Adegan Esek-esek Film "The Wayward Cloud" Lolos Sensor
Taipei, Kamis
Menyajikan tubuh telanjang dengan jelas dan adegan-adegan seks oral secara terang-terangan, film Taiwan The Wayward Cloud ternyata lolos dari gunting sensor di negara tersebut. Hal itu membuat kaget Tsai Ming-liang, sutradaranya.
Film itu akan dipertontonkan lengkap pada pemutaran perdananya di Taiwan, Jumat (18/3).
"Saya kira film itu akan dilarang diputar. Sebagian dari diri saya menginginkannya dilarang, sehingga akan menjadi bahan pembicaraan," kata Tsai kepada Reuters dalam sebuah wawancara baru-baru ini, masih dalam minggu ini. "Saya ingin karya-karya saya dibicarakan," tambahnya.
Film baru Tsai tersebut berkisah tentang seorang pria bintang film porno yang harus memilih rekan seprofesinya atau kekasihnya untuk diajak hidup bersama. Pada Berlin International Film Festival 2005, Februari lalu, film itu meraih penghargaan Beruang Perak (Silver Bear) untuk pencapaian artistiknya.
Namun, di negara asalnya, film tersebut menimbulkan kontroversi dan membuat lembaga sensor pemerintahnya pusing tujuh keliling.
"Masyarakat kini lebih terbuka. Sebagian besar anggota komite peninjau film itu merasa bahwa ekspresi artistik sang sutradara harus dihargai," kata seorang pejabat Kantor Penerangan Pemerintah Taiwan.
Di Taiwan, film tak diizinkan menampilkan adegan-adegan seks atau tubuh telanjang, kecuali jika semua itu dinilai penting berkait dengan plot.
Tsai telah bersikeras, ia tak akan merilis film tersebut jika pemerintahnya menggunting adegan-adegan seks dalam film itu. Namun, sembilan dari 15 anggota komite tersebut akhirnya meloloskan film itu tanpa guntingan. Tapi, tentu saja, film tersebut hanya boleh ditonton oleh mereka yang berusia dewasa.
"Sejumlah orang mengatakan bahwa sepertinya saya senang memanas-manasi penonton saya," ucapnya lagi di studionya yang berantakan di pinggiran Taipei. "Bagi saya, terprofokasi adalah juga sebuah reaksi. Saya ingin mereka merespon film-film saya, apakah mereka dipanas-panasi, tergerak, merasa tak nyaman atau lega," sambungnya.
"Saya tidak ingin mereka hanya terhibur atau menjadi santai seperti ketika mereka menonton kebanyakan film dan bahkan tak ingat film apa yang mereka tonton kemarin," lanjut Tsai, yang duduk di depan sebuah poster besar yang menampilkan adegan seks oral film itu.
Kisah Tsai, The Wayward Cloud, yang diambil dari judul sebuah lagu 1960-an, terinspirasi oleh tumbuhnya keterbukaan mengenai seks di Taiwan dan mengeksplorasi apakah orang-orang masih percaya akan cinta.
"Sejumlah orang mengatakan bahwa mereka lebih memilih menonton sebuah film porno ketimbang The Wayward Cloud. Haruskah saya peduli? Haruskah saya marah?" keluhnya.
Para kritikus menilai film-film Tsai terlalu minimalis dan kurang naratif, sehingga kurang diminati secara luas. Seperti film-film Tsai yang lain, The Wayward Cloud tak memakai banyak percakapan dan menampilkan aktor Lee Kang-sheng, pendukung Tsai.
Sutradara berusia 47 tahun menggebrak panggung film dunia pada 1994 dengan film Vive L’amour, yang memenangi sebuah penghargaan Singa Emas (Golden Lion) di Venice Film Festival. Pada 1996 filmnya yang lain, The River, meraih sebuah penghargaan Beruang Perak pada Berlin International Film Festival.
Namun, di tanah airnya, ia tidak pernah menggondol penghargaan dari Golden Horse Festival, Academy Awards versi sinema Cina.
"Orang-orang terbiasa takut terhadap film-film Tsai Ming-liang, mereka mengatakan saya hanya membuat film-film untuk memenangi penghargaan di tengah penonton barat. Banyak orang membanci film-film saya bahkan tanpa menonton satupun," ucapnya.
"Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa masyarakat beragam, tapi kita memilih untuk mengorbankan keragaman dan menjadi sama. Kita tak tahu, untuk berapa banyak hal kita sudah berkorban dalam hidup ini," tutupnya. (Rtr/Ati)
|