Rubrik
Berita Utama
Finansial
Opini
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
International
Olahraga
Athena 2004
Humaniora
Jawa Barat
Politik & Hukum
Berita Yang lalu
Agroindustri
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Dana Kemanusiaan
Fokus
Pustakaloka
Furnitur
Musik
Muda
Swara
Makanan dan Minuman
Esai Foto
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Otomotif
Pendidikan Luar Negeri
Bahari
Investasi & Perbankan
Bentara
Teropong
Pendidikan Informal
Didaktika
Interior
Wisata
Jendela
Telekomunikasi
Tanah Air
Ekonomi Rakyat
Pergelaran
Teknologi Informasi
Sorotan
Pendidikan
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Kesehatan
Pendidikan Dalam Negeri
Ekonomi Internasional
Properti
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Muda
Jumat, 27 Agustus 2004

Telepon" Cordless", "Handphone" Paling Murah

Di rumah mungkin kita terbiasa menggunakan telepon cordless. Nantinya, handphone rumahan ini bakal menggantikan telepon kabel. Bisa selama telepon cordless-nya ditenteng terus, kita bisa terima telepon dari rumah tetangga.

Beberapa tahun ini, teknologi komunikasi nirkabel (wireless) semakin banyak aplikasinya. Pada komunikasi telepon, selain telepon seluler (yang menggunakan teknik CDMA, GSM, dan lain-lain), ada jenis lain yang disebut telepon cordless. Telepon ini sebenarnya sudah banyak digunakan dan dijual di pasaran, sebelum telepon seluler menjadi lebih murah seperti sekarang ini. Di Indonesia pun sudah banyak digunakan. Kalau kita amati, telepon ini juga cukup populer di hampir semua telenovela. Lihat saja beberapa telenovela di stasiun-stasiun TV.

Bentuk telepon cordless hampir sama dengan telepon yang biasa kita gunakan, bedanya handset dan base unit tidak dihubungkan oleh kabel spiral (yang bisa molor itu), tetapi oleh frekuensi radio. Karena itu, baik pada handset maupun base unit, terdapat antena yang berfungsi sebagai antena pemancar dan penerima.

Serupa dengan telepon kabel, base unit telepon cordless juga terhubung dengan saluran telepon PSTN (Public Switch Telepon Network) dari PT Telkom atau penyelenggara lainnya. Hanya saja, karena handset-nya tidak terhubung secara fisik oleh kabel spiral, maka saat menelepon kita tidak harus berada di dekat base unit (seperti pada telepon kabel).

Dengan handset yang terpisah dari base unit, kita dapat berbicara sambil bergerak bebas ke kamar mandi, dapur, atau sambil mengerjakan pekerjaan lain di dalam rumah. Bahkan, kita bisa berada beberapa meter di luar rumah. Untuk kondisi semacam ini, penggunaan telepon cordless lebih murah dibanding telepon seluler. Ini karena pulsa yang digunakan sama dengan pulsa telepon kabel pada umumnya.

Perjalanan telepon "cordless"

Telepon cordless pertama kali muncul tahun 1980-an. Pada waktu itu, frekuensi radio yang digunakan adalah 27 MHz. Dengan teknologi yang ada saat itu, telepon cordless mempunyai beberapa kekurangan. Di antaranya adalah terbatasnya jarak pancaran, kualitas suara yang tidak memadai (banyak mengandung noise), serta kerahasiaan percakapan yang tidak terjaga.

Jarak jangkau pancaran masih terbatas karena frekuensi yang digunakan cukup rendah. Dengan frekuensi 27 MHz, jumlah kanal yang dihasilkan juga sedikit, sehingga probabilitas terjadinya crosstalk (cakap silang) antara pengguna satu dengan lainnya menjadi lebih besar. Gambaran gampangnya, jika dalam satu RT terdapat 25 rumah kecil dan masing-masing rumah memiliki telepon cordless, maka dibutuhkan 25 kanal frekuensi yang berbeda. Jumlah kanal sebanyak itu, cukup signifikan untuk frekuensi 27 MHz. Kalau ada dua atau lebih rumah menggunakan frekuensi yang sama, mereka akan dapat saling mendengar, sehingga kerahasiaan percakapan tidak dapat dijaga. Belum lagi crosstalk dengan pengguna radio Citizen Band (CB) yang juga menggunakan frekuensi 27 MHz.

Selain itu, teknologi radio analog yang ada memang sulit mengupayakan kualitas suara yang bersih. Hal itu disebabkan oleh noise yang ditimbulkan oleh dinding-dinding dalam rumah, perabotan-perabotan, serta pelatan-peralatan elektronik rumah tangga, seperti kipas angin, AC, kulkas.

Tahun 1986, Federal Communication Commision (FCC) memberikan jatah frekuensi 47 MHz hingga 49 MHz (yang berkembang menjadi 43 hingga 50 MHz) untuk dipakai oleh telepon cordless. Tujuannya untuk mengatasi kekurangan-kekurangan di frekuensi 27 MHz. Namun, tidak banyak kemajuan yang dapat dicapai. Perbaikan kualitas suara belum signifikan. Kerahasiaan percakapan juga belum terjamin, karena jumlah kanal belum memadai. Selain itu, peralatan baby monitor juga menggunakan frekuensi yang sama, sehingga sangat terbuka kemungkinan bocornya pembicaraan telepon. Jatah frekuensi juga tidak mampu mengatasi penambahan pengguna cordless. Karena itu, di tahun 1990, FCC memberikan jatah frekuensi di 900 MHz.

Dengan frekuensi setinggi itu, kualitas suara yang dihasilkan menjadi lebih bersih. Selain itu, pilihan kanalnya menjadi lebih banyak, sehingga mengurangi probabilitas terjadinya crosstalk. Kelebihan lainnya adalah jarak jangkau yang meningkat. Kerahasiaan percakapan lebih meningkat, walaupun kemungkinan kebocoran percakapan masih cukup besar.

Tahun 1994, diperkenalkan teknologi telepon cordless digital yang juga bekerja pada frekuensi 900 MHz. Teknologi digital dapat menambah kerahasiaan percakapan karena informasi suara dikirim dalam bentuk sinyal digital. Satu tahun kemudian teknik Digital Spread Spectrum (DSS) diterapkan pada telepon cordless. Teknik ini menyebarkan informasi suara (yang telah diubah ke bentuk digital) ke beberapa frekuensi, sehingga dapat lebih menjaga kerahasiaan percakapan telepon. Hingga saat ini, teknologi DSS masih merupakan alternatif terbaik untuk menjaga kerahasiaan.

Tahun 1998, FCC memberikan jatah frekuensi 2,4 GHz. Penggunaan frekuensi ini menyebabkan jarak jangkau telepon cordless semakin jauh. Selain itu, kerahasiaan semakin terjaga, karena frekuensinya berada di luar jangkauan frekuensi radio scanner komersial. Radio scanner adalah penerima radio yang bekerja pada jangkauan frekuensi yang luas dan mampu menerima pancaran informasi dalam banyak bentuk modulasi. Peralatan inilah yang dahulu sempat membuat geger sebuah negara di Eropa, karena menyadap percakapan rahasia seorang putri kerajaan yang dilakukan melalui telepon seluler.

Selain frekuensi 2,4 GHz, saat ini frekuensi terbaru yang digunakan adalah 5,8 GHz. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan oleh telepon cordless, menyebabkan harga bertambah mahal, karena memerlukan komponen-komponen elektronik yang lebih presisi. Harga juga bertambah mahal jika teknologi yang digunakan semakin canggih. Begitu pula jika jumlah fitur-fiturnya lebih banyak. Contoh fitur yang cukup populer adalah pencantuman caller ID dan digital answering machine (yang tidak menggunakan kaset seperti tempo dulu).

Bagian-bagian telepon "cordless"

Pada umumnya telepon cordless terdiri atas dua bagian, yaitu handset dan base unit. Base unit dibagi atas bagian: phone line interface, pemancar dan penerima radio, power supply, battery charger, dan keypad (termasuk indikator LED (light emitting diode) atau LCD (liquid crystal display).

Phone line interface menghubungkan saluran telepon dengan pemancar dan penerima radio. Fungsinya adalah menerima informasi dari saluran telepon dan mengirimnya ke handset melalui pemancar radio. Bagian ini juga dapat menerima informasi dari handset (melalui penerima radio), kemudian mengirimnya ke saluran telepon. Informasi yang dikirim ke handset dapat berupa sinyal ringer atau percakapan. Sedang sinyal yang dikirim ke saluran telepon dapat berupa sinyal dial atau percakapan. Umumnya buzzer/ringer juga dipasang di bagian ini, selain yang di pasang pada handset.

Jika teknologinya sederhana, bagian pemancar dan penerima radio juga mengandung >kern 199m<>f 5002

Power supply berfungsi untuk mengubah suplai AC tegangan tinggi (110/220 V) yang diterimanya menjadi DC bertegangan rendah yang digunakan untuk menyuplai rangkaian. Selain itu, bagian ini juga berfungsi untuk menyuplai rangkaian battery charger yang biasanya aktif mengisi, jika handset diletakkan pada tempat yang tersedia di base unit.

Indikator hampir selalu ada di base unit semua merek telepon cordless. Paling tidak digunakan indikator yang berupa lampu LED. Untuk beberapa merek, jenis indikator yang digunakan adalah layar LCD. Keypad untuk melakukan dial atau mengontrol base unit tidak selalu ada di semua merek telepon.

Pada umumnya, perlengkapan di handset sama seperti telepon standar. Perlengkapan-perlengkapan standar itu adalah: mikrofon (microphone), speaker, keypad (dan indikator), ringer/buzzer. Perlengkapan lainnya adalah: pemancar dan penerima radio, serta baterai re-chargeable.

Mikrofon berfungsi untuk mengubah suara kita menjadi sinyal listrik. Speaker berfungsi untuk mengubah sinyal listrik menjadi suara. Keypad berfungsi untuk melakukan dialing. Sementara ringer/buzzer berfungsi sebagai indikator adanya panggilan.

Seperti halnya di base unit, pemancar radio berfungsi untuk mengirim informasi dari handset ke base unit, sedang penerima radio berfungsi sebaliknya. Audio amplifier juga masih digunakan pada bagian ini.

Untuk telepon cordless digital, bagian pemancar dan penerima radio mempunyai rangkaian yang lebih rumit. Tidak sekadar mempunyai audio amplifier, tetapi juga mempunyai tambahan rangkaian seperti: Analog to Digital Converter (ADC), Digital to Analog Converter (DAC), modulator dan demodulator digital. Akan lebih rumit lagi jika digunakan teknik DSS. Jadi, pantaslah kalau harganya semakin mahal.

Masa depan telepon "cordless"

Cepat atau lambat, telepon cordless tetap akan menjadi salah satu pilihan berkomunikasi wireless. Pasar jenis telepon ini masih terbuka lebar untuk aplikasi lain, selain keperluan rumah tangga. Pengembangan tidak hanya dilakukan untuk perbaikan jarak jangkau, kualitas suara dan kerahasiaan percakapan, tetapi juga pengembangan lain yang dapat dilakukan untuk meraih peluang di tengah maraknya persaingan telepon seluler.

Salah satu contoh pengembangannya adalah pemakaian beberapa handset untuk satu base unit. Sistem ini mirip dengan penggunaan PABX di kantor-kantor, di mana PABX terhubung dengan satu atau lebih saluran telepon PSTN, kemudian mempunyai banyak telepon ekstensi di dalam kantornya. Perbedaannya adalah tidak perlu lagi ada kabel-kabel yang menghubungkan tiap ruangan kantor dengan PABX di ruang operator, sehingga investasinya jauh lebih murah dibanding pemakaian PABX. Apalagi jika dibandingkan dengan pemakaian telepon seluler tiap orang di ruangan.

PRIHADI MURDIYAT Mahasiswa S2 Telekomunikasi Multimedia ITS Dosen Politeknik Negeri Samarinda

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

"Drag Race" Enggak Cuma Adu Kencang

·

Memahami Perkembangan Kita

·

Telepon" Cordless", "Handphone" Paling Murah

·

Senang-senang di Hari Senin

·

CURHAT



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS