Pemerintah Jamin Korban Banjir Tidak Kelaparan
Pandeglang, Kompas - Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla menjamin korban banjir tidak akan menderita kelaparan. Ini merupakan upaya jangka pendek pemerintah menangani bencana banjir yang melanda beberapa wilayah.
Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Jusuf Kalla di pendapa Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (26/12). Setelah memberikan sambutan, Kalla dan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno mengunjungi lokasi banjir di Kecamatan Pagelaran dan Patia, Pandeglang.
Kalla juga mengatakan, untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah akan merehabilitasi sarana infrastruktur yang rusak akibat banjir dan merehabilitasi hutan-hutan yang rusak.
Di lokasi banjir, sebagian korban mengaku bahwa bantuan yang mereka terima hingga kemarin masih sangat minim. Ubai (24), warga Kampung Karang Tengah, Desa Idaman, Kecamatan Patia, mengatakan, sejak lima hari rumahnya terendam air, keluarganya hanya menerima sebungkus mi instan.
Bupati Pandeglang A Dimyati Natakusumah mengakui bantuan terlambat disalurkan kepada para korban banjir. Hal itu disebabkan sulitnya transportasi untuk menjangkau lokasi banjir. Ia menambahkan, tiadanya peralatan penanggulangan banjir menyebabkan para korban banjir tidak bisa segera dievakuasi saat banjir tiba.
Palembang tergenang
Ribuan rumah di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kemarin juga tergenang akibat meluapnya Sungai Musi. Meskipun fenomena ini terjadi setiap tahun, genangan air kali ini semakin tinggi.
Hingga kemarin sore, air sungai menggenangi ribuan rumah warga yang berada di lima kecamatan, yakni sebagian Kecamatan Seberang Ulu I dan II, sebagian Kecamatan Plaju, Kertapati, dan Ilir Barat I.
Bahkan, sejumlah bangunan di Jalan Merdeka, tak jauh dari Kantor Wali Kota Palembang, juga ikut tergenang. Di sejumlah kanal, seperti di daerah Talang Semut, warga memanfaatkan air sungai yang meluap untuk mencuci sepeda motor. Di kanal yang melewati daerah kompleks rumah susun, orang dewasa bergabung dengan anak-anak memanfaatkan muka air yang hampir mencapai bibir tanggul untuk berenang.
Di Provinsi Jambi, meskipun banjir yang melanda Kabupaten Sarolangun, Tebo, Batanghari, Muaro Jambi, dan Kota Jambi sudah surut, terutama sebelah hulu Kota Jambi, di kawasan sebelah hilir genangan air masih tinggi. Puluhan desa di Kumpeh Hulu dan Kumpeh Hilir, Kabupaten Muaro Jambi, masih terkurung dan ribuan rumah terendam.
Desa yang masih terkurung antara lain Arang-arang, Sumber Jaya, Sungai Terap, Tarikan, Sakean, Solok, Lopak Alai, Puding, Mekar Sari, Betung, Seponjen, Pematang Raman, dan Pulau Tigo.
Pemantauan Kompas hari Jumat menunjukkan jalan yang menghubungkan Kota Jambi dan Suak Kandis (sepanjang 75 km) sudah bebas dari banjir. Namun, jalan menuju desa-desa yang terkurung itu terendam sedalam 60-100 cm. Akibatnya, penyaluran bantuan sulit dilakukan.
Jalur trans-Kalimantan di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah kini makin hancur dan menjadi kubangan danau akibat banjir. Sekitar 60 kelotok (perahu bermesin) kini melayani jalur yang putus, tetapi tetap saja terjadi antrean karena ramainya lalu lintas.
Dari pemantauan Kompas di Tumbang Nusa, Jumat, kedalaman air masih mampu merendam kap depan mobil maupun truk. Para sopir memprediksikan, kondisi tersebut akan makin parah hingga Januari jika masih terus hujan.
Air yang menggenangi Tumbang Nusa membuat ruas jalan negara itu makin rusak. Setidaknya ada lima ruas "jalan maut" yang badan jalannya telah hancur dan menyisakan lubang-lubang jebakan yang bisa merendam mobil dan truk sekalipun.
Beberapa sopir berpengalaman melewati jalur tersebut menutup kap depan mobil dengan plastik dan menyambung knalpot dengan ban dalam sepeda motor agar tidak kemasukan air. Bagi yang tidak membawa ban dalam, ada juga yang membengkokkan knalpot ke atas.
Banjir merata
Dari Palembang dilaporkan, di Kecamatan Seberang Ulu I, banjir merata mulai dari Kelurahan 7 Ulu yang batasnya mulai dari kolong Jembatan Ampera sampai ke Kelurahan 15 Ulu di dekat Stasiun KA Kertapati. Kondisi serupa juga terlihat di Kampung Arab, di Kelurahan 13 Ulu.
Di daerah yang terkenal sebagai kampung asli orang Palembang itu, luapan air menggenangi rumah warga yang berada di dekat kanal-kanal. Luapan air Sungai Musi sampai menggenangi sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hijraiyah II di sebelah Kantor Kelurahan 7 Ulu, 100 meter dari sungai.
Air yang menggenang hingga setengah betis itu mengakibatkan lima dari 10 kelas kebanjiran. Akibatnya, sekitar 980 siswa harus belajar dalam kelas yang tergenang. "Setelah sebelas tahun, baru kali ini sekolah kami kebanjiran lagi," ujar Usman Anwar, Kepala Sekolah MI Hijraiyah II.
Kebanyakan siswa yang tetap ke sekolah sudah mengenakan sandal dari rumah. Beberapa siswa yang memakai sepatu terpaksa melepas sepatunya sebelum masuk ke kelas.
Cek Mala, seorang warga 15 Ulu yang tinggal di kolong rumah panggung, mengatakan, air mulai meluap memasuki rumahnya sejak dua malam sebelumnya setelah turun hujan deras. "Tapi kali ini beda dengan yang kemarin-kemarin, air lebih tinggi dan sudah dua hari tidak surut juga," ujarnya.
Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palembang Suyatim, luapan Sungai Musi terjadi akibat tingginya curah hujan di daerah hulu dan kondisi pasang yang tinggi di daerah muara sungai.
Bantuan DKK
Jumat kemarin, disaksikan sekitar 50 warga Desa Arang- arang, Kumpeh, yang terletak sekitar 35 km sebelah timur Kota Jambi, Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) menyerahkan bantuan berupa satu ton beras dan uang tunai Rp 6,25 juta untuk 250 keluarga korban banjir di desa tersebut.
Bantuan serupa diberikan kepada 255 keluarga transmigran di Desa Rawa Skip III, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Bantuan 200 paket bahan makanan pokok senilai Rp 10 juta itu sebelumnya juga telah disampaikan kepada korban banjir di Kelurahan Meranti Pandak, Pekanbaru.(DOT/NAT/AMR/OIN/SAM)