Rubrik
Berita Utama
International
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
Finansial
Opini
Olahraga
Jawa Tengah
Politik & Hukum
Humaniora
Pemilihan Umum 2004
Berita Yang lalu
Jendela
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Teknologi Informasi
Dana Kemanusiaan
Properti
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Fokus
Makanan dan Minuman
Didaktika
Ekonomi Rakyat
Swara
Kesehatan
Sorotan
Ekonomi Internasional
Teropong
Esai Foto
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan
Pergelaran
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Bentara
Telekomunikasi
Wisata
Bahari
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Otonomi
Kamis, 26 Februari 2004

Kabupaten Kepulauan Sula

BELUM banyak yang bisa diceritakan dari sebuah wilayah yang belum lama menjadi daerah otonom seperti Kabupaten Kepulauan Sula. Tanggal 25 Februari kemarin usianya genap satu tahun. Sebelumnya Sula adalah bagian dari Kabupaten Maluku Utara di mana pada tanggal yang sama setahun lalu terpecah menjadi Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Sementara kabupaten induk berubah nama menjadi Kabupaten Halmahera Barat.

SIBUK berbenah membangun pemerintahan yang baru, setidaknya dapat terlihat dari kegiatan pembangunan gedung perkantoran di sentra pemerintahan yang baru. Saat ini yang secara fisik sudah terlihat berdiri dan siap dipakai adalah gedung kantor bupati. Sementara pembangunan kantor lainnya masih dilaksanakan para pegawai instansi lain seperti dinas-dinas yang belum tersedia tempat kerjanya, mereka menempati gedung sementara yang statusnya kontrak.

Setelah setahun berdiri, wilayah yang terdiri atas enam kecamatan ini masih pada tahap pembenahan infrastruktur, khususnya di pemerintahan. Karena bagi pegawai, keberadaan lokasi kerja yang segera permanen tentu lebih disukai daripada harus berpindah-pindah tempat. Apalagi ada hambatan komunikasi. Di beberapa kantor instansi, belum ada sambungan telepon reguler. Padahal koneksi untuk telepon seluler juga belum ada. Di sini telepon seluler (ponsel) hanya jadi pajangan yang tak berfungsi. Untuk memperoleh sinyal, pemilik ponsel harus pergi ke wilayah Ambon dan sekitarnya agar bisa menggunakan teleponnya.

Keterbatasan yang dimiliki kabupaten yang wilayahnya terdiri atas tiga pulau besar ditambah pulau-pulau kecil di sekelilingnya ini tak hanya seputar gedung pemerintahan atau telekomunikasi. Untuk masalah transportasi misalnya, meski tersedia pesawat jenis Cassa milik maskapai penerbangan Merpati yang lepas landas dari Ternate ke Bacan sebelum sampai di Bandara Sanana, jadwalnya hanya satu kali seminggu. Dengan penumpang maksimal hanya 16 orang, tentu tidak banyak yang bisa menikmati angkutan cepat ini.

Selain pesawat kecil, angkutan penumpang antarpulau juga dilayani dua kapal yang hanya singgah dua kali seminggu ke Sanana, ibu kota kabupaten. Kapal yang melayani rute Manado-Ternate-Sanana ini melayari wilayah Maluku dari posnya di Kota Manado setiap hari Selasa dan Jumat pulang pergi. Kapal lainnya yang singgah di Pelabuhan Sanana adalah kapal barang atau hasil bumi yang datangnya tidak tentu.

Seperti umumnya wilayah Kepulauan Maluku, Sula pun merupakan daerah agraris, khususnya perkebunan. Dari tanah Sula dihasilkan kelapa, cengkeh, pala, dan kakao selain produk tanaman pangan seperti padi ladang, ubi kayu, dan ubi jalar yang produksinya tergolong besar. Kecamatan Sanana dan Taliabu Timur adalah penghasil utama kelapa yang produk akhirnya berupa kopra, juga didistribusikan ke daerah sekitar Kepulauan Maluku seperti Ternate, Ambon, hingga Pulau Jawa yakni Surabaya. Produksi kelapa di Sanana 12.889 ton pada tahun 2002, dan di Taliabu Timur 11.112 ton. Sementara komoditas perkebunan lain seperti cengkeh, pala, dan kakao banyak ditanam di Kecamatan Sanana dan Taliabu Barat.

Selain hasil bumi dari daratan, Sula masih menyimpan potensi lain dari laut maupun yang masih terpendam di dalam Bumi. Seperti wilayah lain yang termasuk Kepulauan Maluku, Sula juga dicirikan dengan potensi hasil lautnya. Sekitar 15 persen produksi perikanan Provinsi Maluku Utara tahun 2002 berasal dari kecamatan-kecamatan di Sula. Kecuali Kecamatan Sulabesi Barat yang produksinya anjlok pada tahun itu menjadi 975 ton, seperti tahun- tahun sebelumnya, hasil perikanan di lima kecamatan lain mencatat angka di atas 1.000 ton.

Mata pencarian penduduk yang utama selain berkebun adalah mencari ikan. Dengan luas lautan kurang lebih 14.500 kilometer persegi atau 60 persen dari total wilayah dan secara geografis mengelilingi wilayah- wilayah daratannya, bisa dikatakan menjadi nelayan di Kepulauan Sula adalah pilihan yang cukup mudah. Apalagi dengan teknologi sederhana yang masih mendominasi, yaitu penggunaan perahu tanpa motor. Jumlah pemakaian perahu jenis ini angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemanfaatan motor tempel ataupun kapal motor. Jika kapal motor yang dipakai tak lebih dari 25 buah di tiap kecamatan, atau motor tempel dipakai paling tinggi 50 buah, maka perahu tanpa motor yang dipakai berkisar 200-400 buah di masing-masing kecamatan.

Keterbatasan, kesederhanaan, memang masih melingkupi Kabupaten Kepulauan Sula. Jika keterbatasan mungkin dapat segera diakhiri seiring dengan berjalannya pembangunan, maka kesederhanaan membutuhkan tak hanya waktu, tapi juga kemauan untuk maju. Salah satu aspek kesederhanaan yang dimaksud adalah teknologi.

Masih rendahnya tingkat teknologi yang digunakan di Sula seperti telah disebutkan adalah teknologi penangkapan ikan. Padahal potensi ini begitu menjanjikan. Kepulauan Maluku sejak dulu adalah surga bagi para pencari ikan. Lautnya yang masih asri dan kekayaan yang tersimpan di dalamnya masih melimpah ruah.

Jika hasilnya bisa meningkatkan pendapatan nelayan tentu sayang jika pemanfaatannya tidak maksimal. Dan yang paling berat dalam peningkatan teknologi adalah modal yang cukup besar. Padahal, selain baru setahun berstatus otonom, Sula selama ini bukanlah sebuah wilayah yang memiliki kekuatan besar dalam keuangan. Belum ada investor yang menjamah salah satu kabupaten di bagian timur Indonesia ini. Maka, investasi mungkin menjadi salah satu yang paling ditunggu di Sula.

Palupi P.Astuti/Litbang Kompas

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Kabupaten Kepulauan Sula

·

Mendambakan Investasi Pemerintah



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS