Rupiah dan Teknikal Saham Lapis Kedua
Haslienda Rifman
DEPRESIASI nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat merupakan salah satu penyebab turunnya pasar saham Indonesia pada periode Mei–Juni. Kekhawatiran akan pemilu, perlambatan ekonomi China, dan naiknya harga minyak menjadi penyebab melemahnya rupiah dan menurunnya harga saham. Walaupun indeks saham setelah pemilu putaran pertama sudah cukup membaik, IHSG belum kembali kepada titik tertinggi yang pernah dicapai di kuartal pertama.
KALAU dilihat secara global, sebenarnya rupiah melemah tidak sendirian karena pada saat yang sama dollar AS cenderung menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Salah satu faktor menguatnya dollar AS adalah naiknya tingkat suku bunga bank sentral AS.
Menurut para ekonom internasional, hingga akhir tahun tingkat suku bunga bank sentral AS kemungkinan masih akan naik. Begitu pula dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga menyentuh level 45 dollar AS per barrel yang dikhawatirkan akan memperbesar defisit APBN. Kekhawatiran ini menambah tekanan terhadap kurs rupiah. Meskipun demikian, tentunya ada juga emiten yang diuntungkan dari penguatan dollar AS.
Saham tambang
Secara fundamental, perusahaan tambang sangat diuntungkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Itu mengingat sekitar 90 persen dari pendapatan kebanyakan perusahaan tambang dalam dollar AS. Di antara perusahaan pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta, PT Timah lebih diuntungkan daripada Bumi Resources, Aneka Tambang (Antam), dan Bukit Asam. Hampir seluruh beban biaya PT Timah dalam rupiah, sementara sekitar 60 persen beban Bumi Resources dan 30 persen beban Aneka Tambang adalah nonrupiah.
Begitu pula dari sisi utang, perkiraan tahun 2004 rasio utang bersih terhadap modal atau net gearing PT Timah paling rendah di industrinya. Net gearing PT Timah di posisi net cash, artinya utangnya lebih kecil daripada kas yang dimiliki.
Meski demikian, kinerja saham PT Timah tidak sebagus saham tambang lainnya. Dalam tiga bulan terakhir, kinerja saham PT Timah mencatat rugi paling tinggi di industrinya. Kondisi ini lebih disebabkan oleh tingkat likuiditas yang sangat rendah.
Pada tahun berjalan, rata-rata volume perdagangan harian PT Timah sebanyak 3,6 juta saham. Angka ini jauh lebih kecil daripada angka Bumi Resources (100,8 juta saham) dan Aneka Tambang (6,5 juta saham), sehingga perdagangan saham PT Timah tidak menarik untuk ditransaksikan. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat kecilnya jumlah saham yang dapat diperdagangkan oleh publik (free float shares).
Secara teknikal, harga saham PT Timah relatif murah. Stochastic yang merupakan indikator tinggi rendahnya harga saham sudah mendekati oversold atau jenuh jual. Gejala naik juga diperkuat indikator kecenderungan arah yang juga memberikan sinyal naik. Indikasi ini terlihat ketika MA14 akan memotong ke atas MA90 di harga Rp 2.000. Gejala ini mencerminkan bahwa pergerakan harga saham rata-rata 14 hari masih lebih baik ketimbang rata- rata 90 hari. Penggunaan indikator pergerakan harga rata- rata jangka panjang atau 90 hari sengaja dilakukan mengingat transaksi saham tidak terlalu likuid.
Secara keseluruhan pergerakan saham tambang cukup bagus. Indeks saham tambang yang diwakili Bumi Resources, Antam, Timah, Inco, dan Bukit Asam mencatat pertumbuhan positif dibandingkan dengan akhir April lalu. Level ini masih lebih baik ketimbang kinerja IHSG pada periode yang sama.
Saham perkebunan
Perusahaan perkebunan Astra Agro Lestari (AALI) juga diuntungkan depresiasi rupiah. Menurut analisis fundamental, lebih dari 50 persen penjualan Astra Agro Lestari diekspor, sementara beban biayanya dalam rupiah. Jika diasumsikan volume dan harga penjualan tetap, total pendapatan akan tumbuh dengan lemahnya nilai tukar rupiah. Begitu pula posisi utangnya, pada laporan keuangan semester pertama 2004 yang telah dipublikasikan, perusahaan mencatat net cash.
Secara teknikal, saham Astra Agro mencatat imbal hasil yang cukup bagus. Dibandingkan dengan awal tahun, harga saham Astra Agro mencatat pertumbuhan positif, naik 29 persen, sementara saham London Sumatra Plantation yang merupakan kompetitornya turun 13 persen. Kenaikan saham Astra Agro jauh lebih tinggi dari IHSG yang hanya naik sembilan persen.
Indikator analisis teknikal pergerakan saham Astra Agro memperlihatkan sinyal positif. Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang merupakan indikator kecenderungan arah menunjukkan sinyal naik. Gejala ini terlihat ketika garis MACD memotong ke atas garis sinyal di harga Rp 2.150. Pada harga Rp 2.200, seharusnya saham Astra Agro masih berpotensi naik. Meski demikian, volume transaksi terus menipis, kondisi ini semata-mata disebabkan sepinya pasar saham. Rata-rata nilai transaksi harian dalam satu bulan terakhir turun 49 persen dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian pada tahun berjalan.
Indikator Bollinger Band juga mendukung adanya sinyal naik, yang ditunjukkan pergerakan harga saham yang masih di wilayah batas bawah. Bollinger Band merupakan indikator yang menggambarkan batas atas dan batas bawah pergerakan saham. Potensi naik akan lebih besar bila saham masih bergerak di batas bawah. Andaikan terjadi penembusan batas bawah, biasanya tidak jauh. Dari pergerakan historis terlihat akan terjadi sebaliknya kalau saham sudah bergerak di batas atas.
Saham semen
Berbeda dengan kedua industri sebelumnya, Indocement justru terpukul dengan adanya depresiasi rupiah dikarenakan utang perusahaan yang cukup besar dalam denominasi dollar AS. Kekhawatiran ini telah terefleksi dengan pergerakan harga saham Indocement yang cenderung terus turun. Sinyal turun digambarkan oleh MACD yang memotong ke bawah di harga Rp 1.650. Meskipun Indikator Relative Strength Index (RSI) masih di posisi netral, penurunan dikhawatirkan masih akan berlanjut mengingat rupiah masih melemah.
Sejak rupiah menembus level Rp 9.000 per dollar AS, pada pergerakan historikal terlihat bahwa harga saham Indocement terus terpuruk dari Rp 1.900 ke Rp 1.550. Penurunan harga saham sebenarnya sudah cukup tajam, tetapi dikhawatirkan masih akan turun. Apalagi harga saham Indocement sempat melonjak naik dari Rp 1.400 ke Rp 1.900 ketika rupiah menguat dari Rp 9.400 ke Rp 8.800.
Indeks saham semen yang diwakili Semen Gresik, Indocement, dan Semen Cibinong masih turun 18 persen selama tahun berjalan. Dibandingkan indeks saham tambang, saham perkebunan Astra Agro dan IHSG, terlihat bahwa indeks saham semen masih berkinerja rendah (under performed).
Haslienda Rifman Analis Teknikal Bahana Securities
Disclaimer: Tulisan ini bukanlah promosi untuk membeli atau menjual saham atau obligasi, tetapi hanya edukasi kepada publik.