Rubrik
Berita Utama
International
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
Finansial
Opini
Olahraga
Politik & Hukum
Jawa Barat
Humaniora
Berita Yang lalu
Jendela
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Teknologi Informasi
Dana Kemanusiaan
Makanan dan Minuman
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Fokus
Esai Foto
Properti
Ekonomi Internasional
Swara
Wisata
Telekomunikasi
Interior
Ekonomi Rakyat
Sorotan
Teropong
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Bahari
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Bentara
Pergelaran
Didaktika
Kesehatan
Pendidikan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Otonomi
Rabu, 05 Mei 2004

Kabupaten Barito Timur

JANGAN lekas putus asa kalau merasa kesepian di sini. Menyusuri jalan tanah, dari Desa Didi hingga Haringen, Kecamatan Dusun Timur, misalnya, menghadirkan keindahan tersendiri. Sepanjang kanan kiri jalan penuh dengan hutan pohon karet, sesekali diselingi gereja, rumah penduduk khas dayak maanyan, dan ladang di tanah berbukit. Tak jarang di antara pepohonan karet tersembul pohon cempedak berbuah matang dan bunga-bungaan.

SEHARI-hari Barito Timur sebetulnya cukup ramai karena merupakan daerah perlintasan arus barang dan penumpang antara Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Truk, bus, dan colt dengan rute Muara Teweh (Barito Utara)- Banjarmasin (Kalsel) hingga Palangkaraya (Kalteng) pasti melewati ibu kota kabupaten ini, Tamiang Layang. Dikarenakan hanya dilewati, keramaian-terutama di pasar dan terminal-pun hanya berlangsung pagi hingga sore. Suasana sepi pun cepat menyergap setelah pukul enam sore.

Dari Muara Teweh, angkutan ke sini hanya berupa bus-bus ukuran sedang. Lama perjalanan sekitar lima jam dengan kondisi jalan berbukit-bukit dan variasi antara aspal mulus dan lubang-lubang besar. Kalau terus ke Banjarmasin, waktunya hampir sama, tetapi kondisi jalan relatif lebih rata dan beraspal baik. Kabupaten ini juga bisa dicapai lewat Sungai Barito, yaitu lewat Mengkatip dan Buntok-keduanya di Barito Selatan-namun kebanyakan yang paling ramai adalah angkutan darat.

Urat nadi kabupaten ini adalah pertanian. Dari total penduduk usia 15 tahun yang bekerja (50.190 orang), 32.122 orang bekerja di sektor pertanian berbasis perkebunan. Dilihat dari lahan, hutan memang kekayaan daerah ini. Separuh dari luas keseluruhan daerah adalah hutan, terutama hutan produksi tetap (HPT), dan kawasan yang dapat dikonversi. Dalam perputaran ekonomi, sumbangan kegiatan hutan mencapai 15,13 persen, sedangkan perkebunan menyumbang 22,9 persen dari total sumbangan pertanian terhadap seluruh kegiatan ekonomi kabupaten.

Bicara hasil kayu, itu cerita lama. Sebelum pemekaran dari Kabupaten Barito Selatan (Juli 2002), boleh dibilang kayu sudah digarap habis. Hak pengusahaan hutan (HPH) pun tak ada lagi. Kini hasil yang ada hanyalah kontribusi dari daerah lain dan hasil hutan bukan kayu. Kontribusi itu berupa retribusi hasil hutan yang melewati Barito Timur (Rp 20 juta per bulan), dan kontribusi provisi sumber daya hutan (PSDH) dari kabupaten penghasil di Kalteng senilai Rp 2,8 miliar (2003). Hasil bukan kayu antara lain hayuput (gaharu), dan aneka rotan (manau, semambu, taman, dan irit). Hingga April 2004, rotan semambu mencapai 68.125 potong, sedangkan rotan taman 330 ton, dan rotan irit 144,5 ton. PSDH untuk hasil ini sampai April 2004 mencapai Rp 5,2 juta.

Sekarang kondisi pepohonan rata-rata kecil, yaitu setiap hektar 12,5 pohon per 3,14 meter kubik, dan tersebar sekitar 33,5 persen dari total luas (hutan). Padahal, standar idealnya minimal 25 pohon per 40 meter kubik. Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat bekerja keras untuk mengembalikan kondisi itu, baik melalui inventarisasi potensi, penyuluhan, reboisasi, maupun penghijauan.

Dengan luas lahan potensial 192.068 hektar dan baru tergarap sekitar 18 persen, perkebunan merupakan andalan daerah ini. Komoditas primadona adalah karet, lainnya kelapa, kopi, lada, cengkeh, kelapa sawit, dan kakao. Daerah utama penghasil tanaman bergetah ini adalah Kecamatan Dusun Tengah dan Petangkep Tutui. Total produksi tahun 2003 mencapai 37.034 ton dari lahan 60.768 hektar. Tahun ini dinas perkebunan setempat menargetkan luas lahan 61.118 hektar dengan produksi 47.016 ton.

Sebagian besar karet berasal dari perkebunan masyarakat setempat, sedangkan milik perusahaan hanya dua dengan luas 3.000 hektar dan baru berproduksi sekitar 600 hektar. Di tingkat provinsi, Barito Timur termasuk lima besar penghasil karet bersama Barito Utara dan Selatan, Gunung Mas, dan tertinggi Kabupaten Kapuas- 50.332,28 ton (2003) dan 60.398 ton (estimasi 2004).

Walaupun andalan, karet lekat dengan sejumlah masalah, seperti pengolahan, harga, dan bibit. Sebagian besar pabrik pengolah masih berada di Kalsel (Banjarmasin), sedangkan yang terdekat hanyalah Buntok (Barito Selatan). Harga yang diterima petani, dalam kondisi bersih maupun kotor, berkisar Rp 2.800-Rp 3.200, sedangkan di pabrik mencapai Rp 4.250 per kilogram. Sementara itu, sumber benih unggul yang diperlukan hingga kini masih bergantung pada daerah lain, terutama Rantau, Kabupaten Tapin (Kalsel). Belum maksimalnya hasil karet ini juga terkait dengan budaya petik yang masih dipertahankan masyarakat.

Walau tak seunggul karet, padi rupanya juga bisa diandalkan. "Induk beras" ini rupanya tumbuh subur pada lahan sawah maupun kering. Luas lahan sawah yang potensial mencapai 15.000 hektar dan baru digarap 57 persen. Untuk lahan kering, dari 16.700 hektar (potensial), lahan sawah yang diupayakan sekitar 23 persen.

Seperti karet, padi jenis lokal ternyata amat diminati para pedagang dari Kalsel. Adalah biasa jika setiap kali panen para petani menjual gabah kepada para pedagang dari luar kabupaten. Pangsa pasarnya pun lebih dikenal di Kalsel dibandingkan dengan pasar lokal. Di samping itu, padi jenis lokal sudah jarang ditanam di provinsi tetangga itu. Ironisnya, tak jarang terjadi praktik beras oplosan, misalnya IR 64 dicampur dengan siam kerdil! Itu sebabnya ada anggapan bahwa apa yang tidak ada di Kalsel tinggal diambil dari Barito Timur.

Upaya untuk menjalankan ekonomi yang lebih mandiri jelas bukan hal yang mudah bagi pemerintah setempat. Sebagai daerah baru, Pemerintah Kabupaten Barito Timur masih sibuk berbenah, terutama dalam pembangunan sarana perkantoran, termasuk dinas-dinas. Tak sedikit dinas yang sampai sekarang menjalankan kegiatannya di rumah-rumah kontrakan sambil menunggu tersedianya lahan. Dari APBD tahun 2003 sebesar Rp 114,8 miliar, pengeluaran rutin memakan 37,36 persen, sedangkan belanja pembangunan sebagian besar dibelanjakan untuk sektor aparatur negara dan pengawasan sebesar 21 persen.

Krishna P Panolih/Litbang Kompas

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Kabupaten Barito Timur

·

Membangun Berlandaskan Adat Budaya



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS