Kompas Cyber Media
Ad Info | About Us | Contact Us
Kesehatan

Rubrik
Komunitas
Kolom
Surat Kabar
Majalah
CARI

Updated: Kamis, 18 Mei 2006, 13:34 WIB KESEHATAN



Berjuang Melawan Kanker Paru Stadium 4 ...
Mendapat Mukjizat Setelah Sempat Koma

Jakarta, Kamis

 
Kirim Teman | Print Artikel

Berita Terkait:

Berbagi untuk Melawan Kanker Payudara
Perjuangan Natarini Perangi Leukimia ...
Gito Rollies: Berjuang Melawan Kanker Limfoma

Meski sempat koma beberapa saat, Reshita Ambarsekar Ratri Astuti S.E (30) yang divonis kanker paru oleh dokter, tak patah semangat.

Kini, ibu satu anak yang tinggal di Yogyakarta ini ia sudah bisa bekerja lagi. Berikut kesaksian yang ia berikan untuk Anda, Pembaca Setia.

Tak seorang pun di dunia ini yang mau mengidap penyakit apa pun, terlebih penyakit kanker yang mengerikan itu. Tapi bila Anda divonis kanker, jangan pernah merasa dunia kiamat. Jangan pula merasa Allah sedang bertindak tak adil terhadap kita. Bersabarlah. Dengan bersabar dan berusaha berobat sebaik-baiknya, kita akan menemukan hikmah positif di balik cobaan itu.

Cobaan itulah yang sedang kualami saat ini. Aku adalah penderita kanker yang sudah merasakan semua hikmah di balik penyakitku. Salah satunya, Allah sayang sekali sama aku. Allah sedang mengingatkan aku melalui penyakit kanker di rongga paru. Istilah kedokterannya Hodghin Limphoma type Nodular Sclerosis stadium 4. Atau bahasa mudahnya, ada sel kanker liar di rongga paru yang sudah menyebar dari paru kiri ke kanan.

Selain itu, aku menjadi sadar, ternyata orang-orang di sekitarku sayang kepadaku. Ketika seseorang sakit, yang sakit bukan hanya yang bersangkutan, melainkan juga keluarganya. Terbukti suamiku, Agus Nazarudin, setiap saat selalu mendampingiku. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun.

Anakku, Daffa (3) juga penuh pengertian ketika ibunya sakit. Aku sempat terharu saat suatu hari Daffa mencari bapaknya hanya karena mau minum susu. "Bunda, kan, juga bisa membuatkan susu," kataku. "Bunda, kan, sakit," jawabnya. Aku terharu mendengarnya.

DADA SEPERTI DITUSUK

  • Sebelum terdeteksi kanker, sejak tahun 1999 hingga awal tahun 2000, aku sudah sering batuk dan sesak napas.

Bila batuk, dadaku sakit seperti ditusuk-tusuk. Penyakit ini tak kunjung sembuh meski aku sudah ke dokter. Waktu itu, aku sudah bekerja sebagai sekretaris di program Magister Manajemen sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Suatu hari aku berobat ke ke dokter spesialis paru-paru dan pernapasan. Rupanya dokter detail sekali menanyakan hal-hal yang menurut dokter mencurigakan. Mungkin mengira aku menderita tubercolosis, dokter menyarankan aku dirongent.

Lain hari aku datang lagi menyerahkan hasil rongent. Tak kuduga dokter langsung menyuruhku segera opname. Awalnya aku masih takut. Dokter membujukku karena TBC-ku negatif. Aku menyerah. Dokter segera melakukan bronscoscopy untuk mengambil jaringan di dalam dadaku. Selanjutnya dibiopsi. Hasilnya aku terdekteksi Hodghgin limphoma stadium 4.

Dokter memintaku untuk menjalani kemoterapi. Aku menjalaninya tanpa rawat inap. Setelah dikemoterapi, aku langsung pulang ke rumah. Begitulah, aku terus melakukan pengobatan sampai selesai paket kemoterapi. Kupikir semua akan segera berlalu dan selesailah pengobatan. Apalagi aku sudah merasa baikan dan tidak batuk-batuk lagi.

Penyakitku ini juga kuceritakan kepada seorang pemuda yang waktu itu baru kukenal. Kami bertemu April tahun 2001. Kala itu, pemuda bernama Agus yang kini jadi suamiku, sedang menempuh pendidikan di tempatku. Pertemuan pertama membuat kami saling jatuh hati. Tanpa melalui proses pacaran, pemuda itu mengajakku menikah.

Nah, saat itulah kuutarakan bahwa aku pernah punya kanker, tapi penyakitku sudah dinyatakan bersih. "Setiap penyait pasti ada obatnya. Allah pasti memberi jalan," jawab Agus. Tenteram aku mendengarnya.

Rupanya orang tua kami juga sama-sama merestui. Bulan Juli,Mas Agus bersama orangtuanya melamarku. Januari 2002 kami menikah tanpa proses pacaran. Prinsip kami menikah dulu baru pacaran.

KELUAR MASUK RUMAH SAKIT

  • Alhamdulillah selama aku hamil, penyakitku tak kambuh sama sekali. Aku pun sangat bahagia ketika anakku lahir normal dan sehat. Beratnya 3,36 kg. Dia kami beri nama Mohammad Rizki Ramadhani Anansa Daffa.

Akan tetapi, kondisiku drop. Makanya, aku hanya sempat memberi ASI selama sebulan. Kupikir, mungkin aku kehabisan tenaga usai melahirkan. Aku kembali ingat pada penyakitku. Tapi, aku tak berani periksa dokter. Takut dikemoterapi lagi. Sebab, kemoterapi memang enggak enak. Aku tidak ada nafsu makan, radang, menelan makanan susah, dan rambut rontok.

Kuputuskan untuk mencari second opinion. Aku diperiksa ulang lagi. Ternyata penyakit lamaku kambuh. Sebentar-sebentar pilek dan tak enak badan. Aku kembali menjalani perawatan dokter. Akan tetapi, aku tetap belum berani kemoterapi. Selama dalam masa perawatan dokter, aku keluar- masuk rumah sakit untuk opname. Kalau sudah begitu, aku, suami dan anak biasa tidur di rumah sakit.

Lalu, pada bulan April 2004, aku mencoba berobat ke RS Mount Elizabeth, Singapura. Segala catatan rekam medis selama berobat kubawa serta. Di Singapura, aku ditangani oleh ahli onkologist, Dr Joanna Lin. Setelah cek kesehatan, Dr Joanna malah meragukan hasil rekam medis yang kubawa dari Indonesia. Aku dirujuk ke ahli paru. Dokter bilang, aku harus dibiopsi dan broncoscopy ulang.

Aku takut bukan kepalang karena harus dibiopsi dan kemoterapi ulang. Hanya tiga hari di sana, aku kembali ke Indonesia. Kali ini aku berobat alternatif lagi di Jakarta. Sampai colone cleansing pun kulakukan. Hasilnya, aku malah jadi kurang gizi. Yang terakhir, aku malah menjalani pengobatan cuci usus.

Kondisi ini membuatku menyerah. November 2004 aku sudah tak beradaya lagi. Akhirnya, aku menyerah dan kembali berobat ke RS Dr Sardjito, Yogyakarta. Awalnya aku harus opname untuk memperbaiki gizi.

TERGOLEK KOMA

  • Aku kembali harus dikemoterapi Januari 2005. Kali ini aku menjalani delapan paket kemoterapi. Setiap paket selisih 21 hari.

Agar hasilnya baik dan cepat, dokter memilihkan obat terbaik. Sayang, kondisiku tak kuat. Akibatnya malah menimbulkan infeksi saluran kemih. Kembali aku diopname untuk meyembuhkan penyakit baru ini sekitar delapan hari.

Pada kemo ke-5, tiba-tiba suhu badanku tinggi hingga 41 derajat. Tensinya 60/30. Aku dilarikan ke rumah sakit lain karena kamar di RS Dr Sardjito penuh. Aku tergolek koma. Sayup-sayup kudengar perawat mengatakan pada suamiku, "Pak, nanti kalau ada apa-apa diikhlaskan saja."

Perawat pun memanggil rohaniawan untuk mendoakan aku. Aku merasa banyak orang berada di sisiku. Namun, aku lemah tak berdaya apa pun. Aku dituntun untuk zikir. Mendengar doa-doa berkumandang, aku jadi bertanya-tanya, apa iya aku akan segera dipanggil Allah. Padahal aku merasa masih kuat untuk hidup. Aku cuma lemah fisik saja.

Aku lalu berdoa di dalam hati. "Ya Allah, beri kesempatan padaku untuk hidup lagi. Untuk berbuat baik dan beramal lebih banyak." Allah sangat luar biasa. Pelan-pelan kondisiku membaik. Bahkan, aku sudah sadar, tak lagi koma. Aku merasa mendapat mukjizat. Setelah itu, rupanya mata kiriku terganggu. Mungkin karena kekebalan tubuhku lemah, ada virus herpes yang masuk ke tubuh. Yang diserang mata kiriku. Akibatnya, aku tidak bisa melihat. Kena sinar matahari sakit bukan kepalang.

Aku dilarikan ke RS Mata Dr Yap. Alhamdulillah sekarang sudah agak baikan. Aku bisa meneruskan paket kemoterapi. Sayangnya setiap kali habis kemoterapi sel darah putih dan trombosit pasti turun drastis. Jadi, harus disuntik lekokin untuk menaikkan sel darah putih. Kemoterapi terakhir kulakukan November 2005. Kali ini badanku jadi gemuk akrena obat-obatan. Ada juga efek samping, kulit tubuhku menghitam akibat terbakar reaksi obat-obatan.

SUDAH ENAK MAKAN

  • Pascakemoterapi aku melakukan cek kesehatan. Hasilnya, penyebaran sel di paru kanan sudah tidak ada lagi, sedangkan yang kiri masih tetap ada.

Jadi, sekarang ini aku masih menjalani penyinaran setiap hari. Kata dokter harus 25 kali. Setiap lima kali sinar, diobservasi lagi. Harapan dokter, setelah itu sudah sembuh. Menurut dokter, kemungkinan sembuh dari penyakitku ini memang besar. Masih kata dokter, di Indonesia tak banyak orang yang menderita penyakit sepertiku.

Oh ya, sejak sakit-sakitan, aku sudah keluar dari pekerjaanku. Agar tak terus-terusan memikirkan penyakit, sejak April lalu suami membukakan toko komputer untukku di Jalan Kaliurang. Toko ini cabang toko komputer kami sebelumnya di lain tempat. Aku biasa berkantor sampai sore. Untuk pekerjaan ini aku tidak ngoyo. Sekadarnya saja.

Aku memang harus menuruti nasihat dokter. Dokter Yusrizal, ahli paru dan pernapasan yang merawatku, berpesan agar aku tidak boleh kecapean. Beliaulah yang selalu memberi semangat dan menenangkanku. Beliau tidak pelit memberi penjelasan-penjelasan seputar penyakitku. Aku senang beliau amat kebapakkan.

Begitulah. Kini aku selau berdoa agar penyakitku benar-benar sembuh dan bisa menunggui anakku tumbuh besar hingga akhir hayatku.

Kondisiku sudah membaik. Sekarang ini sudah tidak sesak napas lagi. Makan sudah bisa merasakan enak. Untuk menelan juga sudah tidak sakit.

Demikianlah, semua ini kuceritakan agar apabila ada yang bernasib sepertiku, jangan pernah berputus asa. Kita tidak sendirian. Yang penting bagaimana mensyukuri kesehatan kita hari ini. Salam dari Yogyakarta.  (Nova)

Komentar Anda:

Nama:   Email:
Komentar:


Lihat Komentar:

Berita Lain

18/05/2006, 10:27 wib
Pekerja Jepang Tidak Sempat Bernapas
18/05/2006, 10:15 wib
Diana Pungki: Program Sabtu-Minggu
17/05/2006, 20:13 wib
"Manusia Malam", Kulit Putih & Rambut Lurus (Australia, Kanada, Jepang)






Dapatkan berita KCM melalui: SMS - WAP/GPRS
Tampilan terbaik dengan browser IE 5,5 atau lebih
Design By KCM Copyright @ PT. Kompas Cyber Media