Kabupaten Minahasa Selatan
ANGIN keras meniup dedaunan pohon-pohon kelapa di sepanjang pantai utara Sulawesi Utara dan di perbukitan. Bagaikan rambut yang tersibak angin, daun-daun kelapa bergerak mengikuti arah angin, menimbulkan suara desiran yang cukup keras.
ITULAH sekilas gambaran Kabupaten Minahasa Selatan. Hamparan kebun kelapa menjadi ciri khas tersendiri bagi kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kopra terbesar di Sulawesi Utara ini. Tidak hanya itu, kabupaten yang berumur empat bulan ini juga mewarisi sebagian sumber daya alam kabupaten induk (Minahasa), seperti tambang emas di Kecamatan Ratotok, sentra tanaman hortikultura di Kecamatan Modoinding, dan potensi perikanan di Kecamatan Belang. Bahkan, luas wilayah Kabupaten Minahasa Selatan melebihi Kabupaten Minahasa.
Minahasa Selatan (Minsel) cukup beruntung dengan segala potensi. Semua bagian topografi dimiliki, mulai dari pantai, dataran rendah, sampai perbukitan. Letaknya juga cukup strategis, pada jalur lintas darat trans-Sulawesi. Jalur laut bagian utara merupakan daerah perlintasan dan transit arus penumpang, barang, dan jasa pada Kawasan Indonesia Tengah dan Timur. Semua ini menjadi modal utama pembangunan kabupaten yang pada 2002 kegiatan ekonominya mencapai Rp 1,5 triliun.
Pantai utara membentang dari Kecamatan Tumpaan, Tombasian, Tenga, dan Sinonsayang, berbatasan dengan Laut Sulawesi. Keberadaan Teluk Amurang di Kecamatan Tumpaan dan Tombasian ini merupakan modal pembangunan Pelabuhan Laut Amurang. Letaknya menjorok ke dalam daratan seluas lebih kurang 5.000 hektar dengan kedalaman lebih dari 25 meter. Kondisi tersebut membuat kawasan ini selalu terlindung dari angin topan dan memiliki keluasan untuk lalu lalang kapal-kapal besar. Minsel memang beruntung. Kawasan Teluk Amurang mulai dilirik investor untuk dijadikan pelabuhan laut internasional, padahal kualifikasi pelabuhan laut tersebut seharusnya dialokasikan untuk Pelabuhan Bitung. Pantai selatan Minsel yang berbatasan dengan Laut Maluku berpotensi untuk pengembangan perikanan laut.
Dataran rendah pantai selatan Minsel juga kaya akan bahan tambang emas. Sudah hampir 10 tahun PT Newmont Persada Indonesia mengeksploitasi tambang di Ratotok. Tahun 2004, perusahaan ini akan habis masa kontraknya sehingga kegiatan ekonomi pertambangan akan terhenti. Pada tahun 2002 lapangan usaha tersebut menyumbang Rp 273 miliar, penyumbang terbesar kedua dalam kegiatan ekonomi Minsel.
Kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Sulut ini mengandalkan pertanian, terutama dari perkebunan dan tanaman pangan. Tahun 2002 pertanian memberi kontribusi terbesar Rp 559 miliar, didukung oleh lahan pertanian 188.403 hektar di kawasan dataran tinggi dan sebagian dataran rendahnya, serta 76 persen penduduk yang bermata pencaharian petani.
Perkebunan merupakan penyumbang terbesar kegiatan pertanian. Tahun 2002, kontribusinya mencapai Rp 284 miliar. Komoditas andalan adalah kelapa. Produksinya tahun 2002 mencapai 74.835 ton, terbesar di Provinsi Sulut. Pohon yang umumnya tumbuh di dataran rendah sekitar pantai ini terdapat di seluruh kecamatan, kecuali di Kecamatan Modoinding. Luas areal perkebunan mencapai 77.567 hektar, dikelola secara turun-temurun oleh rakyat. Hasilnya melimpah, melahirkan industri-industri pengolahan kelapa menjadi minyak kelapa dan kopra skala kecil maupun besar. Industri pengolahan kelapa ini berkembang sejak Minsel masih bergabung dengan Minahasa. Kelapa juga diolah menjadi arang tempurung dan tepung kelapa, bahkan tepung kelapa sudah diekspor.
Selain kelapa, masih ada komoditas andalan lain, yaitu cengkeh. Namun, karena harga jual yang sering naik turun, produksi cengkeh sering tidak stabil. Tahun 2003, harga cengkeh melorot sampai kisaran Rp 15.000. Padahal, sekitar tahun 1999 harga jual sempat mencapai Rp 75.000 sampai Rp 100.000. Petani kebun yang dulunya menanam cengkeh, menebang cengkeh dan beralih ke tanaman perkebunan lain, seperti kopi, vanili, dan kakao. Akibatnya, tahun 2002, produksi menurun empat kali lipat dari tahun sebelumnya
Modoinding, seluruh lahannya tidak dihiasi hijaunya perkebunan kelapa. Namun, areal perbukitannya tetap berwarna hijau oleh tanaman hortikultura seperti kentang, tomat, buncis, cabe, wortel, bawang daun, dan petsai. Letaknya yang pada ketinggian 3.200 dpl membuat segala jenis tanaman hortikultura tumbuh subur, bahkan kawasan ini ditetapkan sebagai sentra agropolitan Provinsi Sulut.
Kentang sebagai andalan Modoinding berhasil menembus pasar ekspor mancanegara. Produksinya cukup melimpah pada 2002, mencapai 16.523 ton. Ada beberapa varietas kentang yang dikembangkan, di antaranya super jon (kentang sayur) dan reverina (kentang olahan). Super jon merupakan varietas lokal hasil pengembangan varietas atlantis yang dikembangkan oleh petani setempat. Sayuran berbentuk bulat dan berkulit coklat ini mulai dilirik oleh investor swasta untuk dipasarkan ke luar negeri. Petani kentang juga memasarkan kentang ke pasaran lokal dan pasar Kalimantan. Sebagian kecil produksi kentang sudah diolah oleh kelompok-kelompok petani menjadi keripik kentang dengan pasaran lokal.
Tomat, salak, dan rambutan juga menjadi andalan Minsel. Masing-masing komoditas mempunyai kekhasan dalam varietasnya. Seperti salak varietas pangu. Salak berumah satu ini hanya bisa dikembangkan di Kecamatan Ratahan dan mempunyai rasa dan aroma khas.
Sayang, hasil tanaman hortikultura yang melimpah tersebut tidak didukung oleh kemudahan pemasaran. Kentang yang diekspor ke mancanegara tidak bisa disalurkan langsung ke negara tujuan. Pemasarannya harus melalui jalan darat sampai Pelabuhan Mamuju sehingga orang sering beranggapan bahwa kentang Modoinding berasal dari Mamuju. Selain itu, daerah-daerah yang terletak di dataran tinggi sering mengalami kesulitan pemasaran karena prasarana jalan yang rusak atau bahkan tidak ada. Hasil-hasil pertanian sering dibiarkan membusuk.
M Puteri Rosalina/Litbang Kompas