Rubrik
Berita Utama
Finansial
International
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
Opini
Olahraga
Pemilihan Umum 2004
Politik & Hukum
Humaniora
Jawa Barat
Berita Yang lalu
Pustakaloka
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Teknologi Informasi
Fokus
Jendela
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Dana Kemanusiaan
Esai Foto
Swara
Sorotan
Pergelaran
Ekonomi Internasional
Wisata
Properti
Telekomunikasi
Teropong
Interior
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Didaktika
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Bentara
Kesehatan
Makanan dan Minuman
Bahari
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Teknologi Informasi
Senin, 15 Maret 2004

Menuju Persaingan Seluler Generasi Ke-3

IBARAT mengambil secangkir teh manis, para penyelenggara layanan seluler lama (pemain lama), seperti Telkomsel, Excelcom, dan Indosat dengan Satelindo dan IM3-nya, telah mencapai suatu kondisi di mana perubahan revolusioner sudah mulai susah dilakukan. Secangkir teh manis akan susah untuk diubah menjadi secangkir kopi manis, atau menjadi secangkir kopi pahit.

Akan sulit bagi pemain lama mencoba melakukan perubahan radikal (business process re-engineering/BPR). Berbagai literatur BPR sudah banyak membuktikan bahwa kemungkinan sukses itu kecil dan akan semakin kecil kalau organisasi yang akan melaksanakan BPR sudah cukup mapan dari segi kultur budaya kerjanya.

Di lain pihak, penyelenggara layanan seluler baru (pemain baru) akan semakin banyak berdatangan ke pasaran seluler Indonesia. Pemain baru ini memiliki keunggulan dari segi teknologi yang mereka usung, keunggulan dari segi fleksibilitas untuk menerapkan konsep- konsep terkini dalam menjalankan Network Operation Management, New Product Development, dan Sales & Distribution Management.

Usaha menerapkan konsep- konsep terkini dalam hal Network Operation Management, Product Development, dan Sales & Distribution Management akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi para pemain lama. Akan memusingkan bagi pemain lama untuk mengubah konsep distribusi produk mereka. Begitu pula dengan usaha untuk mengubah cara mengembangkan produk dan cara pendistribusiannya.

Jadi, sekarang apa yang harus dilakukan oleh para pemain lama dalam menyongsong generasi ke-3 seluler Indonesia? Apakah mereka cukup berdiam diri, memelihara keunggulan mereka sebagai existing pemain utama yang lebih dulu ada? Atau mereka harus melakukan hal-hal lain di luar itu?

DARI sisi para konsumen seluler, tentu tidak ingin para pemain lama ini terlena dengan kesuksesan mereka hingga hari ini. Terlena dengan segala kesuksesan layanan dasar yang mereka miliki dan lupa untuk mencoba mengerti bahwa konsumen memiliki apresiasi atas kebutuhan seluler yang berkembang. Mungkin masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu kita harus merelakan kantong kita terisi dua telepon seluler (ponsel), satu ponsel dengan kartu utama kita dan satu lagi berisi kartu IM3, hanya karena ketidakmampuan Telkomsel, Satelindo, dan Excelcom memberikan layanan GPRS ke kita pada saat itu.

Pada saat transisi teknologi seluler sekarang ini dari generasi kedua ke generasi ketiga, yang didukung dengan mulai meningkatnya ekspektasi kebutuhan konsumen ke tingkat yang lebih tinggi, akan sangat berbahaya bagi para pemain lama untuk tetap berdiam diri dan terlena dengan segala keunggulannya sekarang ini.

Metode yang menarik dicermati untuk pemain lama menuju ke generasi ke-3 adalah pemisahan bisnis antara penyedia jaringan dan penyedia jasa dalam bisnis seluler.

Sebagai contoh, pada setiap penyelenggara seluler yang sudah ada sekarang ini kita bisa melihat adanya dua grup besar yang menentukan jalannya bisnis, yaitu grup Network Provider (penyedia jaringan) yang terdiri dari unit network planning, network design, network build, dan network operation. Di sisi lain ada grup Service Provider (penyedia layanan ke konsumen) yang biasanya terdiri dari unit marketing planning, unit product development, unit product management, unit sales, dan unit distribution.

Kedua grup ini sering kali tidak berjalan dengan efisien kalau diletakkan dalam satu perusahaan. Kita lihat kasus GPRS sebagai contoh. Pada saat teknologi GPRS tersedia, grup Network Provider pasti akan semangat untuk mengimplementasi teknologi tersebut.

Akan tetapi, apa daya grup Network Provider kalau ternyata Service Provider tidak tertarik atau tidak berani menjualnya. Hanya satu yang bisa dilakukan Network Provider, yaitu berdiam diri dan menunggu sampai ada tanda dari Service Provider menggunakan teknologi baru GPRS tersebut.

Jika Network Provider itu satu unit usaha (perusahaan) sendiri, cerita akan menjadi lain. Grup Network Provider akan jelas tujuannya, yaitu keep up with technology untuk menghantar jaringan yang coverage-nya baik, kapasitasnya cukup, dan kaya fiturnya. Network Provider akan berani mengimplementasikan GPRS yang baru karena bisa memastikan fitur ini akan ada yang mengolah menjadi produk yang disukai dan dibeli konsumen.

Kalau mitra Service Provider sekarang tidak berani menjual layanan GPRS, Network Provider dapat mencari Service Provider lain untuk layanan GPRS ini. Di sini Network Provider sudah tidak eksklusif menjadi mitra satu Service Provider seperti yang terjadi pada pemain lama sekarang ini.

Satu hal perlu disimak dengan teknologi GPRS ini, kalau sampai pada waktu itu para pemain lama besikukuh untuk tidak bermain dengan GPRS dan hanya menunggu generasi ketiga datang, para pemain lama besar kemungkinan akan menghadapi nasib yang sama dengan Mobisel dan Komselindo (dengan teknologi seluler generasi pertamanya) pada saat teknologi GSM (teknologi seluler generasi ke-2) datang. Kedua pemain lama ini sekarang jarang terdengar lagi kiprahnya di dunia seluler Indonesia.

Dengan pemisahan menjadi dua perusahaan independen, tujuan Network Provider menjadi jelas, yaitu menyediakan coverage yang luas dengan kapasitas yang lebih dari cukup serta fitur-fitur yang kaya ke konsumennya, yaitu Service Provider. Yang terpenting, Network Provider ini punya tugas suci untuk memastikan teknologi yang sekarang sedang digunakan tidak menjadi usang.

Tujuan Service Provider menjadi jelas, mengeluarkan produk jasa/layanan yang benar-benar dibutuhkan oleh end- consumer (pengguna layanan selular) seprima mungkin, semenarik mungkin, dan semudah mungkin didapatkan. Kalau satu tugas suci juga harus diemban oleh Service Provider, adalah memastikan apa pun teknologi baru yang dikeluarkan Network Provider, selalu ada produk menguntungkan baru yang bisa dijual ke konsumen.

KONSEP ini sendiri sebenarnya secara bisnis sudah mulai terdengar dan cukup menggema sebelum kemudian senyap lagi di Indonesia di sekitar empat tahun lalu. Kenapa waktu itu sempat menggema dan kemudian menghilang, itu lebih karena pendekatan pembahasannya pada saat itu lebih ke masalah regulasi.

Sekarang, dari sisi strategis manajemen teknologi informasi, konsep pemisahan Network Provider dan Service Provider ini menjadi kembali teraktualisasi. Dengan ini, pemain lama mendapatkan wahana yang bisa mereka gunakan untuk menghadapi pemain baru yang lebih nimble (mampu menyesuaikan diri). Karena itu, mereka akan lebih siap menghadapi generasi ketiga dunia seluler.

Dengan dipecahnya grup usaha pemain lama menjadi Network Provider dan Service provider, pemain lama akan mempunyai kemampuan mengubah secangkir teh manis menjadi secangkir kopi pahit seperti dibahas di atas. Pemain lama akan menjadi mampu berjalan berdampingan dengan pemain baru yang mengimplementasikan tiga tiang utama new frontier (new concept of Network Operational Model, new concept of New Product Development, dan new concept of Sales and Distribution) menuju masa depan dunia seluler Indonesia yang lebih indah.

Dengan kesiapan pemain lama dan pemain baru ini menyongsong masa depan dunia seluler di Indonesia, bisa kita prediksi, masa depan dunia seluler Indonesia akan jadi menguntungkan bagi penyelenggara jasa seluler (baik lama maupun baru) dan juga bagi konsumen ataupun pelanggannya sendiri.

Dev Yusmananda Pernah Bekerja di McKinsey & Company di Amsterdam dan Sekarang Bekerja di Salah Satu Operator GSM di Jakarta

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Bersolek pada Ponsel Multimedia

·

Teknologi Pesan

·

Ringkas Berkemampuan Faks Warna

·

Menuju Persaingan Seluler Generasi Ke-3

·

Rekayasa Sosial Pembuat Virus



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS