Rubrik
Jawa Tengah
Berita Utama
Inspirasi
Olahraga
Dikbud
Opini
International
Nasional
Iptek
Bisnis & Investasi
Nusantara
Naper
Metropolitan
Bahasa
Liputan Natal & Tahun Baru
Berita Yang lalu
Jendela
Pustakaloka
Fokus
Dana Kemanusiaan
Teknologi Informasi
Rumah
Audio Visual
Otonomi
Furnitur
Agroindustri
Sorotan
Teropong
Didaktika
Ekonomi Internasional
Pergelaran
Kesehatan
Telekomunikasi
Wisata
Bentara
Bingkai
Pixel
Otomotif
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan Dalam Negeri
Investasi & Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Perbankan
Esai Foto
Makanan dan Minuman
Properti
Swara
Muda
Musik
Ilmu Pengetahuan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Nusantara
Sabtu, 27 Desember 2003

Sumatera Barat Rawan Bencana, Lahan Kritis 175.000 Hektar

Padang, Kompas - Bencana alam, berupa banjir dan tanah longsor, di sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat sejak satu dasawarsa terakhir ini berhubungan dengan kondisi hutan yang sudah semakin rusak akibat maraknya penebangan liar. Bahkan, di daerah yang seharusnya menjadi tangkapan air, kondisinya kini kritis. Jumlah lahan kritis di Sumatera Barat terdapat 175.000 hektar.

Demikian dikatakan aktivis lembaga swadaya masyarakat lingkungan, Eddy Dasril, dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar Johny Azwar, secara terpisah di Padang, Jumat (26/12). "Lahan kritis di pinggir Danau Singkarak (tempat PLTA Singkarak) dan kawasan danau buatan Kotopanjang (tempat PLTA Kotopanjang) mengancam ketersediaan air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sudah bertahun- tahun kritis, pemerintah belum juga membuat program penghijauan dan rehabilitasi lahan," kata Eddy Dasril.

Menurut dia, selama ini pemerintah sering menutup mata dalam kasus penebangan liar, bahkan cenderung membenarkan, dengan mengakui dokumen-dokumen yang dibuat kemudian.

Sebelumnya, Johny Azwar mengatakan, kondisi lahan kritis di Sumbar saat ini mencapai 175.000 hektar. Bila dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan lahan kritis akan semakin bertambah luas. "Akibatnya, Sumbar yang merupakan daerah rawan akan semakin akrab dengan bencana alam," katanya.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, satu-satunya yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktivitas lahan kritis melalui upaya percepatan rehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi. Untuk kegiatan rehabilitasi, Sumbar mendapat kucuran dana sebesar Rp 134 miliar, Rp 88 miliar di antaranya diperoleh melalui gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GN-RHL).

Johny mengakui, kebijakan program ini diambil pemerintah terkait dengan kondisi Sumbar sendiri yang rawan bencana, lantaran aksi pembabatan dan pengeksploitasian sumber daya alam, di luar batas kewajaran. (NAL)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Tidak Ditindaklanjuti Panwas Pemilu, Dugaan Kampanye PDI-P Terselubung

·

Masih Sepi, Pendaftaran Caleg di KPU Bali dan Kaltim

·

KPU Kalbar Teliti Gelar Kesarjanaan Calon Legislatif

·

Panwas Pemilu Temukan 14 Partai Politik Bandel di Malang

·

Peserta Pemilu di Padang Sepakati Aturan Main

·

PT DI Tidak Mampu Bayar Gaji Desember

·

Sumatera Barat Rawan Bencana, Lahan Kritis 175.000 Hektar

·

Eksploitasi Alam di Kaltim Meningkat, Kemiskinan Tidak Berkurang

·

Lapangan Terbang di Ketapang Jadi Arena Balap

·

Bus Hiba Putra Tabrak Angkutan Kota, Dua Penumpang Tewas

·

DAERAH SEKILAS



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS