Rubrik
Berita Utama
Finansial
International
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
Opini
Olahraga
Politik & Hukum
Jawa Barat
Humaniora
Berita Yang lalu
Furnitur
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Dana Kemanusiaan
Fokus
Otomotif
Agroindustri
Musik
Muda
Swara
Makanan dan Minuman
Esai Foto
Perbankan
Pustakaloka
Pendidikan Dalam Negeri
Properti
Interior
Kesehatan
Ekonomi Rakyat
Pengiriman & Transportasi
Teropong
Ekonomi Internasional
Jendela
Sorotan
Pendidikan Informal
Telekomunikasi
Teknologi Informasi
Didaktika
Bentara
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Wisata
Pergelaran
Investasi & Perbankan
Bingkai
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Teropong
Jumat, 23 Juli 2004

Teluk Lampung, Potensi dan Ancaman

SAAT Matahari bersinar terang, dari halaman belakang Pendopo Gubernur Lampung tampak dengan indah bentangan Teluk Lampung yang berada tepat di depan Kota Bandar Lampung. Dari jauh tampak samar-samar pulau-pulau kecil yang tersebar di kawasan teluk tersebut.

TELUK Lampung merupakan teluk terbesar di Pulau Sumatera dengan luas hampir mencapai 3.000 kilometer persegi. Di perairan dalam, tersimpan berbagai potensi kelautan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu, keindahan kawasan pesisir pulau-pulau di Teluk Lampung pun menawarkan keelokan yang tentu mampu mendatangkan devisa.

Tak kalah menariknya adalah sajian indahnya terumbu karang di berbagai titik gosong laut yang berada di kawasan itu. Nilai ekonomis Teluk Lampung dapat dilihat dari hasil tangkapan para nelayan pada tahun 2003 yang mencapai 151.246,9 ton dengan nilai produksi mencapai Rp 831 miliar lebih.

Jumlah itu sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 150.849,7 ton dengan nilai produksi Rp 798 miliar lebih. "Namun, tidak semua ikan yang mendarat di Lampasing dan Ujong Bom berasal dari Teluk Lampung," tutur Suroto, Kepala Tata Usaha Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung.

Penangkapan ikan di Teluk Lampung dikelola oleh lebih dari 2.500 rumah tangga nelayan yang tinggal di Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan dengan rata-rata pendapatan Rp 5.306.000 pada tahun 2003.

Jumlah pendapatan itu, dalam catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung, mengalami peningkatan hingga Rp 200.000 lebih jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5.087.225.

Peningkatan pendapatan tertinggi diperoleh oleh para nelayan dan pengusaha budidaya kerapu. Pada tahun 2002 tercatat pendapatan mereka rata-rata mencapai Rp 14,9 juta per tahun. Pada tahun 2003 jumlah itu meningkat menjadi Rp 20,03 juta per tahun per kepala. Tentu saja hal itu tidak lepas dari keberhasilan budidaya keramba kerapu yang berpusat di kawasan Pulau Tanjung Putus, Lampung Selatan.

BUDIDAYA kerapu merupakan salah satu potensi utama dari budidaya laut di kawasan Teluk Lampung. Budidaya itu dikelola oleh nelayan dan pengusaha. Keramba yang digunakan kebanyakan ditempatkan di kawasan Tanjung Putus, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Lampung Selatan.

Pada tahun 2002 tercatat terdapat kurang lebih 170 unit keramba kerapu yang dikelola oleh 172 rumah tangga nelayan dan pengusaha. Total produksi saat ini mencapai lebih dari 135,8 ton.

Dalam catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, produksi itu diperoleh dari penanaman 122.000 ekor benih kerapu bebek dan 198.000 ekor benih kerapu macan.

Dari budidaya kerapu di kawasan Tanjung Putus, pada tahun 2002 dihasilkan 33 ton kerapu bebek dengan total nilai produksi mencapai Rp 8,5 miliar. Selain itu dihasilkan juga sekitar 63,9 ton kerapu macan dengan nilai produksi yang juga fantastis yaitu Rp 5,5 miliar.

Budidaya kerapu di kawasan Tanjung Putus memang sangat potensial karena komoditas tersebut merupakan salah satu mata ekspor yang sangat digemari pasar Hongkong dan Taiwan. Pada tahun itu pula diekspor sekitar 13,6 ton kerapu berbagai jenis dengan total nilai ekspor mencapai 209.870 dollar Amerika (AS).

Pada tahun 2003, volume ekspor kerapu naik hingga 26,5 ton. Akan tetapi, nilai ekspor komoditas tersebut turun hingga 117.000 dollar AS. Meskipun demikian, minat pada budidaya kerapu di kawasan Tanjung Putus dan sekitarnya tetap marak. Bahkan pada tahun 2003 tercatat jumlah unit keramba kerapu meningkat menjadi 437 unit. Unit-unit itu dikelola oleh 223 rumah tangga dan perusahaan.

Benih kerapu bebek yang ditebar pada tahun 2003 mencapai 253.000 ekor dan pada tahun itu juga ditebar 259.000 ekor benih kerapu macan. Setelah mengalami proses pengembangbiakan, dihasilkan sekitar 67 ton kerapu bebek serta 87,3 ton kerapu macan.

Nilai produksi kerapu bebek mencapai Rp 16,9 miliar dan kerapu macan mencatatkan keberhasilan nilai produksi hingga Rp 5,8 miliar. Tingginya harga kedua komoditas tersebut merupakan efek dari mahalnya harga kerapu bebek dan kerapu macan di pasaran dunia.

Saat ini, untuk tiap kilogram kerapu bebek dengan ukuran standar dua ekor untuk tiap kilogramnya, harga di pasaran dunia mencapai 35 dollar AS lebih. Namun, harga kerapu macan jauh lebih rendah, yaitu 10 dollar AS per kilogram.

Karena harga kerapu hasil budidaya tergolong mahal, nyaris semua produksi budidaya kerapu tersebut diserap pasar internasional. Hingga Mei 2004 ini, telah dikirimkan 20 ton kerapu hidup dengan total nilai ekspor mencapai 86.000 dollar AS. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2003, volume ekspor kerapu hidup mengalami peningkatan hingga 13 ton.

Hingga bulan Mei tahun 2002 volume ekspor kerapu hidup hanya mencapai tujuh ton saja dengan nilai ekspor mencapai 32.000 dollar AS.

Namun, selain dua jenis kerapu tersebut, di kawasan Tanjung Putus juga dikembangkan kerapu sunu, kerapu kertang, serta napoleon.

"Semua jenis ikan tersebut merupakan jenis-jenis ikan yang memiliki nilai tinggi di pasar ekspor," tutur seorang pembudidaya kerapu.

Namun, untuk saat ini, jenis kerapu bebek serta kerapu macan masih menjadi primadona karena survival rate (SR) kedua jenis itu tergolong tinggi dibandingkan dengan jenis kerapu sunu dan kertang yang masih dalam tahap pengembangan.

Balai budidaya laut (BBL) yang berada di Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan, juga terus mengembangkan jenis-jenis ikan tersebut. Bahkan, saat ini BBL telah mampu memproduksi bibit kerapu bebek dan kerapu macan dengan SR tinggi.

Pengembangan budidaya kerapu dalam keramba tersebut memang berawal dari kerja sama yang dibangun antara BBL dan Bedu, seorang nelayan di kawasan Tanjung Putus. Proyek percobaan dan percontohan itu diawali pada tahun 1999. Saat itu yang dikembangkan adalah kerapu macan.

Setelah dikelola selama satu tahun, ternyata prospek budidaya itu berkembang hingga saat ini. "Namun, ada efeknya. Perkembangan unit keramba yang semakin banyak di satu tempat dapat berdampak buruk pada kelestarian kawasan serta usaha itu sendiri," tutur Philipus Hartono, Kepala Unit Kesehatan Lingkungan BBL.

SELAIN eloknya hasil budidaya dan jumlah tangkapan serta tingginya nilai produksi dan ekspor berbagai hasil laut, Teluk Lampung ternyata menyimpan berbagai persoalan yang krusial dan mendesak untuk ditangani. Berbagai ancaman yang mengintai kelestarian kawasan itu berasal dari proses polusi lingkungan, baik yang berasal dari limbah perkotaan, industri, kerusakan alam, serta tindakan-tindakan destruktif terhadap kehidupan dan habitat bawah laut.

Menurut data yang diungkap oleh Proyek Pesisir, sebuah proyek kerja sama antara Institut Pertanian Bogor dan Pemerintah Provinsi Lampung, mengutip data Dinas Kebersihan Kota Bandar Lampung, hingga tahun 2000 tercatat jumlah sampah di Kota Bandar Lampung sudah mencapai 1,8 juta meter kubik. Angka pertumbuhannya mencapai 56.130 meter kubik dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal, pada tahun 1997 sampah di Kota Bandar Lampung hanya mencapai 549.057 meter kubik. Dapat dibayangkan berapa volume sampah pada tahun 2004.

Makin besarnya volume sampah perkotaan yang terus meningkat ternyata berdampak pada kebersihan kawasan perairan Teluk Lampung. Hampir di sepanjang pesisir pantai Kota Bandar Lampung, tumpukan sampah telah memenuhi bibir pantai.

"Bahkan pada penyelaman hingga 10 meter pun, air masih keruh dan banyak sampah plastik. Di kawasan Pesisir Tarahan hingga ke kawasan Pulau Tegal, sampah plastik dan sampah rumah tangga mengendap di dasar laut," tutur Widodo, instruktur selam pada Klub Selam Anemon, Universitas Lampung.

Selain itu, memburuknya kondisi perairan, berdampak pula pada kelestarian kehidupan di kawasan perairan tersebut. Para nelayan saat ini mengeluh sulit memperoleh ikan. Para nelayan pun harus bersusah payah melaut hingga ke kawasan Samudra Indonesia atau kawasan Pulau Legundi yang berada di pintu gerbang Teluk Lampung.(B Josie Susilo Hardianto)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Sekarang Tak Ada Lagi Musim Teri dan Panen Raya Benur Windu

·

Nelayan Kecil Kian Tersisih

·

Teluk Lampung, Potensi dan Ancaman

·

Melihat Ikan Merumput di Pulau Tegal



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS