Humanisasi Globalisasi
Oleh Aloys Budi Purnomo
MISTERI globalisasi kembali marak memancing diskusi. Paling tidak, menarik mengikuti gagasan B Herry-Priyono (Kompas, 20/1/2004) dan tanggapan tajam-mendasar Pitoyo Adhi (Kompas, 27/1/2004). Secara tepat, Pitoyo Adhi menempatkan Herry-Priyono sebagai cendekia di garda depan dalam mengartikulasikan sikap lugas terhadap globalisasi tanpa terjebak histeria pro-kontra dan teguh dalam opsi terhadap kaum lemah dan tertindas.
Selama ini Herry lantang menyuarakan perlawanan terhadap tuan besar finansial yang dinilai hanya menjelmakan insting monopolistik, mentalitas bankir, dan mewujudkan naluri libidalnya.
Selain tepat, Pitoyo juga mengkritisi gagasan Herry sebagai paradoksal. Menurut Pitoyo, meski dalam arti tertentu pasar finansial adalah contoh par excellence globalisasi, namun ia bukan satu-satunya perkara, proses faktual yang berdasar pada dinamika pasar. Alih-alih menawarkan agenda tindakan untuk ramai-ramai mengeroyok dan menuding korporasi sebagai jantung perkara, menimbang luas dan kompleksnya ranah globalisasi kita perlu menemukan bahasa baru yang lebih cerdas dan tepat dalam membaca peta globalisasi berdasar teknologi informasi. Ia tidak menisbikan kekayaan lama, tetapi menjadi bagian integral kamus kemanusiaan global.
Pada konteks inilah, saya tertarik untuk menghubungkan misteri globalisasi dengan cita-cita kemanusiaan global (humanisasi) yang menjadi kerinduan tiap insan atas nama perkembangan dan teknologi. Aspek inilah yang kiranya kerap dilupakan ketika orang berapi-api bicara tentang globalisasi
Tak terbantahkan
Adalah fakta tak terbantahkan, globalisasi terus mengepakkan sayap, menancapkan kuku-kuku dan menghujamkan utopia masa depan yang semakin tanpa batas. Globalisasi tak pernah tuntas dibahas, sebagaimana ditengarai Prof George Lodge dari Harvard Business School: Tak satu pun pakar globalisasi di jagat ini, kecuali mungkin dia utusan dari langit, tuntas bicara tentangnya. Dalam bahasa Ricoeur, globalisasi mencakup surface structure dan deep structure yang tak cukup dibahas secara sekilas.
Karena itu, atas nama kemanusiaan global, kita mesti menempatkan pembicaraan tentang globalisasi dalam kerangka humanisasi. Bagaimana globalisasi yang tak bisa ditolak dan menjadi fakta tak terbantahkan pun tak terbatalkan dapat menumbuhkan aspek-aspek human dignity dan human compassion?
Jangankan globalisasi sebagai anak kandung abad ke-21, modernisasi yang merupakan buah rahim abad ke-19-20 pun, menurut para ahli sosiologi, telah melahirkan tripartit problem pokok bagi kemanusiaan. Pertama, ia telah melahirkan inequality, yakni problem konfliktual antara kelas-kelas sosial, kasta tinggi dan kasta rendah, kaya dan miskin, yang berkuasa dan yang marginal. Kedua, ia memunculkan pertanyaan menyangkut cohesion, yakni apakah manusia yang makin otonom bisa membentuk komunitas dan merasa bertanggung jawab satu sama lain atau tidak. Ketiga, problem rationalization, suatu pendekatan rasional terhadap penghimpunan pengetahuan, terhadap barang produksi, kontrol atas hidup industrial dan sosial.
Seperti ditegaskan Prof Dr Gerben Heitink (1999:26) ketiga problem itu berdampak pada manusia, yakni terjadinya perubahan dalam diri manusia. Manusia lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan pengaruh, tetapi menjadi kian kurang bebas dan bergantung pada proses-proses yang tidak dapat dikontrolnya. Hal ini tampak, misalnya, dalam proses ekonomi dan politik yang membawa krisis moneter di negara-negara berkembang, termasuk Republik ini. Bahkan kita masih terengah-engah di gelombang dahsyat krisis multidimensi tiada henti.
Globalisasi pasti lebih dahsyat mengguncang kemanusiaan global, terutama pertikaian antara tuan besar finansial dan kaum marginal. Maka, bisa dimengerti bila pro-kontra terhadapnya kian tidak surut, justru makin menggelombang. Reaksi-reaksi tajam atas Forum Sosial Dunia (FSD) IV di Mumbay, India, adalah contoh aktual. Harian ini merangkum reaksi-reaksi itu dalam feature memesona, "Aksi Lokal Menolak Korporasi Global" (Kompas, 20/1/2004).
Humanisasi globalisasi
Pertanyaannya, bagaimana humanisasi globalisasi dapat terjadi? Opsi cendekia B Herry-Priyono seperti diakui Pitoyo Adhi pantas ditegaskan di sini. Humanisasi globalisasi hanya akan terjadi bila globalisasi membuat para tuan besar finansial memiliki opsi memihak kaum marginal, yakni mereka yang lemah, miskin, dan tertindas akibat globalisasi.
Untuk mewujudkan opsi itu, para tuan besar finansial mesti peka-meminjam bahasa FX Kaufmann (1989: 217 v), seorang psikolog agama-proses diferensiasi masyarakat fungsional yang makin mengglobal akan selalu dibarengi individualisasi hubungan struktural di seluruh bidang hidup. Benar, akibat proses diferensiasi sosial, kesatuan-kesatuan sosial terkotakkan menjadi kesatuan bagian yang lantas menjalankan fungsinya yang khas. Persis dalam keterpecahan itulah orientasi pada keuntungan dan kekuasaan kian tajam. Akibatnya, diferensiasi sosial juga melahirkan diferensiasi nilai karena keterpisahan tidak saja struktural, tetapi juga kultural. Ujung-ujungnya adalah dikotomi kelas sosial. Yang kaya kian kaya, yang miskin kian miskin. Jurang si kaya dan si miskin semakin lebar dan dalam.
Persis inilah yang secara contradictio interminis mengganjal gerak globalisasi yang mestinya mempererat interkoneksitas antara satu manusia dan manusia lain, termasuk si kaya dan si miskin. Dalam konteks ini, humanisasi globalisasi hanya akan terjadi bila cara berpikir dan bertindak utilitarianistis yang meresapi dunia prive dibongkar menjadi keberpihakan pada yang lemah dan miskin. Bila tidak, interkoneksitas hanya akan menancapkan komersialisasi (business mentality) relasi-relasi antarmanusia.
Salah satu cara mengoptimalkan globalisasi dalam konteks humanisasi adalah dengan memahaminya sebagai pembaruan. Kita tidak perlu menempatkan globalisasi dalam kerangka pemikiran Claerbaut (1983:163), saat orang menghujat modernisasi sebagai victim blaming. Ketika suatu fenomena sosial diidentifikasi sebagai fenomena bermasalah, orang menyadari mereka termasuk di dalamnya dan mengalaminya sebagai hal yang problematis, terutama karena mereka dianggap begitu oleh orang lain. Globalisasi memang menyimpan sejuta problema.
Sebenarnya, globalisasi tidak hanya menyebabkan perubahan besar dalam masyarakat, tetapi juga memberi cap pada manusia sendiri. Dalam arti ini, perian D Riesman, yang mencirikan manusia modern sebagai other-directed, dapat diterapkan pada manusia global. Untuk sampai pada pengertian utuh tentang manusia di era globalisasi, kita harus menyadari bahwa kita memiliki kompas batiniah guna mengukur segala perubahan. Itulah yang disebut inner-directed, yakni hidup dari cita-cita batiniah yang mengarahkan jiwa kita pada penghargaan yang tinggi terhadap sesama manusia.
Meminjam bahasa TW Adorno, di tengah gelombang globalisasi, manusia perlu membuang segala persepsi diri sebagai the authoritarian personality, yakni manusia yang selalu bersandar pada otoritas lahiriah, karena tidak punya keyakinan dari dalam, dan dalam hati kecil selalu merasa takut dan tidak pasti.
Karena itu, globalisasi mestinya menjadi perlawanan terhadap penderitaan dan penindasan. De facto, globalisasi menjadi gejala kehidupan kita, di sudut mana pun kita berada di Bumi ini. Namun, tantangan terbesar dihadapkan kepada kita, bagaimana kita mampu menjadikan globalisasi sebagai peristiwa manusiawi yang mempunyai dampak bagi "keselamatan", yakni interkoneksitas dalam hal kesejahteraan, keadilan, perdamaian, dan harmoni di Bumi ini. Kalau demikian, globalisasi lantas menjadi gratia efficient, dampak menyelamatkan bagi setiap insan! Mungkinkah?
Aloys Budi Purnomo Pr Rohaniwan, Tinggal di Semarang