Kabupaten Bangka Selatan
TUGU berbentuk buah nanas besar di persimpangan Toboali menjadi sebuah pengingat bahwa ibu kota Bangka Selatan pernah berjaya sebagai penghasil nanas di Pulau Bangka tahun 1980-an. Kini, meski populasi buah kuning tersebut menurun, nilai tambah produk nanas tetap diusahakan meningkat dengan mencari investor luar negeri untuk pengolahan nanas.
LADA membuat petani melupakan nanas. Keuntungan yang menggiurkan, terutama di saat krisis moneter, menyebabkan petani terfokus pada lada putih. Fluktuasi harga akibat pasar nanas terbatas juga menyebabkan petani beralih ke tanaman yang lebih menguntungkan.
Harga lada putih yang tinggi sejalan dengan keuntungan yang membesar memang menarik minat petani. Sekitar 17.000 petani setiap hari merawat jenis lada yang laku di pasaran Eropa ini. Tahun 2003 produksi lada Bangka Selatan tercatat 12.800 ton dari lahan 18.600 hektar. Dengan angka tersebut, kabupaten baru ini memanen lada paling banyak dibanding induk dan dua kembarannya: Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Barat. Dari lima kecamatan yang ditanami lada, Kecamatan Payung dan Air Gegas menjadi kontributor paling besar produksi lada.
Saat krisis moneter, harga biji dari yang merambat melingkari junjung atau tonggak kayu ini bisa mencapai Rp 80.000 per kilogram. Namun, harga lada terus menyusut. Pada awal April 2004, harga jual per kilogram di tingkat petani berkisar Rp 15.000-Rp 20.000 per kilogram.
Warga pun berkonsentrasi ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, yakni karet. Tanaman yang banyak ditemukan di kebun-kebun rakyat ini disadap dan dimasak menjadi kotak-kotak tebal berwana putih. Hasil sadapan ini biasanya diangkut dengan truk ke Kota Pangkal Pinang untuk diolah menjadi bentuk lembaran dan kemudian diekspor ke mancanegara, antara lain Jepang. Tahun lalu tak kurang 1.900 ton balok sadapan karet diproduksi dari areal 4.500 hektar.
Kelapa sawit, yang belum sepopuler lada dan karet, akan dikembangkan di masa datang. Menurut data tahun 2003, tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan hanya ada di Kecamatan Simpang Rimba, 20 hektar, yang memproduksi 15 ton tandan buah segar. Di samping itu ada dua hektar di kecamatan tersebut dan dua hektar di Kecamatan Payung yang belum menghasilkan sawit.
Perkebunan adalah detak jantung perekonomian kabupaten di bagian selatan Pulau Bangka ini. Menurut Sensus Penduduk 2000, sekitar 75 persen penduduk mengais rezeki dari perkebunan. Hampir 30 persen kegiatan ekonomi kabupaten berasal dari aktivitas ini.
Setelah perkebunan, perdagangan menjadi penyumbang kedua terbesar kegiatan ekonomi dengan partisipasi 10,39 persen. Sumbangan itu dihasilkan dari transaksi hasil perkebunan seperti butiran lada dan sadapan karet, juga dari biji timah. Di daerah selatan Pulau Bangka ini terdapat dua perusahaan yang berwenang atas penambangan timah: PT Timah yang sebagian besar sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia dan PT Koba Tin yang didanai oleh investor luar negeri. Total areal di bawah kewenangan kedua perusahaan ini 41.600 hektar.
Di dalam areal pertambangan yang dikuasai kedua perusahaan tambang ini terdapat sekitar 1.770 tambang tak resmi yang dilakukan masyarakat. Tambang yang biasanya dikerjakan oleh empat hingga lima orang per tambang ini biasa disebut dengan singkatan TI alias tambang inkonvensional. Jumlah biji timah yang diproduksi TI bervariasi setiap hari. Kadang bisa 50 kilogram atau lebih, kadang hanya 20 kilogram. Biji ini kemudian dijual dengan harga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram kepada PT Timah ataupun PT Koba Tin. Oleh kedua perusahaan ini biji timah dikirim ke luar daerah untuk dilebur. Peleburan PT Timah berada di Kabupaten Bangka Barat, sedangkan Kabupaten Bangka Tengah menjadi tempat peleburan timah PT Koba Tin.
Kehadiran TI ini nantinya akan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) menarik retribusi dari pengusaha TI melalui PT Timah dan PT Koba Tin, tempat mereka menjual biji timah. Uang retribusi ini berbeda dengan bagi hasil kedua perusahaan yang disalurkan melalui pemerintah pusat, selanjutnya diturunkan ke Pemkab Bangka Selatan.
Karena pertambangan memiliki dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan, sektor primer ini tak menjadi prioritas dalam pembangunan Bangka Selatan di masa depan. Yang menjadi sektor unggulan ke depan diharapkan sektor-sektor yang tak merusak lingkungan. Budidaya tanaman salah satunya. Selain tanaman perkebunan seperti lada, karet, dan sawit, saat ini sedang dikembangkan tanaman jagung. Bekerja sama dengan pemodal dari Korea, lahan 140 hektar yang tersebar di Kecamatan Toboali, Payung, dan Air Gegas akan menjadi lokasi pembudidayaan. Tujuan yang hendak dicapai usaha ini adalah mencetak bibit unggul jagung untuk pasar domestik.
Penanaman kacang tanah sedang diusahakan. Peluang memasok kacang tanah ke perusahaan kacang skala besar coba ditangkap dengan lahan yang ditanami 10.000 hektar di Kecamatan Payung, Air Gegas, dan Simpang Rimba.
Sektor perikanan juga menjadi prioritas pembangunan pemkab. Lautan yang membatasi wilayah bagian barat, selatan, dan timur menyimpan kekayaan luar biasa yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan. Diperkirakan terdapat potensi lestari 8.488 ton per tahun yang dapat dimanfaatkan oleh para nelayan di pesisir pantai. Pada tahun 2003 produksi tangkap kabupaten hampir 9.000 ton.
Komoditas unggulan perikanan yang dihargai tinggi adalah ikan kerapu. Ikan ini coba dikembangbiakkan di Pulau Tinggi, Kecamatan Lepar Pongok. Sepanjang tahun 2003 ditangkap 200 ton ikan kerapu yang diekspor ke Singapura.
Komoditas lain adalah ikan bawal putih dan rumput laut. Sayangnya, produksi rumput laut masih minim. Akhir tahun 2003 dihasilkan 40 ton rumput laut kering yang diusahakan di laut di antara pulau-pulau kecil di Kecamatan Lepar Pongok. Rumput laut kering ini kemudian dibawa ke Jakarta untuk dijadikan tepung yang kemudian akan menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik.
Peluang perikanan tangkap terbuka lebar terutama Kecamatan Lepar Pongok di bagian tenggara. Di kecamatan ini terdapat 24 pulau yang 75 persennya dihuni.
Ratna Sri Widyastuti Litbang Kompas