Rubrik
Jawa Tengah
Berita Utama
Inspirasi
Olahraga
Dikbud
Opini
International
Nasional
Iptek
Bisnis & Investasi
Nusantara
Naper
Metropolitan
Bahasa
Liputan Natal & Tahun Baru
Berita Yang lalu
Jendela
Pustakaloka
Fokus
Dana Kemanusiaan
Teknologi Informasi
Rumah
Audio Visual
Otonomi
Furnitur
Agroindustri
Sorotan
Teropong
Didaktika
Ekonomi Internasional
Pergelaran
Kesehatan
Telekomunikasi
Wisata
Bentara
Bingkai
Pixel
Otomotif
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan Dalam Negeri
Investasi & Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Perbankan
Esai Foto
Makanan dan Minuman
Properti
Swara
Muda
Musik
Ilmu Pengetahuan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Berita Utama
Sabtu, 27 Desember 2003

Parpol agar Selektif Pilih Calon Legislatifnya

Jakarta, Kompas - Rencana koalisi sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perseorangan yang tergabung dalam Gerakan Nasional Tidak Pilih Politikus Busuk membeberkan daftar nama politisi dimaksudkan agar partai politik selektif memilih calon anggota legislatifnya. Hal itu juga agar masyarakat memiliki pilihan rasional saat pemilihan umum caleg pada 5 April 2004.

"Sebenarnya mereka (para politisi) tidak perlu takut. Gerakan ini ingin mendorong partai untuk lebih selektif dan demokratis dalam merekrut calon anggota legislatif (caleg) yang ada sehingga tidak asal comot apalagi berdasarkan jumlah setoran," kata Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) Teten Masduki, Jumat (26/12) di Jakarta.

Menurut Teten, selama ini partai selalu menggunakan proses seleksi caleg ini untuk mencari dana politik dan orang- orang loyal terhadap pemuka partai. Hal tersebut menimbulkan ketidakadilan di dalam partai itu sendiri terhadap kader-kader yang baik. Di sisi lain, dengan sistem pemilu yang langsung, jika hal seperti itu dilakukan, sebenarnya kualitas pemilu tidak akan membuahkan perubahan.

Ditanya kapan daftar politisi bermasalah tersebut akan diumumkan, Teten mengatakan, mereka akan melihat dulu apakah gerakan ini besar atau tidak. Untuk sementara koalisi lembaga swadaya masyarakat (LSM) belum akan mengeluarkan daftar nama politisi bermasalah itu. Koalisi akan membuat kriteria dan kampanye besar-besaran dahulu.

Salah satu penyebab belum adanya penyusunan daftar politisi bermasalah itu adalah karena masih ada banyak pertimbangan.

"Salah satunya adalah pertimbangan hukum karena baik benar atau salah akan dibawa ke pengadilan, dan pengadilan kita ini kan bisa dibeli," katanya menekankan.

Di Korea Selatan, menurut Teten, gerakan seperti ini berlangsung besar-besaran dan didukung 500 pengacara. "Kami akan mempertimbangkan aspek itu. Kalau nanti kami jadi mengeluarkan daftar itu, tentu saja dengan memperhatikan aspek hukumnya," katanya.

Menurut Teten, akan ada kriteria yang jelas. Yang disebut politisi "busuk" itu adalah lima poin, yakni korupsi, terlibat kejahatan hak asasi manusia, perusakan lingkungan, domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga), dan terkait dengan narkotik dan obat-obatan berbahaya. Gerakan Nasional Tidak Pilih Politikus Busuk akan dideklarasikan 29 Desember 2003. (LOK)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Masyarakat Diimbau Tidak Konsumsi Daging Asal AS

·

Gempa Guncang Iran, Ribuan Orang Tewas

·

Pemerintah Jamin Korban Banjir Tidak Kelaparan

·

Pesawat Jatuh di Benin, 111 Tewas

·

Polisi Bekuk Tersangka Pembunuh KH Asmuni

·

Tahun 2004 Prinsipal Jepang "Wait and See"

·

Masa Inkubasi Sangat Lama

·

Parpol agar Selektif Pilih Calon Legislatifnya

·

POLITIKA



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS