Rubrik
Jawa Tengah
Berita Utama
Inspirasi
Olahraga
Dikbud
Opini
International
Nasional
Iptek
Bisnis & Investasi
Nusantara
Naper
Metropolitan
Bahasa
Liputan Natal & Tahun Baru
Berita Yang lalu
Jendela
Pustakaloka
Fokus
Dana Kemanusiaan
Teknologi Informasi
Rumah
Audio Visual
Otonomi
Furnitur
Agroindustri
Sorotan
Teropong
Didaktika
Ekonomi Internasional
Pergelaran
Kesehatan
Telekomunikasi
Wisata
Bentara
Bingkai
Pixel
Otomotif
Ekonomi Rakyat
Pendidikan
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan Dalam Negeri
Investasi & Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Perbankan
Esai Foto
Makanan dan Minuman
Properti
Swara
Muda
Musik
Ilmu Pengetahuan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Fokus
Sabtu, 27 Desember 2003

Semarak di Asrama Haji

SEJUMLAH jemaah calon haji dengan gerakan konstan mengelilingi masjid Al Mabrur di dalam kompleks Asrama Haji Pondok Gede, Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur. Pakaian ihram (kain tidak dijahit bagi laki-laki) telah mereka pakai, persis seperti aktivitas tawaf di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Beberapa orang terlihat komat-kamit menghafal doa tawaf.

Sejak sebelum bulan puasa, beberapa jemaah calon haji yang tergabung dalam kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) telah melakukan manasik atau berlatih melakukan rukun haji persis seperti di Mekkah. "Hanya ketua-ketua kelompok saja yang manasik sebelum nanti berdatangan jemaah haji," kata seorang petugas masjid di sana.

Fasilitas bermanasik di Asrama Haji Pondok Gede (AHPG) memang lengkap. Ada tiruan kabah untuk tawaf, juga tanah yang lapang untuk sai (lari-lari kecil antara safa dan marwah sebanyak tujuh kali). Fasilitas serupa untuk manasik biasanya terdapat pula di kantor-kantor departemen agama di tingkat kabupaten/kota.

Menjelang kedatangan sebanyak 29.000 lebih jemaah calon haji tanggal 30 Desember nanti, panitia penyelenggara ibadah haji AHPG memang bertambah sibuk. Apalagi, AHPG nantinya akan menampung jemaah calon haji yang berasal dari Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, dan Jakarta.

Kesibukan juga terlihat di Asrama Haji Jawa Barat (AHJB) yang terletak di Jalan Kemakmuran, Bekasi, dalam menyambut kedatangan 24.000 lebih jemaah calon haji dalam musim haji tahun 2004/1424 Hijriah. Mulai tanggal 29 Desember 2003-26 Januari 2004, jemaah calon haji dari kotamadya/kabupaten di seluruh Provinsi Jawa Barat yang terbagi dalam 54 kelompok terbang (kloter) akan silih berganti berdatangan ke AHJB sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci melalui embarkasi Jakarta.

Melihat jumlah yang begitu banyak, yang mengusik pikiran adalah bagaimana pengelolaan para jemaah calon haji itu di penampungan sementara? Bagaimana dengan jemaah yang sakit, adakah perhatian khusus? Pertanyaan ini menjadi relevan karena mengelola sesuatu yang massal biasanya dikerjakan serampangan. Banyak keluhan mengenai pelayanan yang kurang prima terlontar dari jemaah haji yang telah merampungkan rukun Islam kelima itu.

Melihat kamar-kamar tidur di AHPG, wajar jika banyak permintaan untuk memilih kamar VIP (very important person) yang lebih nyaman. Tentu saja ada charge tersendiri untuk mendapatkan fasilitas ini. Jika kamar VIP dilengkapi penyejuk ruangan dan hanya diisi 2-3 orang, kamar biasa dilengkapi dengan kipas angin.

Untuk gedung D1, D2, D3, D4, D5, dan F rata-rata satu kamar berisi tujuh tempat tidur tingkat untuk 14 jemaah calon haji. Biasanya, jemaah calon haji berebut memilih tempat tidur yang di bawah. Apalagi, rata-rata jemaah calon haji Indonesia berusia di atas 30 tahun. Kondisi yang sama terlihat pula di asrama haji lainnya, semisal di Boyolali, Jawa Tengah.

"Masak berebut? Kalau masalah kamar, kan sudah ada ketua regu dan ketua rombongan yang mengatur. Lagi pula, kalau ada jemaah yang membutuhkan privasi, kami kan sudah menyediakan ruang VIP," kata Sekretaris II Badan Pengelola AHPG yang juga Sekretaris I Panitia Penyelenggara Ibadah Haji H Dimyati RI.

DI AHPG terdapat 11 penginapan untuk jemaah calon haji, meliputi gedung VIP A seluas 2.062,8 meter persegi, gedung VIP B seluas 2.144,4 meter persegi, gedung VIP H seluas 1.656 meter persegi, gedung C seluas 2.107,5 meter persegi, gedung D1-D5 masing-masing 3.843,9 meter persegi, gedung E seluas 1.944,75 meter persegi, dan gedung F seluas 2.448 meter persegi.

Ditambah dengan fasilitas gedung serba guna, masjid, dapur umum, wartel, halaman parkir, poliklinik, kantin, dan lainnya, luas total AHPG yang dibangun pada tahun 1978 dan mulai dipakai tahun 1979 ini mencapai 152.123 meter persegi.

Menilik sejarah berdirinya asrama, pelayanan kepada jemaah calon haji seharusnya memang lebih ditingkatkan. "Asrama ini dibangun atas dana dari jemaah haji juga, yaitu dari sisa ONH yang kemudian menjadi shodaqoh jariyah. Sebelumnya, pemerintah masih menyewa di beberapa tempat, seperti di Cempaka Putih, Kwitang, Tulodong, dan Senayan," papar Dimyati.

AHPG yang didirikan semasa Menteri Agama Alamsyah Ratuperwiranegara tersebut menjadi asrama pertama di Indonesia untuk menampung semua jemaah calon haji. "Waktu itu asrama ini pernah menampung sampai 80.000-an jemaah calon haji. Setelah beberapa kota mempunyai asrama haji sendiri, seperti Surabaya, Medan, Bekasi, dan Boyolali, beban asrama ini pun berkurang," tutur Dimyati.

Lain di Jakarta lain pula di Asrama Haji Jawa Barat, Bekasi, yang diresmikan Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar pada tanggal 28 Desember 2001. Berbeda dengan AHPG yang menyediakan kamar VIP, AHJB Bekasi justru kekurangan tempat tidur. Akibatnya, jika dalam satu hari rombongan jemaah calon haji yang datang lebih dari dua kloter, terpaksa sebagian di antaranya harus beristirahat di aula.

Seperti diakui Pelaksana Harian Asrama Haji Jawa Barat Sukri, kapasitas AHJB saat ini masih untuk dua kloter. "Idealnya kalau minimal disiapkan untuk tiga kloter, ya, tidak masalah jika yang datang sampai empat kloter. Ke depannya memang akan disiapkan lagi kamar-kamar untuk bisa melayani jemaah calon haji dengan lebih baik," ujarnya.

Menurut Sukri, normalnya jemaah calon haji beristirahat 24 jam. Namun, dalam perkembangannya, beristirahat di asrama haji kini hanya 12-15 jam sebelum jadwal penerbangan yang ditetapkan. Asrama haji yang berada di lahan seluas 2,4 hektar itu baru memiliki 92 kamar, di mana setiap kamarnya bisa diisi 10 orang. Artinya, kapasitas asrama haji ini setiap harinya cukup untuk menampung dua kloter penerbangan jemaah calon haji.

Akan tetapi, sering kali karena jadwal penerbangan yang tertunda, terpaksa dalam satu hari bisa terjadi penumpukan tiga hingga empat kloter. Menghadapi kondisi seperti itu, pengelola asrama terpaksa membiarkan jemaah calon haji yang tidak kebagian jatah kamar hanya bisa beristirahat di kursi-kursi yang disediakan di aula. Tentu saja pelayanan yang seperti itu tidak mengenakkan bagi jemaah calon haji. Apalagi mereka telah membayar mahal. "Setiap musim haji beberapa kali ada calon haji yang terpaksa cuma bisa beristirahat di aula," ujar Sukri.

Masjid di sana daya tampungnya terbatas, dapur masih kecil, bangunan VIP belum tersedia, genset dan sarana laundry pun belum ada. Padahal, setiap kali rombongan jemaah calon haji pergi, seprai-seprai di kamar harus segera diganti sebelum dipakai oleh jemaah calon haji dalam rombongan berikutnya. "Kalau untuk me-laundry seprai dan segala macam, ya, akhirnya menggunakan fasilitas di Rumah Sakit Umum (RSU) Bekasi. Harus gantian karena pihak RSU Bekasi juga pakai. Tapi yang penting, ya, memperbesar masjid dan menyediakan ruangan VIP untuk akomodasi petugas," ujar Sukri.

KEBERADAAN asrama haji dalam musim haji setiap tahunnya memang penting. Rombongan calon haji yang datang dari daerahnya masing-masing akan berhenti terlebih dahulu di asrama haji untuk beristirahat, cek kesehatan terakhir, dan bersiap-siap sebelum menuju bandar udara. Di asrama, jemaah calon haji juga mendapatkan paspor serta biaya hidup (living cost) yang besarnya 1.500 riyal atau Rp 3 juta dengan kurs Rp 2.000 per satu riyal.

Mengenai katering, AHPG setiap tahunnya menenderkan pengelolaan katering kepada masyarakat. "Kami tenderkan dan dimuat di sebuah harian Ibu Kota. Tahun ini yang menang tender untuk katering adalah PT Cakra Wredi Pratama. Tahun lalu dipegang An Niza, dan tahun sebelumnya lagi dikelola Roslan Cempaka Putih. Kami tidak ingin dinilai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme," papar Dimyati.

Katering di AHJB disediakan oleh PT Anyzah Jaya Perkasa pimpinan Direktur Utama H Zaqladie Chaerulnyzah. Perusahaan ini juga sejak tahun 1980 bekerja sama dengan Pemerintah Arab Saudi untuk menyediakan katering jemaah haji Indonesia saat kedatangan dan kepulangan dari Tanah Suci.

Menurut Manajer Operasional PT Anyzah Jaya Perkasa M Paul LT, untuk bisa terlibat dalam pelayanan katering di AHJB perusahaan ini mengikuti tender terbuka yang dilaksanakan Departemen Agama Kantor Wilayah Jawa Barat setiap musim haji. "Kira-kira sebulan sebelum musim haji, biasanya ada tender terbuka. Di situ perusahaan katering melakukan penawaran. Alhamdulillah, sudah tiga kali musim haji, perusahaan kami bisa memenangkan tender. Jadi, bukan dengan sistem penunjukan," kata Paul.

Untuk musim haji tahun 2004, Anyzah melayani 24.050 jemaah calon haji dari yang direncanakan sebelumnya 26.700 calon. Perusahaan ini sejak tanggal 27 Desember mulai menyediakan katering bagi petugas dan selanjutnya mulai 29 Desember 2003-26 Januari 2004 melayani kebutuhan makan jemaah calon haji yang masuk ke AHJB.

Selain menyediakan katering, perusahaan ini juga menerima permintaan paket katering dari rombongan kloter haji Indonesia selama di Tanah Suci. Untuk tahun ini, dari Jawa Barat akan ada lima kloter, sedangkan dari Jakarta tiga sampai lima kloter.

"Kontrak penyediaan katering di Asrama Haji itu cuma selama musim haji. Untuk bisa ikut lagi pada musim haji berikutnya, ya, harus ikut tender lagi. Kami juga tetap ikut tender meskipun sebelumnya ada rekomendasi karena melihat pengalaman kami," kata Paul.

Sehari-harinya AHJB dikelola oleh sekitar 63 petugas. Adapun pada musim haji, biasanya pengelola merekrut petugas musiman. Perhitungan ideal perekrutan petugas tambahan itu adalah jumlah jemaah calon haji dibagi seratus. Di AHPG Jakarta terdapat 400 petugas untuk musim haji tahun 2004.

Sebenarnya, kuota untuk musim haji tahun 2004 dari Jawa Barat mencapai 27.000-an orang yang dibagi dalam 61 kloter. Tetapi karena ada pembatalan, sekitar 3.000-an jemaah calon haji di Jawa Barat gagal berangkat. Hal serupa dialami jemaah calon haji dari wilayah lain.

Bagi jemaah calon haji yang sudah mempersiapkan diri lahir batin untuk menunaikan ibadah wajib ini, pembatalan itu memang sangat mengecewakan. (ELN/IVV)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Ketika Departemen "Korup" Mengelola Haji

·

Monopoli Haji dan Buruknya Pelayanan

·

Saatnya Privatisasi Urusan Haji

·

Itikad Baik Saja Tak Cukup

·

Kronologi Batalnya Kuota Tambahan Haji 2004

·

"Pemerasan" Calon Haji Dari Pamulang hingga Mekkah

·

Semarak di Asrama Haji

·

Kami Tunggu hingga Pemberangkatan Terakhir...

·

Tabung Haji Malaysia, Layanan Sosial yang Jadi Kekuatan Ekonomi

·

Menyiasati Dilema Kuota Haji

·

Kisruh Penyelenggaraan Haji



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS