Masa Inkubasi Sangat Lama
KASUS sapi gila yang secara klinis disebut bovine spongiform encephalopathy (BSE) pertama kali dilaporkan terjadi di Inggris pada November 1986. Asal-muasal wabah ini tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan berasal dari kontaminasi melalui pakan ternak yang menggunakan tepung tulang dan tepung daging.
Saat itu Inggris langsung membinasakan sekitar 3,7 juta sapi yang diperkirakan telah terinfeksi penyakit tersebut dan melarang penggunaan tepung daging dan tepung tulang sebagai bahan baku pakan ternak. Tindakan ini telah mengurangi kasus sapi gila dari 36.680 kasus pada tahun 1992 menjadi 1.500 kasus pada tahun 2000.
Hingga saat ini sejumlah kasus sapi gila masih teridentifikasi di sejumlah negara Eropa. Dari tahun 1989 hingga 2000 telah terjadi 1.642 kasus sapi gila di sejumlah negara, seperti Belgia, Perancis, Italia, Portugal, dan Spanyol. Pada bulan Juni 2000, Komisi Keamanan Pangan dan Kesejahteraan Hewan Uni Eropa mengharuskan penghilangan bahan-bahan yang berbahaya dari pakan ternak.
Sapi gila dan sejumlah varian penyakitnya menyerang jaringan saraf otak dan bersifat degeneratif. Penyakit ini memiliki karakteristik dengan masa inkubasi yang panjang hingga beberapa tahun. Inkubasi BSE pada sapi berlangsung antara tiga tahun hingga delapan tahun, sedangkan pada manusia masa inkubasinya belum diketahui, tetapi diperkirakan sekitar 5 tahun hingga 20 tahun. Selama masa inkubasi tidak ada tanda-tanda penyakit yang kasatmata.
Tanda-tanda baru terlihat pada sapi yang mulai terserang BSE sangat parah. Sapi akan tampak agresif, gerakannya tidak terarah, dan gelisah, serta produksi susunya menurun. Setelah itu selama dua minggu hingga enam bulan sapi akan mati.
Penyakit ini hingga sekarang belum ada vaksinnya. Penyakit yang apabila terinfeksi ke manusia dalam bentuk varian creutzfeldt jakob disease (CJD) ini dilaporkan telah membunuh 92 orang (Departemen Pertanian AS/USDA), tetapi ada juga yang melaporkan hingga 129 (World Health Organization/WHO) dan 137 orang (Reuters).
Munculnya varian CJD pada manusia dipercaya berasal dari konsumsi daging sapi yang terinfeksi BSE. Dari epidemiologi dan bukti laboratorium terdapat hubungan kausal antara varian CJD dan BSE. Akan tetapi, dilaporkan tidak ada bukti penularan melalui susu.
Sebelum kasus yang ditemukan di negara bagian Washington ini, penyakit tersebut tidak teridentifikasi di Amerika Serikat (AS). AS sendiri sebenarnya sudah melakukan pengamanan maksimal sejak munculnya kasus sapi gila di Inggris.
Selama ini AS dikenal sebagai negara yang bersih dari berbagai penyakit, seperti penyakit mulut dan kuku serta sapi gila. Lembaga penelitian yang ada bekerja sama dengan pemerintah federal selalu melakukan survei di kawasan peternakan untuk meminimalkan risiko terserang sapi gila.
Sejak awal sejumlah langkah pencegahan telah dilakukan. Departemen Kesehatan AS melakukan pemantauan dan meningkatkan penelitian serta memperluas inspeksi untuk mencegah BSE memasuki negara itu.
Departemen Pertanian AS membuat program pemeriksaan rutin terhadap hewan-hewan yang dikonsumsi manusia. USDA juga menguji semua sapi sebelum memberi pernyataan persetujuan daging sapi terkait layak dikonsumsi manusia. Paling tidak setiap tahun USDA harus menguji 33 juta sapi.
Bisa dibayangkan negara yang sangat ketat dalam mengawasi penyakit pun masih kecolongan. Indonesia sepatutnya waspada, mengingat negara ini lebih rawan kemasukan penyakit sapi gila itu. (MAR/PPG)