Rubrik
Jawa Tengah
Berita Utama
Inspirasi
Olahraga
Dikbud
Opini
International
Nasional
Iptek
Bisnis & Investasi
Nusantara
Naper
Metropolitan
Bahasa
Liputan Natal & Tahun Baru
Berita Yang lalu
Jendela
Pustakaloka
Fokus
Dana Kemanusiaan
Teknologi Informasi
Rumah
Audio Visual
Otonomi
Furnitur
Agroindustri
Sorotan
Teropong
Didaktika
Ekonomi Internasional
Pergelaran
Kesehatan
Telekomunikasi
Wisata
Bentara
Bingkai
Pixel
Otomotif
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan Dalam Negeri
Investasi & Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Perbankan
Esai Foto
Makanan dan Minuman
Properti
Swara
Muda
Musik
Ilmu Pengetahuan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Jawa Tengah
Sabtu, 27 Desember 2003

Longsor Ancam Banyumas

Purwokerto, Kompas - Bencana tanah longsor kembali mengancam wilayah Kabupaten Banyumas. Kali ini longsor menimpa Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Bencana itu merusak tiga bangunan dan mengancam 10 rumah warga Mandirancan lainnya. Selain mengancam rumah, longsor juga mengancam jalur alternatif Purwokerto-Cilacap melalui Kebasen.

Data yang dihimpun Kompas, hari Jumat (26/12), menyebutkan, bencana tanah longsor pertama terjadi pada Rabu lalu. Tiga bangunan milik Parman (28), Saman (50), dan Nata (62), warga Mandirancan, mengalami rusak parah.

Bagian belakang rumah milik Parman ambruk, sedangkan rumah milik Saman beserta tungku pembakaran tertutup tanah. Nasib Nata tidak kalah naas. Longsor menutup kolam ikan miliknya yang berisi sekitar 400 ikan gurami.

Longsor yang sama juga mengancam jalur alternatif Purwokerto-Cilacap melalui Kebasen. Rabu lalu, jalan itu sudah tergenang air dan sebagian tertutup tanah. Apabila longsor yang lebih besar terjadi, jalur yang biasa dilewati bus dari Purwokerto ke arah Maos bisa tertutup seluruhnya.

Bencana tanah longsor susulan terjadi hari Kamis sekitar pukul 20.00. Bukit cadas dengan ketinggian tebing sekitar 15 meter itu ambrol lagi. Longsor kedua ini tidak menimbulkan kerugian apa pun.

"Longsor kali ini terjadi pada malam hari. Jika longsor terjadi pada siang hari, korban jiwa dimungkinkan terjadi. Pasalnya, tidak sedikit warga setempat yang tengah bekerja menambang batu di bukit itu," ujar salah seorang warga.

Edi, salah seorang warga Mandirancan, mengatakan, sampai saat ini warga masih waswas akan datangnya longsor susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kondisi tebing Bukit Mandirancan, terutama di sekitar rumah Parman, Saman, dan Nata, sangat mengkhawatirkan. Di lokasi itu terdapat 10 rumah yang terancam bencana. Kesepuluh rumah itu hingga kini masih dihuni.

"Kami hanya dapat meminta masyarakat selalu waspada. Kami juga akan meminta warga membuat parit penahan arus air," ujar Camat Kebasen Sunarso.

Sampai saat ini hanya rumah milik Parman yang dikosongkan. Dua bangunan lain masih dihuni.

Penambangan batu

Sunarso menjelaskan, selain karena hujan deras, bencana tanah longsor yang terjadi di Mandirancan juga berhubungan dengan aktivitas penambangan batu yang dilakukan warga setempat. Di Mandirancan, setidaknya terdapat 30 tungku pembakaran (pawon) kapur milik warga yang dikelola secara tradisional.

Oleh karena itu, pihaknya sudah mengimbau agar untuk sementara waktu penambangan dihentikan. "Tetapi, soal itu sulit ya. Sebab, warga menambang batu di pekarangan mereka sendiri. Saya harap kejadian ini akan membuat warga menghentikan aktivitas penambangan, terutama untuk mencegah meluasnya bencana," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam dan Penanganan Pengungsi Kabupaten Banyumas Suyatno. Ia mengatakan, meskipun jumlahnya tidak banyak, penambangan bukit untuk pembuatan batu kapur merupakan mata pencarian warga. Pihaknya tidak dapat serta-merta memaksakan penghentian aktivitas penambangan karena memang tidak ada alternatif pekerjaan lain.

"Berkenaan dengan bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah menyalurkan bantuan sebesar Rp 750.000, khusus bagi korban yang rumahnya rusak berat," ujarnya.

Terancam

Selain mengancam rumah penduduk, longsoran juga mengancam jalur alternatif Purwokerto-Cilacap melalui Kebasen. Jalur itu memanjang di wilayah Kebasen bagian utara, mulai dari Mandirancan, Tumiyang, Kalisalak, dan Gambarsari. Jalur tersebut rawan karena letaknya yang berada di sisi bukit cadas.

Mengenai hal itu, Suyatno mengatakan, pemerintah kabupaten menyiapkan alat berat jika sewaktu- waktu terjadi longsor susulan yang mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalan tersebut. Alat berat itu saat ini disiapkan di Wangon dan sewaktu-waktu dapat dipindahkan. (ANA)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Longsor Ancam Banyumas

·

Kali Wulan Meluap, Tanggul Nyaris Jebol

·

Keberadaan Kawasan Industri Penyebab Bencana Banjir di DAS Beringin

·

Sebelum Tanggal 10 Januari 2004, Polwiltabes Semarang Diresmikan

·

Kilas Peristiwa Jateng-DIY 2003

·

Dugaan Kampanye Tak Ditindaklanjuti

·

Pasar Pedurungan Semarang Terbakar

·

KPU Jateng Canangkan Pemilu Harus Damai

·

Ratusan Orang Keroyok Sahri di Pos Polisi

·

Komikus Wid NS Tak Bisa Saksikan Pameran Terakhir

·

Mempertanyakan "Master Plan" Pengendalian Banjir

·

DATA DAN AGENDA

·

CAMPUR SARI



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS