|
POLITIKA
Berani Tidak Populer
BUDIARTO SHAMBAZY
DI zaman Reformasi ini, Gubernur DKI Sutiyoso berani bertindak tidak populer. Penggusuran, katanya, merupakan tindakan yang manusiawi. Jalan Jenderal Sudirman, yang mau diapa-apain juga tetap aja macet, dipermak habis-habisan oleh proyek busway.
Tarif parkir yang on and off street (seperti remaja bosan pacaran) dinaikkan secara diamdiam. Masa berlaku three in one yang tadinya dibuat hanya untuk sementara dalam rangka pertemuan Gerakan Nonblok malah diperpanjang dan dimapankan.
Kalau sudah berani bertindak tidak populer, Bang Yos tentu juga siap menghadapi kritik. Ada yang bertanya, apa sebenarnya peranan dia dalam peristiwa 27 Juli 1996? Mengapa pula pidato pertanggungjawaban dia di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sempat diramaikan protes dari berbagai kalangan?
Kenapa sih ngurusin pembangunan patung di Jenderal Sudirman atau ngotot memelihara rusa di Monas yang dipagari tinggi-tinggi, bukannya siap-siap bekerja keras menghadapi banjir yang sebentar lagi datang? Mengapa menggusur rakyat miskin, bukannya menertibkan orang-orang kaya Jakarta yang makin tidak tahu diri?
Bang Yos memang berani bertindak tidak populer. Mungkin nasibnya akan sama seperti Kepala Polri Jenderal (Pol) Hoegeng yang dulu mewajibkan pengendara sepeda motor memakai helm. Atau seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Jusuf yang membungkam tradisi protes mahasiswa dengan Normalisasi Kehidupan Kampus.
Dalam istilah Betawi, Bang Yos itu sedang ketiban pulung. Menurut mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, Bang Yos menerima bertumpuk masalah warisan dari gubernur-gubernur sebelumnya. Tidak layak menyalahkan semuanya kepada seorang Sutiyoso, gubernur yang sudah menjabat selama Indonesia dipimpin empat presiden.
Bang Yos memang lain dibandingkan dengan gubernur-gubernur sebelum dia: Bang Nolly (Tjokropranolo), Bang Wi (Wiyogo Atmodarminto), R Soeprapto, atau Bang Sur (Surjadi Soedirdja), apalagi jika dibandingkan dengan Bang Ali-gubernur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta.
Anda yang merasa sebagai penduduk Jakarta tak usah bohong untuk mengakui betapa nyaman kota kita di zaman dulu ketika masih dipimpin Bang Ali. Anda juga jangan bohong, betapa menyebalkan menyaksikan kesemrawutan proyek busway dan perpanjangan waktu three in one.
Berkat Bang Ali, biasanya setiap tahun menjelang musim hujan, mereka datang berbondong-bondong-dengan seragam oranye yang di punggungnya terdapat tulisan Suku Dinas DKI (Daerah Khusus Ibu Kota). Dengan modal pacul dan linggis, mereka beramai-ramai mengeroyok selokan.
Bukan cuma selokan mampat yang dibersihkan supaya air tidak menggenang, juga satu kali setahun datang rombongan DKI itu untuk menambal jalan dengan aspal hot mix. Satu kali dalam satu tahun lampu-lampu penerangan mereka ganti agar tetap terang-benderang.
Di zaman itu, rumah ya untuk ditinggali, bukan dijadikan kantor. Tidak seperti sekarang ini, di Pondok Indah warga khawatir wilayah permukimannya disulap menjadi kantor. Mereka memasang spanduk-spanduk besar yang isinya takut kepada perkantoran daripada setan.
Bang Ali memang suka menempeleng sopir bus atau truk yang tidak disiplin. Namun, setiap warga mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kotanya yang tercinta. Ibu Kota menjadi kampung besar (the big village) yang penuh penduduk yang mau susah atau senang bersama-sama.
Dulu mau buang uang, ada kasino. Mau lihat "mobil bergoyang-goyang", datang ke Bina Ria. Mau ketemu wadam, datang saja ke Menteng. Mau nonton konser atau film di layar raksasa, ada Taman Ria Remaja atau Taman Impian Jaya Ancol.
Masuk ke kampung-kampung di kala itu tidak menyeramkan berkat proyek Husni Thamrin yang superbersih, supertertib, dan supersejahtera. Di pinggir jalan tidak ada preman, tak ada penipu ahli hipnotis, tak ada demo yang bikin macet.
Di zaman Bang Ali enggak ada developer yang ngelunjak seperti sekarang, menipu pembeli rumah dengan fasum (fasilitas umum) dan fasos (fasilitas sosial) yang fiktif. Tidak ada tempat dansa peninggalan Belanda yang dirombak menjadi tempat parkir istana, apalagi menyulap kompleks olahraga menjadi Hotel Mulia.
Mau tahu kehebatan Bang Ali? Inilah isi tajuk rencana harian ini edisi 22 Juni 1977.
"Gedung-gedung pencakar langit. Perbaikan kampung Husni Thamrin. Pertamanan baru. Tempat hiburan dan rekreasi. Bagaimana melindungi yang lemah, mengangkat derajat rakyat kecil sehingga stop terdesak ke pinggiran terus".
Maka Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun menang dalam Pemilihan Umum 1977 di Jakarta. Dan saking populernya, Bang Ali dicalonkan sebagai presiden antikemapanan Presiden Soeharto.
Jakarta the big village sebenarnya sudah lama tenggelam seperti Atlantis, kota yang sudah lama hilang. Antartetangga sudah makin kurang bertegur sapa. Antarwarga kampung sering saling timpuk dan saling curiga. Dan mungkin tidak ada satu warga pun yang mengenal siapa gerangan wali kota kita.
Entah kenapa, warga tampaknya lebih senang membangun polisi tidur atau portal ketimbang membersihkan got atau memperbaiki jalan. Aparat Pemerintah Provinsi DKI lebih suka membongkar pasang trotoar atau mengobrak- abrik jalan-jalan protokol daripada membangun taman atau kaki lima.
Pendatang dari luar semakin hari semakin berjubel seperti sudah lupa dengan lagu Sapa Suruh Datang Jakarta. Jakarta jadi kota terbuka untuk siapa saja: teroris lokal, pedagang narkotik internasional, atau penduduk ilegal.
Warga Jakarta, paling tidak saya yang sejak balita sampai dewasa tinggal di Ibu Kota, sudah terlalu lama memendam amarah. Hampir setiap hari saya dan Anda kecewa melihat Jakarta, sembari melepas sumpah serapah: Bang Yos, apa gerangan maksud Saudara?
(e-mail: bas2806@kompas.com)
|