik tak mengerti bagaimana cara transfer uang. "Hingga kini belum sepeser pun dia kirim, padahal kami di sini masih menanggung utang Rp 2 juta kepada PT (perusahaan pengerah jasa tenaga kerja-Red) untuk keberangkatannya ke luar negeri kemarin," katanya.
Ketidaktahuan transfer uang, tak digaji, pukulan fisik majikan, sampai perkosaan adalah sebagian wajah tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri.
Hai Menteri Tenaga Kerja, hai Menteri Luar Negeri, hai Menteri Pendidikan, apa yang kalian lakukan dalam 100 hari pertama kalian di singgasana kementerian untuk mengatasi soal ini?(EGI)