Bentuk telepon cordless hampir sama dengan telepon yang biasa kita gunakan, bedanya handset dan base unit tidak dihubungkan oleh kabel spiral (yang bisa molor itu), tetapi oleh frekuensi radio. Karena itu, baik pada handset maupun base unit, terdapat antena yang berfungsi sebagai antena pemancar dan penerima.
Serupa dengan telepon kabel, base unit telepon cordless juga terhubung dengan saluran telepon PSTN (Public Switch Telepon Network) dari PT Telkom atau penyelenggara lainnya. Hanya saja, karena handset-nya tidak terhubung secara fisik oleh kabel spiral, maka saat menelepon kita tidak harus berada di dekat base unit (seperti pada telepon kabel).
Dengan handset yang terpisah dari base unit, kita dapat berbicara sambil bergerak bebas ke kamar mandi, dapur, atau sambil mengerjakan pekerjaan lain di dalam rumah. Bahkan, kita bisa berada beberapa meter di luar rumah. Untuk kondisi semacam ini, penggunaan telepon cordless lebih murah dibanding telepon seluler. Ini karena pulsa yang digunakan sama dengan pulsa telepon kabel pada umumnya.
Perjalanan telepon "cordless"
Telepon cordless pertama kali muncul tahun 1980-an. Pada waktu itu, frekuensi radio yang digunakan adalah 27 MHz. Dengan teknologi yang ada saat itu, telepon cordless mempunyai beberapa kekurangan. Di antaranya adalah terbatasnya jarak pancaran, kualitas suara yang tidak memadai (banyak mengandung noise), serta kerahasiaan percakapan yang tidak terjaga.
Jarak jangkau pancaran masih terbatas karena frekuensi yang digunakan cukup rendah. Dengan frekuensi 27 MHz, jumlah kanal yang dihasilkan juga sedikit, sehingga probabilitas terjadinya crosstalk (cakap silang) antara pengguna satu dengan lainnya menjadi lebih besar. Gambaran gampangnya, jika dalam satu RT terdapat 25 rumah kecil dan masing-masing rumah memiliki telepon cordless, maka dibutuhkan 25 kanal frekuensi yang berbeda. Jumlah kanal sebanyak itu, cukup signifikan untuk frekuensi 27 MHz. Kalau ada dua atau lebih rumah menggunakan frekuensi yang sama, mereka akan dapat saling mendengar, sehingga kerahasiaan percakapan tidak dapat dijaga. Belum lagi crosstalk dengan pengguna radio Citizen Band (CB) yang juga menggunakan frekuensi 27 MHz.
Selain itu, teknologi radio analog yang ada memang sulit mengupayakan kualitas suara yang bersih. Hal itu disebabkan oleh noise yang ditimbulkan oleh dinding-dinding dalam rumah, perabotan-perabotan, serta pelatan-peralatan elektronik rumah tangga, seperti kipas angin, AC, kulkas.
Tahun 1986, Federal Communication Commision (FCC) memberikan jatah frekuensi 47 MHz hingga 49 MHz (yang berkembang menjadi 43 hingga 50 MHz) untuk dipakai oleh telepon cordless. Tujuannya untuk mengatasi kekurangan-kekurangan di frekuensi 27 MHz. Namun, tidak banyak kemajuan yang dapat dicapai. Perbaikan kualitas suara belum signifikan. Kerahasiaan percakapan juga belum terjamin, karena jumlah kanal belum memadai. Selain itu, peralatan baby monitor juga menggunakan frekuensi yang sama, sehingga sangat terbuka kemungkinan bocornya pembicaraan telepon. Jatah frekuensi juga tidak mampu mengatasi penambahan pengguna cordless. Karena itu, di tahun 1990, FCC memberikan jatah frekuensi di 900 MHz.
Dengan frekuensi setinggi itu, kualitas suara yang dihasilkan menjadi lebih bersih. Selain itu, pilihan kanalnya menjadi lebih banyak, sehingga mengurangi probabilitas terjadinya crosstalk. Kelebihan lainnya adalah jarak jangkau yang meningkat. Kerahasiaan percakapan lebih meningkat, walaupun kemungkinan kebocoran percakapan masih cukup besar.
Tahun 1994, diperkenalkan teknologi telepon cordless digital yang juga bekerja pada frekuensi 900 MHz. Teknologi digital dapat menambah kerahasiaan percakapan karena informasi suara dikirim dalam bentuk sinyal digital. Satu tahun kemudian teknik Digital Spread Spectrum (DSS) diterapkan pada telepon cordless. Teknik ini menyebarkan informasi suara (yang telah diubah ke bentuk digital) ke beberapa frekuensi, sehingga dapat lebih menjaga kerahasiaan percakapan telepon. Hingga saat ini, teknologi DSS masih merupakan alternatif terbaik untuk menjaga kerahasiaan.
Tahun 1998, FCC memberikan jatah frekuensi 2,4 GHz. Penggunaan frekuensi ini menyebabkan jarak jangkau telepon cordless semakin jauh. Selain itu, kerahasiaan semakin terjaga, karena frekuensinya berada di luar jangkauan frekuensi radio scanner komersial. Radio scanner adalah penerima radio yang bekerja pada jangkauan frekuensi yang luas dan mampu menerima pancaran informasi dalam banyak bentuk modulasi. Peralatan inilah yang dahulu sempat membuat geger sebuah negara di Eropa, karena menyadap percakapan rahasia seorang putri kerajaan yang dilakukan melalui telepon seluler.
Selain frekuensi 2,4 GHz, saat ini frekuensi terbaru yang digunakan adalah 5,8 GHz. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan oleh telepon cordless, menyebabkan harga bertambah mahal, karena memerlukan komponen-komponen elektronik yang lebih presisi. Harga juga bertambah mahal jika teknologi yang digunakan semakin canggih. Begitu pula jika jumlah fitur-fiturnya lebih banyak. Contoh fitur yang cukup populer adalah pencantuman caller ID dan digital answering machine (yang tidak menggunakan kaset seperti tempo dulu).
Bagian-bagian telepon "cordless"
Pada umumnya telepon cordless terdiri atas dua bagian, yaitu handset dan base unit. Base unit dibagi atas bagian: phone line interface, pemancar dan penerima radio, power supply, battery charger, dan keypad (termasuk indikator LED (light emitting diode) atau LCD (liquid crystal display).
Phone line interface menghubungkan saluran telepon dengan pemancar dan penerima radio. Fungsinya adalah menerima informasi dari saluran telepon dan mengirimnya ke handset melalui pemancar radio. Bagian ini juga dapat menerima informasi dari handset (melalui penerima radio), kemudian mengirimnya ke saluran telepon. Informasi yang dikirim ke handset dapat berupa sinyal ringer atau percakapan. Sedang sinyal yang dikirim ke saluran telepon dapat berupa sinyal dial atau percakapan. Umumnya buzzer/ringer juga dipasang di bagian ini, selain yang di pasang pada handset.
Jika teknologinya sederhana, bagian pemancar dan penerima radio juga mengandung >kern 199m<>f 5002