Kabupaten Teluk Bintuni
SEPERTI cendawan tumbuh di musim hujan. Nama kabupaten, kota, bahkan provinsi baru bermunculan. Inilah konsekuensi otonomi daerah yang efektif sejak awal tahun 2001. Salah satu nama baru yang muncul adalah Kabupaten Teluk Bintuni.
KABUPATEN Teluk Bintuni terletak di bagian leher "kepala burung". Ia menghadap ke Laut Seram di lepas pantai barat Provinsi Irian Jaya Barat. Sebelum April 2003, wilayah ini merupakan bagian Kabupaten Manokwari.
Secara administratif, pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni terdiri atas 10 distrik dan 96 kampung. Penyebutan distrik untuk daerah setingkat kecamatan dan kampung untuk tingkat desa sesuai nomenklatur pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2002 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Lebih separuh kawasan kabupaten ini merupakan dataran rendah. Sisanya 40 persen daerah dengan kemiringan 40- 60 persen hingga pegunungan.
Sebagian besar jalan penghubung antar-distrik berupa jalan tanah. Demikian juga jalan yang menghubungkan Bintuni, ibu kota kabupaten, dengan Manokwari. Jalan sepanjang 315 kilometer itu yang beraspal sekitar 25 persen. Dengan kondisi jalan ditambah 44 sungai yang harus dilewati-12 di antaranya sungai besar seperti Muturi, Sebyar, dan Tembuni- kendaraan yang bisa melintas yang memiliki penggerak empat roda. Waktu tempuh antara kedua kota itu sekitar 10 jam. Bila hari hujan, menjadi 15-16 jam.
Jika ingin menghemat waktu, transportasi udara menjadi pilihan. Kabupaten ini memiliki tiga lapangan terbang perintis di Distrik Bintuni, Merdey, dan Babo. Di Bintuni dan Merdey, panjang landasan pacu 600 meter dan hanya mampu didarati pesawat Twin Otter berkapasitas 21 penumpang. Sedangkan panjang landasan pacu di Merdey 800 meter dapat didarati pesawat jenis Fokker 100. Melalui udara, waktu tempuh lebih singkat. Antara Manokwari- Bintuni sekitar 45 menit. Antara Manokwari-Babo, dan Manokwari-Merdey, masing-masing sekitar 50 menit.
Pilihan lain adalah transportasi laut. Pelabuhan laut terdapat di Bintuni, Babo, dan Arandai. Pelabuhan dengan rata-rata kapasitas 1.500 dead weight ton (DWT) ini berkonstruksi beton dan kayu ukuran 8 x 70 meter dan kedalaman 10,5 meter. Pelabuhan tersebut umumnya menghubungkan jalur selatan, yakni Sorong-Arandai- Babo-Bintuni. Hanya pelabuhan di Babo dan Bintuni yang layak disinggahi kapal.
Jumlah penduduk Teluk Bintuni sekitar 38.000 jiwa dengan tujuh suku asli. Mereka adalah suku Wamesa, Kuri, Irarutu, Sebiyar, Sumuri, Sowgh, dan Moskona. Suku Kuri, Sumuri, Sowgh, dan Moskona umumnya sebagai petani ladang, sedangkan yang tinggal di pesisir, seperti suku Wamena, Irarutu, dan Sebiyar, sebagai nelayan.
Perekonomian Teluk Bintuni bertumpu pada bidang pertanian, khususnya kehutanan. Daeah ini memiliki hutan 1,1 juta hektar terdiri 37,4 persen hutan produksi, 30,4 persen hutan produksi konversi, 11,2 persen hutan produksi terbatas, 15,2 persen kawasan konservasi, serta 5,8 persen hutan lindung.
Dari hutan produksi, diperoleh kayu bernilai ekonomis. Yang dominan antara lain merbau, matoa, nyatoh, pulai, mersawa, resak, medang, dan bintangur. Oleh perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan, produksi kayu bulat diekspor ke Jepang, Malaysia, dan Korea. Kayu-kayu itu dikirim melalui log pond di seluruh distrik di pesisir teluk. Dalam lima tahun terakhir, volume ekspor kayu bulat rata-rata 49.302 kubik, sedangkan ekspor moulding dan chips masing-masing 4.568 kubik dan 88.230 meter kubik.
Hutan Teluk Bintuni juga menghasilkan sagu. Bagi masyarakat suku Sebiyar, sagu sebagai makanan pokok. Selain untuk konsumsi, pengusaha perkayuan memanfaatkan sagu untuk perekat kayu lapis. Saban tahun hutan Teluk Bintuni menghasilkan rata-rata 1.974 ton sagu. Selain kayu bulat dan sagu, juga dihasilkan gaharu, rotan, minyak lawang, dan masoi. Masoi adalah kulit kayu sebagai bahan wangi-wangian.
Hutan Teluk Bintuni menjadi tempat hidup berbagai hewan. Sedikitnya teramati 39 jenis burung.
Bagian selatan Teluk Bintuni merupakan sumber daya lahan potensial untuk pengembangan komoditas perkebunan. Di kawasan ini, kemiringan lahan 0-25 persen dengan curah hujan rata-rata 2.500 mm per tahun. Luas lahan yang tersedia dan siap digarap 250.000 hektar.
Di Desa Aroba antara Distrik Babo dan Iraruti, terdapat lahan kelapa sawit. Perkebunan swasta ini menempati lahan 8.500 hektar atau 3,4 persen dari luas lahan yang tersedia.
Komoditas kebun lain seperti kopi dan kakao, tumbuh baik di hampir seluruh distrik, kecuali Babo dan Arandai. Pada saat panen, pedagang pengumpul datang ke Teluk Bintuni. Mereka membeli kopi atau kakao kemudian dijual ke pasar di Manokwari dan Fakfak. Harga kakao Rp 8.000-Rp 9.000 per kilogram, kopi sekitar Rp 3.000 per kilogram. Usaha perkebunan menyerap 15-20 persen dari seluruh tenaga kerja.
Perut bumi Teluk Bintuni terbilang kaya akan bahan tambang dan galian. Hampir seluruh kawasan mengandung gas alam cair (LNG). Cadangan yang dimiliki diperkirakan 23,7 triliun kaki kubik (TCF). Kandungan minyak bumi di kabupaten ini diperkirakan 45 juta ton. Sentra pemanfaatan LNG di Kampung Tanah Merah, Distrik Babo, sedangkan konsentrasi pengambilan minyak bumi di Distrik Muskona Selatan.
Teluk Bintuni juga memiliki cadangan batu bara dengan kandungan 14,3 juta ton di Distrik Bintuni, Tembuni, Babo, dan Arandai. Hasil tambang lain adalah mika, bahan pembuatan kaca. Volume yang dikandung 150 juta metrik ton.
Potensi sumber daya alam Teluk Bintuni tidak hanya di daratan. Perairan kabupaten merupakan sumber daya ikan dan udang dengan kepadatan 1.059 ton per kilometer persegi dan 0,041 ton per kilometer persegi. Jenis yang banyak dimanfaatkan adalah udang galah. Ketika masih bergabung dengan Manokwari, produksi udang 300 ton per bulan, namun sejak pemekaran produksinya tidak lebih dari 150 ton per bulan.
Dengan potensi yang dimiliki ditunjang letak geografis yang strategis, Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung.
BE Julianery/Litbang Kompas