Masyarakat Diimbau Tidak Konsumsi Daging Asal AS
Jakarta, Kompas - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Sampurno menganjurkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging sapi asal Amerika Serikat menyusul ditemukannya kasus sapi gila (mad cow) di negara itu. Meski sejak bulan September tahun ini tidak ada impor daging asal negara itu, BPOM akan memantau daging yang beredar di pasaran.
Sampurno ketika dikonfirmasi Kompas di Jakarta, Jumat (26/12), mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengimbau konsumen agar ekstra hati-hati terhadap produk daging olahan yang berasal dari Amerika Serikat (AS), lebih-lebih terhadap produk yang tidak terdaftar atau ilegal yang beredar di pasaran.
"Saya menganjurkan agar masyarakat tidak mengonsumsi daging asal AS karena risiko penyakit sapi gila cukup besar pada kesehatan manusia," kata Sampurno. Anjuran ini diberikan meski dari data yang dimiliki BPOM sejak bulan September lalu tidak ada impor daging dari negara tersebut.
Impor yang masuk adalah bubuk daging sebanyak 440 kilogram yang biasa digunakan untuk bahan baku sosis. Mengenai keberadaan bubuk ini, BPOM juga akan melakukan pelacakan. Di samping itu, BPOM akan mengamati peredaran daging di pasaran.
"BPOM sedang memantau peredaran daging di pasaran dan saya akan memerintahkan staf BPOM untuk mendeteksi apakah ada daging yang masuk (dari AS) ke Indonesia dalam satu bulan terakhir," kata Sampurno ketika ditanya apakah akan ada penarikan produk di pasaran.
Menurut Sampurno, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Departemen Pertanian dan instansi lainnya untuk menindaklanjuti kasus ini. Salah satunya adalah meminta pihak Bea Cukai menangkal dan melarang sementara produk-produk daging dan olahannya dari AS.
Kepala Pusat Karantina Hewan Badan Karantina Pertanian Mukhtar Baraniah mengatakan, aparat karantina di lapangan sudah bisa menolak bila ada produk daging asal AS yang akan dimasukkan ke Indonesia.
Tunggu pemerintah
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Budiarto Soebijanto mengatakan, dengan adanya pelarangan dari pemerintah, perusahaan pakan ternak menghentikan sementara impor tepung daging dan tepung tulang dari AS. Dalam setahun impor produk tersebut mencapai 300.000 ton yang hampir separuhnya berasal dari AS. Akan tetapi, impor jagung dan bungkil kedelai tetap dari AS karena tidak ada pelarangan.
"Kami sudah mendapat pemberitahuan awal dari Direktur Jenderal Peternakan, tetapi pemberitahuan itu belum jelas apakah kapal yang mengangkut bahan-bahan tersebut-yang masih dalam perjalanan-termasuk dalam pelarangan atau tidak," kata Soebijanto. Ia menambahkan, pihaknya masih menunggu penjelasan dari pemerintah.
Dampak dari kasus sapi gila di AS ini masih terus diamati kalangan pengusaha pakan ternak di dalam negeri. Mereka belum bisa menentukan kemungkinan yang terjadi terhadap harga-harga bahan baku pakan ternak. Mereka masih menunggu keputusan Pemerintah AS dalam waktu dekat.
"Harga jagung dan bungkil kedelai belum bisa ditentukan. Kalau Pemerintah AS memutuskan pemusnahan sapi, akan terjadi penurunan permintaan jagung dan bungkil kedelai di AS sehingga harga akan turun," kata Soebijanto.
Tanggapan dari kalangan peternak Australia yang juga merupakan pemasok daging sapi dunia juga bervariasi. Harian Sidney Morning Herald menyebutkan, salah satu perusahaan pengekspor daging sapi, Sanger Australia Limited, mengatakan, dengan kasus ini penjualan daging Australia ke luar negeri akan meningkat.
"Dalam perdagangan daging sapi dunia, Australia masih sebagai negara yang memiliki risiko paling kecil sehingga akan menguntungkan," kata Richard Raines dari perusahaan tersebut.
Namun, Presiden Dewan Peternakan Sapi Australia Keith Adams mengatakan kasus ini merupakan kabar buruk bagi Australia karena ekspor daging ke AS akan turun sebagai akibat keraguan konsumen.
Menteri Perdagangan Australia Mark Vaile mengatakan, terlalu dini untuk mengomentari kasus ini, termasuk soal dampaknya terhadap Australia.
Diperiksa di Inggris
Siaran pers Departemen Pertanian AS (USDA) menyebutkan, sampel yang dikirim AS sudah diterima oleh laboratorium standar internasional untuk pengujian penyakit hewan di Waybridge, London, Inggris. Sebagai upaya terakhir pengujian sapi yang terinfeksi sapi gila, AS awal pekan ini mengirim sampel ke laboratorium itu. Namun, hasil akhir pengujian terkait baru akan diketahui akhir pekan ini.
Pemerintah AS sendiri selama liburan Natal ini terus melakukan investigasi untuk mencegah kemungkinan terjadinya wabah yang mematikan ini dan meyakinkan masyarakat mengenai keamanan pasokan pangan. Pemerintah AS memastikan tidak ada ancaman terhadap pasokan pangan karena sapi yang terinfeksi sapi gila itu sudah dipindahkan sebelum dikirim ke unit pemrosesan.
Laporan harian Washington Post kemarin menyebutkan, pemeriksaan mulai dilakukan dari tempat kelahiran sapi yang terinfeksi hingga rumah pemotongan hewan. Pemeriksaan dilakukan terhadap dua kawasan peternakan sapi yang berada di negara bagian Washington.
Salah satu kawasan yang diteliti adalah peternakan Sunny Dene di daerah Mabton. Hal ini dilakukan karena kemungkinan sapi yang terinfeksi itu berasal dari luar Mabton. Sapi berada di kawasan peternakan tersebut diketahui sejak tahun 2001. Daerah ini kini dalam pengawasan karantina dan bila sudah ada konfirmasi soal penyakit ini, seluruh sapi di daerah itu dimusnahkan. (MAR)