Kabupaten Pakpak Bharat
DIANDAIKAN sebuah keluarga, Pakpak Bharat adalah cucu pertama Tapanuli Utara. Kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini lahir dari anak pertama Tapanuli Utara, yaitu Kabupaten Dairi. Setengah abad lebih Dairi tidak mempunyai "anak".
Sebenarnya Pakpak bukan wilayah baru. Wilayah yang mengambil tiga kecamatan dari Dairi ini mengambil nama sub- etnis suku Batak Pakpak. Sebelum Belanda masuk ke Dairi, suku yang penduduknya tersebar di Kabupaten Dairi, Aceh Selatan, dan Pakpak Bharat ini sudah mempunyai struktur pemerintahan tersendiri.
Raja Ekuten atau Takal Aur bertindak sebagai pemimpin satu suak. Suku Pakpak terdiri atas lima suak, yaitu suak simsim, keppas, pegagan, boang, dan kelasen. Di bawah suak terdapat kuta (kampung) yang dipimpin oleh pertaki. Di setiap kuta ada sulang silima, sebagai pembantu pertaki yang terdiri dari perisang-isang, perekur-ekur, pertulan tengah, perpunca ndiadep, dan perbetekken. Meski struktur pemerintahan ini sudah tidak dipakai lagi, tetap dipertahankan sebagai sumber hukum adat budaya Pakpak.
Hampir 90 persen penduduk di wilayah Pakpak beretnis Pakpak. Berbeda dengan kabupaten induknya yang dihuni bermacam-macam suku, seperti Jawa, Batak Toba, Mandailing, Nias, Karo, Melayu, Angkola, dan Pakpak. Agaknya, hal inilah yang menjadi pendorong wilayah Pakpak untuk memekarkan diri. Selain alasan utamanya adalah untuk mengoptimalkan penggarapan potensi, percepatan pembangunan fisik, dan pertumbuhan ekonomi wilayah.
Sebelum memekarkan diri, Pakpak merupakan wilayah yang terisolasi dari Dairi atau wilayah-wilayah lain. Padahal, Pakpak berbatasan langsung dengan Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, dan Aceh Singkil. Bahkan ada anggapan, jalur transportasi Sidikalang-Salak merupakan jalan buntu. Anggapan ini muncul karena jalur transportasi Salak-Parlilitan (wilayah Humbang Hasundutan) kondisi jalannya buruk, belum seluruhnya tersentuh aspal hotmix.
Aksesibilitas di Kecamatan Salak juga sangat terbatas, hanya bisa dijangkau dari Kecamatan Kerajaan. Untungnya, hanya Kecamatan Salak yang aksesnya sulit. Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe mempunyai akses langsung ke kota Subussalam (Aceh Singkil). Pecahan kecamatan Salak ini dilewati jalan provinsi Sidikalang-Subussalam.
Wilayah Pakpak berada di kaki pegunungan Bukit Barisan, dengan ketinggian 700 meter-1.250 meter di atas permukaan laut dan hampir 80 persen lebih berada pada topografi terjal dan curam. Kondisi inilah yang membuat tanaman pangan sulit untuk berkembang. Tanaman pangan seperti padi dan palawija membutuhkan lahan yang lebih datar dan sistem pengairan yang khusus. Tidak mengherankan jika tulang punggung perekonomian Pakpak bukan tanaman pangan, melainkan perkebunan. Pada tahun 2002, perkebunan memberi kontribusi Rp 52 miliar, terbesar di kegiatan ekonomi pertanian.
Gambir, salah satu unggulan perkebunan, merupakan potensi emas Kabupaten Dairi. Hampir seluruh areal perkebunan gambir menjadi milik Pakpak. Bahkan kabupaten induk hanya diberi 30 persen luas areal perkebunan. Selain itu, di Pulau Sumatera hanya terdapat tiga daerah yang produksi gambirnya besar, yaitu Kabupaten Lima Puluh Koto, Pakpak Bharat, dan Dairi. Ini merupakan kesempatan bagi Pakpak untuk mengembangkan perkebunan gambir. Sayangnya, seluruh perkebunan gambir merupakan perkebunan rakyat. Belum ada investor yang mencoba mengelola potensi ini.
Perkebunan gambir ada di semua kecamatan, tetapi luas areal terbesar berada di Kecamatan Kerajaan. Produksi tanaman yang termasuk dalam keluarga rubiaceae (kopi) pada tahun 2003 mencapai 1.470 ton, melebihi produksi Dairi. Produksinya tetap tidak bisa melebihi produksi gambir Kabupaten Lima Puluh Koto yang tahun 2000 mencapai 9.071 ton.
Meskipun begitu, tanaman bahan baku industri obat-obatan, cat, batik, dan penyamakan kulit ini ikut menjadi komoditas ekspor nasional. Bersama dengan gambir Lima Puluh Koto, tanaman yang mengandung zat samak dan sari gambir ini diperdagangkan ke India. Terjadi kendala dalam proses pemasaran di dalam negeri sebelum menjadi komoditas ekspor. Belum ada rantai distribusi yang jelas dari petani sampai industri berbahan baku gambir. Sementara ini, hasil panenan hanya ditampung oleh pedagang perantara saja yang nantinya akan memperdagangkan gambir keluar wilayah Pakpak.
Kendala lain, keterbatasan alat pengolah gambir. Di seluruh wilayah Pakpak hanya terdapat dua alat pengolah gambir, di Kecamatan Kerajaan dan Sitellu Tali Urang Jehe. Alat ini digunakan untuk mengeluarkan getah gambir dari daun dan mengendapkan getah gambir tersebut.
Unggulan perkebunan lainnya adalah kemenyan. Sejak wilayah Pakpak masih bergabung dengan Dairi, sentra perkebunan kemenyan memang berada di Kecamatan Kerajaan dan Salak. Otomatis tanaman yang berbau khas ini langsung menjadi komoditas unggulan. Pada tahun 2003, luas arealnya 1.352 hektar dengan produksi 811 ton. Sama dengan gambir, kendalanya adalah masalah pemasaran hasil yang belum jelas.
Sudah tujuh bulan Pakpak Bharat menjadi kabupaten otonom. Prasarana jalan yang selama ini menjadikan wilayah Pakpak terisolasi mulai diperbaiki. Pemkab sudah mulai membangun jalan tembus dari Salak sampai ke Dolok Sanggul lewat Kecamatan Parlilitan (Humbang Hasundutan), sehingga hasil pertanian tidak hanya diperdagangkan ke Sidikalang. Namun, masih ada kendala lain yang sampai sekarang belum terpecahkan, yaitu telekomunikasi. Sampai saat ini jaringan telekomunikasi hanya menjangkau Kecamatan Salak. Itu pun kapasitasnya terbatas.
M Puteri Rosalina/Litbang Kompas