Pengaruh Saham Bank Mandiri 0,14 Persen pada IHSG BEJ
Jakarta, Kompas - Setiap pergerakan naik atau turun sebesar satu poin (Rp 25) harga saham Bank Mandiri, akan memberikan pengaruh 0,14 persen terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ), dengan asumsi harga saham lainnya tidak berubah. Mencatatkan 20 miliar sahamnya dengan harga perdana Rp 675 per saham, kapitalisasi pasar saham Bank Mandiri senilai Rp 13,5 triliun atau empat persen dari total kapitalisasi pasar seluruh 336 saham di BEJ senilai Rp 336,65 triliun per tanggal 11 Juli 2003.
Demikian perhitungan simulasi BEJ yang dikemukakan Direktur Utama BEJ, Erry Firmansyah, dalam percakapan dengan Kompas, Jumat lalu, di Jakarta, mengenai peran Bank Mandiri setelah listing di BEJ, yang dijadwalkan Senin (14/7) ini.
Bank Mandiri yang juga akan mencatatkan sahamnya secara paralel di Bursa Efek Surabaya (BES), merupakan emiten ketiga yang masuk BEJ sampai Juli 2003. Bank Mandiri juga mencatatkan diri sebagai emiten dengan penawaran perdana kepada publik (initial public offering/IPO) terbesar di bursa saham tanah air sejak tahun 1996. Juga mencatat IPO bank terbesar di Asia, di luar Jepang.
Transparansi
Dengan bobot yang besar seperti itu, menurut Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Herwidayatmo, saham Bank Mandiri akan menjadi patokan (benchmark) di bursa saham nasional, khususnya bagi saham-saham perbankan.
Karena itu, Herwidayatmo mengharapkan Bank Mandiri menjadi pendatang baru yang akan memelopori pelaksanaan good corporate governance di lingkungan pasar modal. Manajemen Bank Mandiri, kata Herwidayatmo, diharapkan benar-benar memahami dan mematuhi regulasi yang ada di pasar modal, terutama soal transparansi dan keterbukaan informasi. "Supaya manfaat kehadiran Bank Mandiri di pasar modal benar-benar akan terasakan, bukan hanya oleh investor tetapi seluruh stakeholder bank ini," katanya.
Naik
Perkiraan analis menyebutkan, harga saham Bank Mandiri masih bisa meningkat di pasar sekunder dari harga perdananya. Itu karena harga penawaran Rp 675 terhadap nilai bukunya (price to book value/PBV) cukup rendah, yakni 1,08 kali. Padahal, rata-rata PBV saham BCA dan Danamon sekitar 1,4 kali. Apalagi bila mengingat banyaknya investor yang tidak kebagian saham di pasar perdana (penawaran dan penjatahan), diperkirakan mereka akan memburu saham Mandiri setelah listing.
"Di grey market saja harga saham Bank Mandiri sudah mencapai Rp 725 per saham. Persoalannya, apakah ada orang yang mau melepas sahamnya, lalu seberapa besar penawaran dibanding permintaan? Ya, kita lihat hari Senin saja...," ujar seorang eksekutif perusahaan efek yang memperkirakan saham Bank Mandiri bahkan bisa ditutup dengan kisaran harga Rp 750 per saham dalam perdagangan hari pertama, Senin ini.
Grey market adalah suatu pasar yang terbentuk di luar pasar resmi, yang biasanya terjadi antara masa penawaran dan penjatahan sampai saham tersebut dicatatkan dan diperdagangkan secara resmi di bursa.
Menurut analis perbankan, Mirza Adityaswara, jika dibandingkan saham Bank Mandiri dengan dengan bank-bank lainnya yang sudah listing, harga saham Bank Mandiri memang masih memungkinkan naik. Penetapan harga itu juga memberikan insentif bagi investor.
Direktur lembaga riset independen IBAS, Baradita Katoppo, mengingatkan investor bahwa meskipun saham Bank Mandiri bisa memberikan insentif dan capital gain, tetapi saham bank ini juga mengandung risiko-risiko, sebagaimana diutarakan dalam prospektus. Karena itu, investor pun harus membaca secara cermat prospektus, supaya memahami benar apa peluang dan risiko yang dihadapi investor jika membeli saham Bank Mandiri.
"Saya kira bukan hanya Bank Mandiri, semua saham mengandung peluang keuntungan dan risiko," katanya.
IHSG
Sementara itu, menjelang kehadiran saham Bank Mandiri di bursa, IHSG telah menembus level psikologis 524. Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG naik 6,442 poin ke posisi 524,688. Pekan ini, IHSG diperkirakan akan cenderung terus menguat.
Analis pasar modal dari Bhakti Capital, Budi Ruseno, mengatakan, ada dua hal yang membuat IHSG menguat akhir pekan lalu. Pertama, pencatatan saham Bank Mandiri. Kedua, karena selama dua pekan terakhir, IHSG sempat turun 4,7 persen, dari kenaikan di atas 30 persen dalam tiga bulan terakhir. "Wajar setelah terkoreksi, terjadi kenaikan, seiring penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia," katanya.
Menurut Budi, pasar dalam konsolidasi. Investor yang tidak kebagian saham Mandiri akan melihat potensi di pasar sekunder. Kalau para investor ini melihat sektor perbankan masih cukup baik, perburuan saham Bank Mandiri di pasar sekunder juga akan berdampak pada bank lain, seperti Bank NISP, BNI, dan Bank Panin.
Jika setelah Bank Mandiri listing IHSG terus menguat, titik resisten ada di posisi 540 dan titik support di posisi 523. Akan tetapi, kalau tidak mampu terus menguat karena adanya aksi ambil untung, titik support akan tetap di posisi 508 dan titik resisten tetap di posisi 523. (ANV/DIS)