Rubrik
Berita Utama
International
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
Finansial
Opini
Olahraga
Jawa Barat
Humaniora
Politik & Hukum
Berita Yang lalu
Jendela
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Teknologi Informasi
Dana Kemanusiaan
Makanan dan Minuman
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Fokus
Esai Foto
Sorotan
Swara
Ekonomi Internasional
Didaktika
Wisata
Properti
Telekomunikasi
Interior
Teropong
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Bahari
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Bentara
Kesehatan
Pergelaran
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Otonomi
Selasa, 20 April 2004

Kabupaten Seluma

PROVINSI Bengkulu di awal tahun 2003 memiliki tiga kabupaten baru. Salah satunya adalah Kabupaten Seluma yang berpisah dari induknya, Kabupaten Bengkulu Selatan. Wilayah Bengkulu yang luas dan persebaran penduduk kurang merata adalah salah satu alasan pemekaran. Percepatan dan pemerataan pembangunan menjadi tujuan kebijakan yang dikeluarkan tanggal 25 Februari 2003 tersebut.

SEJAK masih "dalam asuhan" kabupaten induk, Seluma adalah wilayah yang berpotensi di sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Kabupaten yang wilayahnya lebih luas daripada kabupaten induk ataupun kembarannya itu juga memiliki areal sawah paling luas. Total 42.000 hektar dengan 30 persen bisa ditanami padi dua kali atau lebih setahun dan lahan yang tidak diusahakan 13 persen. Sisanya ditanami padi sekali setahun. Selain padi, Seluma dikenal sebagai sentra palawija, khususnya jagung. Areal penanaman terluas di Kecamatan Sukaraja.

Kopi, kelapa sawit, dan karet merupakan produk perkebunan unggulan wilayah bekas Keresidenan Seluma ini. Produksi tiga komoditas tanaman perkebunan tersebut paling tinggi daripada dua wilayah lain yang dulu menjadi bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan, yaitu Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Potensi ini cukup menjanjikan dilihat dari tingkat produksi setiap tahun.

Total luas perkebunan kopi rakyat di Seluma 27.000 hektar. Kecamatan yang paling banyak memiliki areal kopi adalah Talo, 58 persen dari total luas lahan kopi di Seluma. Disusul Kecamatan Seluma dan Sukaraja, masing-masing 5.396 hektar dan 4.842 hektar. Potensi kopi yang cukup tinggi itu menjadikan Kabupaten Seluma sebagai salah satu sentra tanaman kopi di Provinsi Bengkulu.

Selain kopi, lahan di kabupaten dengan lima kecamatan ini juga banyak ditanami tanaman keras lain, seperti karet. Dengan luas sekitar 21.000 hektar yang mayoritas lahannya di Kecamatan Sukaraja, Seluma, dan Talo, karet menjadi potensi yang menjanjikan. Pasar distribusi karet mentah Seluma adalah Lampung dan Medan. Semua hasil bumi non-olahan di Seluma disalurkan ke daerah konsumen melalui Pelabuhan Pulau Baai di Kota Bengkulu. Kabupaten ini sedang mengusahakan pelabuhan yang mampu disinggahi tongkang sehingga kelak tak perlu lagi lewat pelabuhan di Kota Bengkulu.

Setelah kopi dan karet, Seluma sejak dulu potensial pada tanaman kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di wilayah ini dimiliki rakyat, negara, maupun swasta. Perusahaan yang mengolah kelapa sawit menjadi minyak di Seluma ada dua, dan salah satunya milik negara. Tanaman kelapa sawit banyak diusahakan di Kecamatan Seluma, Sukaraja, dan Kalo. Perkebunan karet dan kelapa sawit di Seluma diharapkan terus bertahan dan menjadi andalan selain kopi, yang meskipun berpotensi tinggi, namun harganya fluktuatif, membuat banyak petani kopi beralih ke tanaman perkebunan lain.

Di samping perkebunan, kabupaten ini menyimpan potensi lain. Tanah Seluma selain subur ditanami komoditas perkebunan, juga mengandung bahan tambang, seperti batubara, batu kapur, dan pasir besi. Khusus batu bara, jenis bahan tambang ini diusahakan sebelum Seluma menjadi daerah otonom. Hasilnya berupa bahan mentah telah didistribusikan hingga Lampung dan Medan. Lokasi penambangan batu bara di Kecamatan Seluma didukung oleh tiga perusahaan penambangan di kecamatan yang sama.

Dalam pengusahaan komoditas batu bara, bukannya tak ditemukan kendala. Yang paling terasa adalah jalur pengangkutan ke pelabuhan yang membutuhkan banyak tahapan, tidak terintegrasi di satu tempat alias membutuhkan beberapa kali transit. Batu bara yang telah dieksploitasi dari tambang dibawa ke lokasi penumpukan sebelum ke proses pencucian. Setelah terkumpul, emas hitam itu diangkut ke pos pencucian. Pascapencucian, barulah batubara bersih siap dibawa ke pelabuhan untuk didistribusikan. Beberapa tahapan hingga batu bara siap didistribusikan ini tak menjadi masalah jika dilokasikan di satu tempat. Padahal transportasi yang harus ditempuh dari tambang di perbukitan hingga ke pelabuhan merupakan jalur yang cukup sulit karena kondisi alam yang berbukit-bukit dan penuh tikungan tajam, sementara jarak yang harus ditempuh lebih kurang 45 kilometer.

Hal itu belum ditambah kondisi jalan yang kebanyakan belum diaspal. Kondisi infrastruktur yang serba terbatas bisa menjadi faktor yang menyebabkan daerah ini sulit menjaring modal pengusaha. Padahal Seluma sedang berupaya menggaet investor sebanyak-banyaknya karena selain batubara, masih ada kandungan bahan tambang lain, seperti pasir besi dan batu kapur. Bahkan ada wacana dari sebuah perusahaan nasional untuk membuka pabrik semen karena salah satu wilayah Seluma kaya akan kandungan batu kapur.

Jika kondisi jalan yang kurang mulus bisa menjadi salah satu momok dalam mengundang pengusaha, jaringan listrik adalah masalah terbesar yang dihadapi penduduk Kabupaten Seluma secara keseluruhan. Bisa dikatakan, tiap malam di Seluma adalah hari tanpa cahaya. Hampir setiap kali matahari terbenam, terbenam pula listrik di kabupaten ini. Jam padam listrik tak tentu, tetapi bisa dipastikan hampir tiap malam. Setahun belakangan, keadaan itu diperparah tidak berfungsinya mesin generator diesel pembangkit listrik yang disediakan PLN. Mesin itu diganti dengan alat pembangkit listrik tenaga air yang tak akan berfungsi saat musim kemarau tiba. Dampaknya adalah hal yang biasa setiap hari di Seluma jika di tengah makan malam listrik padam. Tahun 2002, total rumah tangga di Seluma lebih dari 36.000, dengan pelanggan listrik hampir 15.000.

Meski cukup banyak potensi yang ditawarkan Kabupaten Seluma, adanya beberapa kendala menjadikan pemerintahan yang baru berjalan lebih kurang setahun ini punya pekerjaan rumah cukup banyak. Yang utama adalah pembangunan infrastruktur yang belum tersedia dan pemeliharaan yang sudah ada. Untuk program pembangunan daerah mendatang, Pemerintah Kabupaten Seluma berniat menggalakkan sektor industri dan pariwisata. Khusus industri adalah industri pengolahan karena wilayah ini punya banyak komoditas potensial. Sementara pariwisata hendak digenjot karena Kabupaten Seluma memiliki cukup banyak lokasi menarik, seperti pantai dan air terjun, yang selama ini belum digarap menjadi obyek pariwisata.

Palupi P Astuti Litbang Kompas

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Kabupaten Seluma

·

Mendulang Pasir Besi dari Pantai



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS